#KaburAjaDulu: NKRI Harga Nego dan Nasionalisme yang Tersandera Realita
Oleh: Shidiq Setyo Adhi Nugroho (Ketua IMM FISIPOL UMY)

Trend #kaburajadulu akhir-akhir ini menggema dimedia sosial, trend tersebut adalah respon masyarakat melihat kondisi negara yang sedang carut marut. Sebagian besar masyarakat Indonesia merasakan tidak adanya harapan ketika tinggal di Indonesia. Hal ini menarik barangkali saat kita melihat fenomena-fenomena yang akhir-akhir ini terjadi, mulai dari fenomena kebijakan gas elpiji 3 kilogram, beberapa sekolah yang terlambat menginput data PDSS sehingga siswa eligible tidak bisa ikut dalam SNBP, hingga yang terbaru ini adalah kebijakan presiden memangkas anggaran lebih dari 50 triliun rupiah, dan masih banyak fenomena yang lain, dan tentunya fenomena-fenomena inilah yang menjadi alasan sebagian masyarakat Indonesia menjadikan trend #kaburajadulu sebagai respon mereka.
Berapa Harga yang Harus Dibayar untuk Menjadi Rakyat di Indonesia?
Menjadi rakyat yang setiap harinya mendengar sirine patwal pejabat disaat kita merasakan panas terik matahari ditengah kemacetan barangkali adalah sebuah gambaran umum ketika hidup di negara yang yang memiliki populasi lebih dari dua ratus juta jiwa ini. Melihat berita siswa SMA berdemo menuntut kejelasan terkatit keterlambatan input data PDSS mereka namun ditanggapi oleh seorang “ibu guru” yang malah menanyakan “siapa yang mendatangkan banjir?”, seorang pendidik yang seharusnya melakukan transfer knowlagde dan transfer value malah melihatkan dirinya sendiri gagap dalam memberikan solusi, gagap dalam mengikuti kemajuan teknologi didepan banyak anak yang seharusnya dia didik, barangkali itu adalah gambaran ketika kita hidup di negara dengan cita-cita Indonesa emas 2045. Kondisi diatas adalah bagian-bagian kecil gambaran kehidupan di Indonesia yang menjadi tantangan bagi generasi penerus. Akankah kita mengulangi hal buruk yang sama atau kita mengambil resiko besar untuk perubahan yang baik nantinya.
Nasionalisme saat ini adalah barang mahal yang sangat langka. Kita sepakati bersama bahwa nasionalisme adalah rasa cinta dan pengorbanan untuk tanah air. Betapa besarnya rasa nasionalisme masyarakat Indonesia ketika dihadapkan masalah-masalah multidimensi yang sedang terjadi saat ini. Ditampar realitas kondisi negara yang sedang mengalami gejolak, baik gejolak politik hingga gejolak sosial. Namun, disinilah hal yang menarik itu. Masyarakat Indonesia sedang dihadapkan dengan rasa cintanya terhadap bangsa ditengah-tengah ketidak pastian harapan hidup sejahtera di negeri sendiri. Ada salah satu pepatah mengatakan “ Lebih baik hujan batu ditanah sendiri, dari pada hujan emas di negeri orang”. Barangkali pepatah tersebut adalah semangat nasionalistik yang dipegang teguh oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia.
Tentu, ada harga untuk menjadi rakyat Indonesia. Bisa saja kita yang terlalu mencintai bangsa ini dengan cara yang begitu-begitu saja, kendati kita lupa, bahwa masih banyak cara untuk mencintai Indonesia. Ada yang memilih mencintai NKRI dari dalam negeri, ada juga yang memilih mencintai NKRI dari luar negeri. Tidak ada yang salah dari keduanya bukan ??
Kurangi Tengok Kanan-Kiri Atas-Bawah
Indonesia bukanlah bangsa yang sangat maju. Bahkan dalam sepak bola Indonesia hanya menduduki peringkat FIFA 127 dunia. Sangat jauh dibandingkan dengan negara-negara eropa. Terkadang kita perlu belajar dari supporter sepak bola timnas, bagaimana caranya mencintai tim sepak bola dari sebuah negara dengan peringkat FIFA 127 dunia?? Perlu kita tanyakan mengapa mereka begitu setia dengan tim sepak bolanya. Bahkan disuatu pertandingan timnas Indonesia melawan timnas Argentina yang pada waktu itu menjadi juara dunia sekalipun.
Barangkali kita terlalu sempit dalam mendefinisikan kesetiaan. Kita terlalu malu untuk menunjukan rasa kesetiaan kita untuk bangsa Indonesia. Sudah terlalu sering kita membandingkan Indonesai dengan bangsa lain. Kita sepakati bersama bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang terbaik. Tapi sampai kapan kita terus menerus membandingkan bangsa Indonesia dengan bangsa yang lain? Tidak ada yang salah ketika kita membandingkan Indonesia dengan bangsa yang lainnya. Yang salah adalah ketika kita (masyarakat) luput untuk ikut dibandingkan dengan (masyarakat) mereka.
Maka dari itu, perlu rasanya untuk kita belajar dari supporter sepak bola timnas, tentang bagaimana caranya mencintai timnas kesayangannya. Mereka mencintai tidak hanya dari seberapa hebat gaya permainannya, mereka tidak hanya menyukai dari seberapa kuat tendangan freekick yang dibuat oleh salah satu pemainnya. Mereka mendukung dan mencintai karena perjuangan para pemainnya, staf kepelatihannya hingga para panitia pelaksana pertandinganpun mereka dukung dan mereka hargai.
Sepenuhnya Menjadi Indonesia
Bangsa Indonesia dianugrahkan berbagai macam budaya. Terkadang kemajemukan inilah yang sering memunculkan konflik horizontal, dalam artian konflik yang terjadi karena adanya perbedaan pandangan diantara masyarakat kita. Bahkan bukan hanya konflik horizontal yang sering kita hadapi, tetapi konflik vertikal pun seakan-akan sudah menajdi makanan masyarakat kita sehari-hari. Namun, mengapa kita seakan-akan terjebak dalam “siklus permasalahan” yang itu-itu saja??
Teringat nasihat Buya Syafii Maarif yang mengatakan “Kalau kita memang mencintai bangsa ini secara tulus, kita harus mengubah perilaku kita yang kadang-kadang bersifat egoistik, subjektivisme yang kadang menyala-nyala. Kita ganti dengan perasaan kebangsaan yang nilainya universal dan Pancasila harus dibawa turun kebumi, jangan dibiarkan mengembala di langit yang tinggi.” Menjadi refleksi kita bersama, barangkali sifat-sifat egoistik kitalah yang menjadi sumber konflik berkepanjangan, barangkali sifat subjektivisme kitalah yang menjadikan kita buta akan kritik dan masukan, dan barangkali kita terlampu jauh meninggikan Pancasila sehingga kita lupa bahwa nilai-nilai Pancasila seharusnya mengakar kuat dibumi.
Terakhir, untuk menjadi sepenuhnya Indonesia kita tidak perlu membaca buku ayat-ayat kiri, kita tidak perlu menjadi seorang Marxist. Kita tidak perlu menjadi seorang yang berideologi “mentok kanan”. Sederhana saja, untuk menjadi sepenuhnya Indonesia pahami diri sendiri, dan pahami masyarakat sekitar kita. Indonesia bukanlah Uni Soviet, Indonesia juga bukan Amerika Serikat, terkadang kita membaca terlalu jauh, sehingga kita lupa untuk membaca diri kita sendiri.
