Membongkar Bias Algoritma di Balik Penyebaran Disinformasi

Oleh: Fatia Salma Fiddaroyni

Ilustrasi Media Sosial (Sumber: Google)

Sudah menjadi pengetahuan publik bahwa media sosial telah menyelubungi hampir seluruh lapisan masyarakat. Lebih jauh, media sosial menjadi salah satu sumber informasi utama bagi masyarakat, karena kemudahan akses dan kedekatannya yang hanya membutuhkan perangkat gawai. Meskipun demikian, media sosial tidak lepas dari tantangan serius, salah satunya adalah penyebaran disinformasi.

Konten-konten yang menyesatkan, dengan judul-judul menghebohkan yang menarik perhatian publik, cenderung mengalahkan konten berita yang lebih akurat. Salah satu faktor utama yang berkontribusi pada fenomena ini adalah algoritma yang digunakan oleh platform media sosial. Secara singkat, algoritma dapat dipahami sebagai spesifikasi urutan untuk menggerakkan pekerjaan tertentu (Utami & Sukrisno, 2005: 20). Hal ini menyebabkan konten yang bersifat clickbait, yang sering mengandung informasi menyesatkan, mendapatkan lebih banyak interaksi dan perhatian, sehingga menciptakan siklus di mana disinformasi terus menyebar dan memperburuk krisis kepercayaan publik terhadap sumber informasi yang ada.

Algoritma ini dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna dengan menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi dan minat mereka. Sayangnya, pendekatan ini dapat menyebabkan terjadinya bias, di mana konten yang sensasional dan kontroversial mendapatkan lebih banyak perhatian dibandingkan dengan informasi yang benar. Hal ini tidak hanya mempengaruhi cara pengguna menerima informasi, tetapi juga dapat memperburuk polarisasi di masyarakat, menciptakan ‘echo chambers’ yang memperkuat pandangan ekstrem (Rozi, 2023: 234). Sebenarnya, bagaimana algoritma ini bekerja? Mengapa konten tertentu lebih sering muncul daripada yang lain?

Algoritma Media Sosial

Algoritma media sosial digunakan untuk menyusun urutan konten yang muncul pada feed pengguna. Algoritma bekerja dengan mengumpulkan data pengguna, seperti preferensi dan perilaku online, lalu menggunakan data tersebut untuk menentukan konten mana yang harus ditampilkan dan diurutkan dalam feed pengguna. Dalam hal ini, algoritma media sosial dapat mempengaruhi cara orang melihat dunia dan bagaimana mereka berinteraksi dengan konten serta orang di platform media sosial.

Namun, meskipun algoritma media sosial dirancang untuk memperbaiki pengalaman pengguna, algoritma ini sering kali dipermasalahkan karena memicu efek filter gelembung dan membatasi keragaman konten yang dilihat pengguna. Filter gelembung adalah fenomena di mana algoritma media sosial memperkuat pandangan dan kepercayaan yang ada, sehingga pengguna hanya melihat konten yang sejalan dengan pandangan mereka sendiri. Ini dapat memicu konfirmasi bias dan menghalangi pengguna untuk mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda (Kristiawan dkk., 2023: 8).

Pada gilirannya, hal ini dapat menyebabkan polarisasi dan konflik dalam masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana algoritma media sosial bekerja, serta bagaimana algoritma ini mempengaruhi apa yang kita lihat di fyp media sosial. Dengan memiliki kesadaran akan mekanisme ini, pengguna dapat lebih kritis dalam menyaring informasi dan memperluas perspektif mereka, yang dapat membantu mengurangi dampak negatif dari disinformasi. Jika tidak, dampaknya akan sangat serius, tidak hanya di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata.

Dampak Disinformasi dan Polarisasi Masyarakat

Penyebaran disinformasi melalui media sosial tidak hanya mengganggu pemahaman masyarakat terhadap fakta, tetapi juga berkontribusi pada polarisasi yang serius, baik di kalangan individu maupun kelompok. Ketika pengguna hanya terpapar pada konten yang sejalan dengan pandangan mereka, berkat algoritma yang menyaring informasi, mereka cenderung mengambil sikap yang lebih ekstrem dan menjadi tidak toleran terhadap perspektif yang berbeda.

Fenomena semacam ini dikenal sebagai confirmation bias, di mana individu mencari, menginterpretasi, dan mengingat informasi yang mendukung kepercayaan mereka yang sudah ada. Alih-alih menerima fakta, mereka malah mengingkarinya dengan sistem keyakinan fanatisme mereka sendiri, seperti yang banyak terjadi dalam post-truth politics dewasa ini. Confirmation bias seseorang dapat dibongkar dengan menunjukkan logika dan bukti lewat argumentasi rasional (Hardiman, 2023: 166).

Penyebaran informasi yang tidak berimbang atau hanya menampilkan satu sudut pandang tertentu sering kali memicu polarisasi masyarakat. Polarisasi ini terjadi ketika kelompok-kelompok masyarakat memiliki pandangan yang semakin ekstrem atau bertolak belakang akibat mengonsumsi informasi yang berbeda, yang tidak lain dipengaruhi oleh bias media atau algoritma media sosial. Sebagai contoh, dalam situasi krisis kesehatan atau politik, penyebaran informasi yang salah dapat memicu ketakutan yang tidak berdasar atau bahkan menciptakan konflik di tengah masyarakat.

Media sosial, dengan kecepatannya dalam menyebarkan informasi, sering kali menjadi tempat subur bagi penyebaran disinformasi, yang pada akhirnya mengikis kepercayaan masyarakat terhadap sumber-sumber informasi yang valid dan dapat diandalkan. Ketika sebuah isu menjadi viral, informasi menyebar dengan sangat cepat, yang mempercepat pembentukan opini publik secara signifikan. Faktor-faktor seperti kontroversi, perasaan, atau kepentingan masyarakat yang signifikan sering menyebabkan disparitas ini. Isu yang menjadi viral akan menarik lebih banyak perhatian.

Dalam keadaan seperti ini, masyarakat cenderung berpartisipasi secara aktif dalam percakapan, baik melalui komentar, berbagi konten, atau memberikan pendapat pribadi mereka, yang membuat masalah tersebut semakin meluas. Yang dikhawatirkan, pengaruh ini tidak hanya berdampak secara individual, tetapi juga pada kelompok. Jika penyebaran informasi tidak konsisten dan tidak sesuai dengan kebutuhan kelompok, maka hubungan antar kelompok masyarakat akan merenggang.

Di sisi lain, pengaruh media sosial juga berkaitan erat dengan konsep influencer atau tokoh media sosial yang memiliki pengaruh besar di platform tersebut. Ketika influencer menyuarakan pendapat atau merekomendasikan produk atau gagasan tertentu, hal ini dapat memicu dampak signifikan pada pandangan dan opini masyarakat pengikut mereka (Suharno, 2024: 23). Pengaruh ini sangat kuat karena influencer sering kali dianggap sebagai figur yang dekat dengan pengikut mereka, sehingga pesan yang mereka sampaikan bisa lebih mudah diterima dan dipercaya. Namun, ada juga risiko ketika influencer menyebarkan informasi yang tidak diverifikasi, yang dapat memperburuk situasi disinformasi.

Solusi Menanggapi Fenomena Disinformasi

Menanggapi tantangan ini, kita memerlukan perhatian serius. Kualitas literasi bangsa harus ditegakkan dengan tegas. Pendidik, khususnya, perlu mengarahkan anak didiknya untuk tidak terlepas dari membaca teks dari sumber yang valid, seperti buku, majalah, koran, dan semacamnya. Sebab, membiasakan diri untuk mengonsumsi informasi sepotong-sepotong dari media sosial hanya akan memicu seseorang merasa tidak perlu repot-repot membaca teks panjang. Padahal, dengan hanya berbekal informasi singkat dari media sosial yang sering kali belum tentu benar, seseorang bisa merasa telah mengetahui informasi yang cukup.

Untuk menghadapi tantangan disinformasi ini, kolaborasi berbagai pihak sangat penting. Pemerintah, institusi pendidikan, dan platform media sosial perlu bersatu dalam mengembangkan program literasi digital yang lebih efektif. Program ini bisa mencakup pelatihan untuk mengenali informasi yang valid, memahami bagaimana algoritma media sosial bekerja, serta menekankan pentingnya memverifikasi sumber sebelum menyebarkan informasi.

Selain itu, menyuarakan gerakan kesadaran publik mengenai bahaya disinformasi dan cara menghindarinya akan sangat membantu masyarakat agar lebih kritis dalam menyaring konten di media sosial. Dengan pendekatan komprehensif ini, diharapkan masyarakat dapat terlindungi dari dampak negatif disinformasi dan polarisasi yang berpotensi merugikan kehidupan sosial kita.


REFERENSI
Hardiman, F. Budi. (2023). Kebenaran dan Para Kritikusnya Mengulik Idea Besar yang Memandu Zaman Kita. Kanisius.
Kristiawan, Reynald Dian, dkk. (2023). Pengembangan Bisnis dengan 100% AI. SIEGA Publisher.
Rozi, Fakhrur. (2023). Tabayyun Digital, Dialektika Algoritma dan Penggunaan Media Sosial Konten Islami. Umsu Press.
Suharno. (2024). Ancaman Negara dalam Perspektif Perang Urat Saraf. Nas Media Pustaka.
Utami, Ema & Sukrisno. (2005). 10 Langkah Belajar Logika dan Algoritma: Menggunakan Bahasa C dan C++ di GnuLinux. Andi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *