Ketika Notifikasi Mengendalikan Kebiasaan
Oleh: Gestrya Aura Rahma Sebayang (Mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Surabaya)

Pernahkah kita berniat membuka ponsel hanya untuk membalas satu pesan, tetapi akhirnya justru menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat berbagai konten di media sosial? Atau pernahkah kita langsung mengambil ponsel ketika mendengar suara notifikasi, meskipun sebenarnya tidak sedang menunggu pesan dari siapa pun? Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat sederhana dan sering dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, ada proses psikologis yang menarik di balik perilaku tersebut.
Media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat, terutama kalangan remaja dan mahasiswa. Melalui media sosial, seseorang dapat berkomunikasi, mencari informasi, memperoleh hiburan, hingga mengikuti perkembangan lingkungan sekitarnya. Meskipun memberikan banyak manfaat, penggunaan media sosial juga dapat membentuk kebiasaan yang terkadang dilakukan secara otomatis. Salah satu cara untuk memahami fenomena tersebut adalah melalui teori pengondisian klasik yang dikembangkan oleh Ivan Pavlov.
Dari Bunyi Lonceng hingga Notifikasi Ponsel
Nama Ivan Pavlov sering dikaitkan dengan eksperimennya terhadap anjing. Pada awalnya, Pavlov meneliti proses pencernaan dan mengamati respons air liur anjing ketika makanan diberikan. Ia kemudian menemukan bahwa anjing tidak hanya mengeluarkan air liur ketika melihat atau mencium makanan, tetapi juga dapat memberikan respons terhadap tanda-tanda yang sebelumnya berkaitan dengan pemberian makanan.
Dalam eksperimennya, Pavlov memasangkan bunyi tertentu dengan pemberian makanan secara berulang. Pada awalnya, bunyi tersebut tidak secara alami menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Namun, setelah bunyi dan makanan dipasangkan berulang kali, anjing mulai mengeluarkan air liur ketika mendengar bunyi tersebut, bahkan sebelum makanan diberikan. Proses belajar melalui hubungan antara stimulus inilah yang dikenal sebagai classical conditioning atau pengondisian klasik (Pavlov, 1927).
Jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat gambaran yang mirip pada penggunaan ponsel. Bunyi notifikasi pada awalnya mungkin hanya dianggap sebagai suara biasa. Namun, jika suara tersebut berulang kali diikuti oleh pesan dari teman, kabar menarik, komentar, atau informasi yang ditunggu, seseorang dapat mulai mengaitkan bunyi tersebut dengan sesuatu yang menyenangkan atau penting.
Akibatnya, ketika notifikasi berbunyi, seseorang mungkin langsung merasa penasaran dan terdorong untuk membuka ponselnya. Respons ini tidak selalu muncul karena orang tersebut benar-benar membutuhkan ponselnya pada saat itu. Bisa jadi, respons tersebut terbentuk karena pengalaman sebelumnya yang membuat bunyi notifikasi terasa bermakna.
Mengapa Kita Sering Spontan Membuka Media Sosial?
Salah satu hal yang menarik dari penggunaan media sosial adalah munculnya kebiasaan membuka aplikasi tanpa tujuan yang jelas. Seseorang mungkin sedang mengerjakan tugas, membaca buku, atau berbicara dengan teman. Tiba-tiba, ia mengambil ponsel, membuka media sosial, lalu melihat berbagai konten meskipun tidak ada keperluan mendesak.
Kebiasaan tersebut tentu tidak selalu disebabkan oleh pengondisian klasik. Perilaku manusia dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kebiasaan yang telah terbentuk, lingkungan, kebutuhan sosial, emosi, dan kemampuan mengendalikan perhatian. Namun, teori Pavlov dapat membantu menjelaskan salah satu proses yang mungkin berperan, yaitu hubungan antara tanda tertentu dan respons yang dipelajari.
Misalnya, seseorang terbiasa membuka media sosial setiap kali mendengar suara notifikasi. Setelah pengalaman tersebut terjadi berulang kali, suara notifikasi dapat menjadi tanda yang memicu perhatian dan rasa ingin tahu. Bahkan, ketika ponsel hanya menyala atau seseorang melihat ikon aplikasi di layar, ia mungkin langsung teringat untuk membuka aplikasi tersebut.
Dalam konteks ini, berbagai tanda di sekitar kita dapat memiliki makna berdasarkan pengalaman sebelumnya. Bunyi notifikasi, tampilan layar, atau kebiasaan melihat ponsel pada waktu tertentu dapat menjadi isyarat yang berkaitan dengan pengalaman menggunakan media sosial.
Meskipun demikian, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa semua perilaku membuka media sosial merupakan hasil pengondisian klasik. Dalam banyak situasi, seseorang juga membuka aplikasi karena sengaja ingin berkomunikasi, mencari informasi, atau mengisi waktu luang. Teori Pavlov membantu menjelaskan sebagian proses belajar, bukan seluruh alasan seseorang menggunakan media sosial.
Pengaruhnya terhadap Kehidupan Mahasiswa
Bagi mahasiswa, media sosial dapat menjadi sarana yang bermanfaat untuk mendukung kegiatan akademik maupun kehidupan sosial. Mahasiswa dapat mengakses informasi perkuliahan, berdiskusi dengan teman, mencari referensi, serta mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Namun, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol juga berpotensi mengganggu konsentrasi dan pengelolaan waktu.
Bayangkan seorang mahasiswa sedang mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan pada hari berikutnya. Ia meletakkan ponsel di samping laptop. Ketika layar ponsel menyala, perhatiannya langsung teralihkan. Ia membuka notifikasi, membaca pesan, lalu memeriksa media sosial. Awalnya, ia hanya berniat melihat sebentar. Namun, berbagai konten yang muncul membuatnya terus melanjutkan aktivitas tersebut.
Ketika kembali mengerjakan tugas, mahasiswa itu mungkin membutuhkan waktu untuk memusatkan perhatian lagi. Jika kejadian yang sama berulang, proses mengerjakan tugas dapat menjadi kurang efektif. Dalam situasi seperti ini, masalahnya bukan semata-mata karena mahasiswa tidak memiliki niat untuk belajar, melainkan juga karena lingkungan menyediakan banyak stimulus yang menarik perhatian.
Dari sudut pandang Pavlov, pengalaman berulang dapat membuat tanda tertentu memiliki hubungan dengan respons yang dipelajari. Ketika seseorang terbiasa memeriksa ponsel setiap kali mendengar notifikasi, bunyi tersebut dapat menjadi isyarat yang memunculkan dorongan untuk memeriksa ponsel kembali.
Namun, teori pengondisian klasik perlu dibedakan dari pengondisian operan yang dikembangkan lebih lanjut oleh B. F. Skinner. Jika seseorang terus membuka media sosial karena aktivitas itu menghasilkan pengalaman yang menyenangkan, memperoleh respons dari teman, atau memberikan kepuasan tertentu, konsekuensi dari perilaku tersebut juga dapat berperan dalam mempertahankan kebiasaan. Jadi, perilaku penggunaan media sosial dapat dipahami melalui beberapa proses belajar yang saling berkaitan, bukan hanya satu teori.
Membentuk Kebiasaan Digital yang Lebih Sehat
Jika lingkungan dan pengalaman dapat membentuk kebiasaan, berarti kita juga dapat berusaha mengatur lingkungan agar mendukung perilaku yang lebih bermanfaat. Pemahaman terhadap teori Pavlov dapat menjadi salah satu dasar untuk mengenali hubungan antara stimulus dan respons dalam penggunaan ponsel.
Langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menonaktifkan notifikasi yang tidak penting. Dengan mengurangi bunyi atau tanda yang sering memicu perhatian, seseorang dapat mengurangi gangguan ketika sedang belajar. Ponsel juga dapat diletakkan di tempat yang tidak mudah dijangkau saat mengerjakan tugas agar perhatian tidak terus-menerus tertuju pada layar.
Selain itu, mahasiswa dapat membangun rutinitas belajar yang lebih konsisten. Sebagai contoh, mahasiswa dapat menentukan waktu khusus untuk mengerjakan tugas dan waktu tertentu untuk memeriksa media sosial. Dengan cara ini, penggunaan media sosial tidak harus dihentikan sepenuhnya, tetapi ditempatkan sesuai kebutuhan.
Kita juga dapat mencoba mengubah hubungan antara aktivitas belajar dan pengalaman sehari-hari. Belajar di tempat yang nyaman, menyiapkan perlengkapan sebelum mulai, dan memberikan waktu istirahat yang cukup dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih mendukung. Walaupun langkah-langkah ini tidak secara otomatis menghapus kebiasaan lama melalui pengondisian klasik, pengaturan lingkungan dapat membantu seseorang mengelola perhatian dan perilakunya.
Hal yang tidak kalah penting adalah mengenali alasan di balik keinginan membuka media sosial. Apakah kita benar-benar ingin membalas pesan? Apakah ada informasi yang perlu diperiksa? Atau kita hanya membuka aplikasi karena sudah terbiasa melakukannya? Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang menyadari perilakunya sebelum bertindak.
Kesadaran ini penting karena manusia bukan sekadar makhluk yang memberikan respons secara otomatis terhadap lingkungan. Manusia juga memiliki kemampuan untuk mengevaluasi kebiasaan, mempertimbangkan tujuan, dan mengambil keputusan. Teori Pavlov membantu menjelaskan bagaimana respons dapat dipelajari, tetapi tidak berarti seluruh perilaku manusia sepenuhnya dikendalikan oleh stimulus dari luar.
Memahami Perilaku Manusia di Era Digital
Pemikiran Ivan Pavlov tetap relevan untuk memahami berbagai fenomena dalam kehidupan modern. Meskipun eksperimennya dilakukan jauh sebelum munculnya internet dan media sosial, prinsip belajar melalui hubungan ant stimulus memberikan sudut pandang untuk melihat bagaimana pengalaman dapat memengaruhi respons seseorang terhadap lingkungannya.
Notifikasi ponsel merupakan contoh sederhana tentang bagaimana tanda yang awalnya biasa dapat menjadi bermakna setelah berulang kali dikaitkan dengan pengalaman tertentu. Namun, pengaruh media sosial terhadap perilaku manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan antara bunyi dan respons. Faktor sosial, emosi, kebutuhan akan informasi, serta kebiasaan sehari-hari juga perlu dipertimbangkan.
Sebagai mahasiswa Psikologi, memahami fenomena ini dapat menjadi pengingat bahwa perilaku yang tampak sederhana sering kali memiliki proses belajar di belakangnya. Kebiasaan membuka ponsel, misalnya, bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga berkaitan dengan cara seseorang berinteraksi dengan lingkungan dan membentuk pola perilaku.
Pada akhirnya, tantangan di era digital bukan sekadar menjauhkan diri dari media sosial, melainkan memahami bagaimana teknologi memengaruhi kebiasaan kita. Dengan mengenali stimulus yang sering mengalihkan perhatian dan memahami respons yang telah terbentuk, kita dapat mulai mengatur penggunaan media sosial secara lebih bijak.
