Mencari Asa di Kota Pelajar: Generasi Muda Madesu di Jogja

Oleh: Moch Edward Trias Pahlevi (Founder Muda Bicara ID)

ilustrasi Kota Pelajar (Pexels)

Akhir-akhir ini jagat publik media sosial dikejutkan dengan berita-berita mengenai terjadinya tawuran antar pelajar di Kota Yogyakarta. Kejadian ini seperti hal yang lumrah ketika euforia kelulusan sekolah, khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA). Kasus tawuran beberapa hari yang lalu bukan kali pertama terjadi, tetapi sepertinya telah menjadi agenda rutin tahunan setiap momen kelulusan. Akan tetapi, beberapa bulan yang lalu juga masih terdengar adanya kejadian klitih di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Istilah ‘klitih’ yang ramai diperbincangkan tentunya mencoreng nama Yogyakarta sebagai kota yang ramah, kota pelajar, dan kota wisata. Fenomena ini memunculkan rasa takut, geram, heran, dan mengagetkan bagi pendatang yang mendengar fenomena Jogja dari sisi yang berbeda.

Kekerasan di jalanan ataupun tawuran pelajar menjadi sebuah keresahan yang terakumulasi membentuk perasaan tidak aman bagi masyarakat di Jogja, terlebih berita klitih beberapa waktu lalu mengakibatkan korban meninggal dunia. Di sisi lain, juga menjadi kekhawatiran bagi kita semua mengenai masa depan generasi muda di Jogja yang seakan menjadi suram.

Fenomena kekerasan yang berulang seperti ini tentu akan merugikan Jogja sebagai kota pariwisata dan pelajar. Keresahan tersebut disuarakan melalui media sosial, salah satunya di platform X, dan bahkan sempat memasuki trending topic teratas di Indonesia. Dilansir dari media Suara Jogja, terpantau ada lebih dari 18 ribu cuitan yang memuat kata Jogja dan 9 ribu di antaranya membahas keresahan serta keprihatinan masyarakat atas fenomena klitih. Tidak sedikit juga masyarakat yang beropini bahwa Jogja tidak lagi menjadi kota yang aman bagi para penghuninya.

Kasus Kekerasan di Jogja

Kasus kekerasan jalanan di Daerah Istimewa Yogyakarta yang kita kenal dengan sebutan klitih mengalami peningkatan yang tajam pada tahun 2021 dengan angka 11,54%. Secara rinci, pada tahun 2020 mencapai angka 52 kasus dengan jumlah pelaku yang telah ditangkap sebanyak 91 orang. Selanjutnya, meningkat menjadi 58 kasus dengan 102 pelaku. Di tahun 2022, kejadian kekerasan mengalami penurunan sekitar 12 kali aksi menurut informasi yang dikutip dari Jogja Police Watch (JPW). Peristiwa yang menggemparkan masyarakat Yogyakarta ini dialami oleh seorang siswa sekolah menengah yang merupakan anak dari anggota DPRD Kebumen, Madkhan Anis, pada 3 April 2022. Korban mengalami peristiwa nahas tersebut ketika tengah mencari makan sahur. Dikutip dari Kompas.com (5/4/2022), siswa yang menjadi korban pun akhirnya harus meregang nyawa saat sedang dibawa ke rumah sakit terdekat. Mulanya, korban yang sedang mencari sahur dengan temannya diprovokasi oleh pelaku yang berjumlah kurang lebih lima orang. Kemudian, korban dan temannya mengejar pelaku. Hingga akhirnya saat berpapasan, pelaku melesakkan gir motor sebagai senjata yang mereka gunakan. Kasus ini pada akhirnya viral di media massa, terutama Twitter. Pada tahun 2023, yang dicatat oleh Jogja Police Watch Kr Online.com (01/01 2024), mencatat sekitar 12 kali kejadian di Jogja.

Kasus-kasus kekerasan ini tentu merugikan bagi citra dan nama baik Jogja itu sendiri, yang menyandang kota berhati nyaman, kota pelajar, kota wisata, kota toleransi, dan kota budaya. Terciderai dengan fenomena kasus-kasus kekerasan di jalannya dan viral di media sosial. Tentu ini menjadi ketakutan tersendiri bagi pendatang yang ingin berkuliah di Jogja.

Kekerasan dan Frustrasi Generasi Muda Jogja

Penulis menuliskan opini ini berangkat dari apa yang penulis amati dan bertemu dengan beberapa generasi muda di lingkungan tempat penulis tinggal saat ini. Persoalan ini juga perlu dilihat dari sisi psikologis dalam melihat fenomena kekerasan di jalanan ini. Penulis memandang bahwa transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa pada masa remaja adalah salah satu masa yang paling penting. Anak-anak mulai melihat masa depan dalam hal karier, hubungan, dan lainnya. Individu ingin menjadi bagian dari masyarakat dan menyesuaikan diri mereka dengan lingkungannya.

Fenomena kekerasan ini penulis kutip dari teori yang dijelaskan oleh Erikson di dalam jurnal yang ditulis oleh Perry (1992) mengenai tahapan perkembangan psikososial. Teori ini menjelaskan tahap perkembangan Identity vs Confusion yang terjadi pada rentang usia 10-23 tahun. Teori tersebut sepertinya relevan dengan para pelaku kekerasan, baik klitih maupun tawuran pelajar yang kebanyakan merupakan anak muda (Gen Z). Selama masa remaja, individu menghadapi permasalahan dalam menemukan “siapa” mereka, tentang dan ke mana mereka akan pergi dalam hidup. Kebingungan-kebingungan ini menjadi salah satu dasar mereka mencari pelampiasan melalui jalanan jika tidak mampu tersalurkan dengan baik. Jika remaja mengeksplorasi peran dengan cara yang sehat dan sampai pada jalan positif untuk diikuti dalam hidup, mereka akan mencapai identitas positif; jika tidak, kebingungan terhadap identitas mereka akan memburuk.

Penulis bertemu dengan beberapa anak muda yang juga terlibat dalam kegiatan klitih maupun tawuran pada saat di sekolah. Saya melihat bahwa mereka bukan anak yang tidak pintar alias bodoh, mereka anak yang cerdas dan juga kreatif sebenarnya. Namun dalam pengamatan penulis, mereka mengalami kebingungan dan frustrasi ketika mendekati masa kelulusan sekolah dan dihadapkan pada keinginan untuk melanjutkan studi, tetapi biaya untuk kuliah mahal jika tidak masuk negeri. Sedangkan tidak semua pelajar Jogja tertampung di negeri, maka beralih ke kampus-kampus swasta. Dengan kondisi keuangan keluarga yang tidak memungkinkan, kerap merasa frustrasi karena keinginan mereka tidak terakomodir.

Bisa dibayangkan setiap tahunnya banyak anak muda yang baru lulus SMA/SMK berdatangan ke wilayah Jogja untuk bersekolah. Sedangkan anak muda asli Jogja masih mengalami kebingungan untuk dapat melanjutkan studi, dengan berbagai persoalan salah satunya biaya kuliah yang mahal dan pekerjaan untuk lulusan SMA sangat minim dan cenderung serabutan yang itu tidak dikehendaki oleh mereka.

Bisa dibayangkan mereka hidup di wilayah yang kiri kanannya membicarakan persoalan akademik yang tinggi sedangkan mereka diterpa kebingungan apakah dapat melanjutkan kuliah atau tidak. Tentu persoalan ini berbeda dengan wilayah lainnya di mana Jogja menjadi tempat yang dikunjungi oleh banyak anak muda dari berbagai daerah yang akan bersekolah. Secara psikologis tentu berbeda, mereka bukanlah bodoh tetapi dihadapkan persoalan struktural yang berakibat pupusnya harapan masa depan.

Argumentasi penulis ini mungkin tidak bisa diklaim menjadi penyebab utama kekerasan di Jogja. Tentu perlu dialog dan perdebatan yang panjang. Akan tetapi, argumentasi ini berangkat dari apa yang penulis lihat dan temui di lapangan. Kadang kala penulis tidak setuju dengan cara generalisasi pemangku kebijakan yang melihat fenomena kekerasan jalanan di Jogja ini sebatas kenakalan remaja semata. Akan tetapi, ada persoalan struktural yang seakan pemerintah abai terhadap hal ini. Persoalan struktural ini menjadi tanggung jawab pemerintah agar generasi muda Jogja memiliki harapan masa depan yang cerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *