Pengalaman Ke Psikolog, Nyatanya Laki-Laki Juga Perlu Bercerita

Oleh: Dodik Suprayogi

“Konon katanya, laki-laki didesain memang nggak mudah untuk menyampaikan emosinya seperti wanita, makanya perlu ruang khusus buat laki-laki untuk sekadar meluapkan emosinya dengan bercerita”.

Trend “laki-laki nggak bercerita”, kekinian dianggap sebagai norma bagi sebagian besar kaum bapak-bapak di Indonesia khususnya anak muda.

Trend ini dinilai sebagai bagian dari maskulinitas ciri khas dari laki-laki Indonesia yang suka menyimpan perasaan, mengabaikan permasalahan, dan cenderung mendiamkan suatu perkara yang mengganjal pikiran dan perasaan.

Ketenangan yang nampak mencitrakan diri bahwa tanda kedewasaan laki-laki yang mampu mengontrol emosinya.

Nggak sepenuhnya salah, namun juga nggak bisa dibenarkan seutuhnya. Namanya emosi kodratnya harus tetap dilampiaskan dengan cara-cara yang positif.

Makanya banyak laki-laki muda yang mencoba mengalihkan emosinya ke tiba-tiba hiking, tiba-tiba jadi atlit, atau tiba-tiba traveling hanya untuk menyamarkan permasalahan yang menimpanya.

Karena dengan bercerita ke orangtua, saudara atau teman hanya akan dianggap bahwa dirinya lemah, oleh sebab itu laki-laki enggan bercerita.

Tetapi, nggak ada salahnya kalau kita mencoba meminta bantuan kepada psikolog, yaitu tenaga profesional kesehatan mental yang mampu mempelajari dan menangani perilaku manusia, apalagi jika permasalahan yang terjadi hingga membuat kita depresi dan mengganggu ketenangan hidup.

Begitupun yang pernah saya lakukan, pengalaman ke psikolog untuk sekadar konseling, bercerita dan melampiaskan emosi nyatanya bukan keputusan yang salah, justru keputusan yang sangat membantu.

Apalagi bagi laki-laki yang punya gengsi tinggi semacam saya agar nggak terlihat lemah.

#1. Ceritakanlah Dengan Jujur

Awalanya memang terlihat canggung ya, saya harus bercerita secara mendalam di depan seseorang yang sebelumnya nggak saya kenal sama sekali.

“Bagaimana kabarnya hari ini mas? Jika dinilai 1 sampai 10, berapa skor hari ini?” pertanyaan singkat pembuka sesi kali ini.

Namanya juga tenaga profesional ya, perlahan demi perlahan saya mulai tanpa gugup sedikitpun untuk menceritakan apa yang saya alami.

Psikolog lebih banyak mendengar di awal sesi, menggali informasi, dan mencoba mengamati setiap gerak-gerik kita, sebelum memberikan penilaian dan treatment apa yang dapat dilakukan.

Inti dari sesi ini adalah, ceritakan semua apa yang sedang dihadapi dengan jujur, jujur pada diri sendiri tentang apa yang sesungguhnya dirasakan, tujuannya adalah agar nggak ada lagi emosi yang dipendam setelah sesi ini berakhir.

Di sesi ini, bebas mau menangis, mau marah-marah, mau nyemil, mau minum, lakukan serileks mungkin, dan psikolog nggak akan melarang selama masih batas wajar ya.

#2. Perhatikan Treatment Yang Diberikan

Setelah sesi bercerita, saatnya sesi kita mendapatkan sugesti dan treatment dari psikolog berdasarkan cerita dan emosi yang kita lampiaskan.

Sebelum treatment diberikan, psikolog akan menilai sejauh mana tingkat “depresi” kita, untuk mengambil keputusan treatment yang sekiranya diperlukan.

“Tingkat depresi tergolong aman, di bawah skor depresi akut”, pernyataan yang cukup melegakan.

Psikolog memberikan dua tips agar mampu mengendalikan emosi yaitu teknik stabilisasi emosi untuk mengatasi rasa sedih dan gelisah serta teknik afirmasi diri untuk lebih mengenali diri sendiri.

Pastinya treatment ini berbeda-beda tergantung dengan tingkat depresi dan gangguan emosi yang dialami masing-masing orang.

#3. Nggak Semua Solusi Adalah Obat Tidur

Bayangan awal saya, pasti solusi mengatasi gangguan emosi ujung-ujungnya adalah obat tidur, nyatanya ini salah kaprah.

Obat tidur nggak sembarangan bisa diresepkan ke semua orang, dan psikolog nggak bisa memberikan resep obat termasuk obat tidur, karena yang berkewenangan memberikan resep adalah psikiater.

Jadi bagi teman-teman yang ingin ke psikolog buat minta obat tidur itu sama sekali nggak tepat alias salah alamat.

Kursi indomaret dan sebotol nestcafe memang menenangkan bagi laki-laki, apalagi bagi kaum sebat. Tapi perlu diingat, mengabaikan gangguan emosi dapat berakibat fatal pada keberlangsungan hidup di masa depan.

Jadi, jangan biarkan emosi negatif menumpuk dan menjadi bumerang dimasa depan. Ke psikolog adalah salah satu upaya laki-laki buat lebih peduli tentang hidupnya, tentang masa depannya. Apalagi dibantu dengan menjalankan hobi-hobi positif dijamin, bakal cepat pulih.

Laki-laki nggak bercerita, tapi laki-laki harus peduli dengan dirinya sendiri dan masa depannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *