Dari Bouazizi ke Affan: Arab Spring dan Reset Indonesia, Akankah Sejarah Berulang? 

Oleh: Muhammad Al-Fatih  (Mahasiswa Hubungan Internasional UMY)

Source: vox.com

Rentetan sejarah tampaknya akan segera terulang. Pertanyaannya, apakah  akhirnya akan persis sama seperti dahulu atau justru berbeda?. Jawabannya sangat  bergantung pada bagaimana para pengambil kebijakan mampu memanajemen krisis  politik yang sedang terjadi di Indonesia hari ini. 

Peristiwa 28 Agustus 2025 menjadi tragedi yang memilukan sekaligus  pemantik kemarahan. Ia lahir dari akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap  pemerintah yang gagal menjalankan tugasnya secara adil dan bertanggung jawab. 

Hal ini bermula dari aksi demonstrasi pada Kamis, 28 Agustus 2025 di depan  Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, awalnya berlangsung damai dengan  tuntutan pembubaran DPR. Namun situasi berubah ricuh ketika malam hari. Massa  tetap bertahan di depan gedung, hingga aparat melakukan pembubaran paksa.  Kericuhan pecah, tembakan gas air mata dibalas dengan lemparan batu dan botol oleh  massa. Dalam situasi itu, sebuah Kendaraan Taktis (Rantis) polisi melaju kencang ke  arah kerumunan tanpa memperhatikan posisi massa, hingga menabrak dua  pengemudi ojek online, Affan Kurniawan dan Moh Umar Amaruddin. Peristiwa ini  menyebabkan Affan meninggal dunia, sementara Umar mengalami luka serius dan  harus dirawat di rumah sakit (Yudono Yanuar & Fajriadi, 2025). 

Selepas tragedi tersebut, eskalasi kemarahan publik semakin meluas. Seruan  konsolidasi dan solidaritas bermunculan di berbagai daerah. Banyak pihak menilai  kematian Affan sebagai “Martir Demokrasi”. Bagi keluarga dan tetangganya, Affan  adalah tulang punggung keluarga yang menjadi harapan hidup (BBC.com, 2025).  Upaya meredam kemarahan publik dilakukan dengan langkah simbolik, salah  satunya melalui kunjungan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ke keluarga  almarhum di RSCM Jakarta Pusat. Ia menyampaikan permohonan maaf, bela  sungkawa, serta janji untuk mengusut tuntas kasus tersebut (Syarifudin, 2025). 

Namun demikian, amarah rakyat sulit terbendung. Video detik-detik Affan  tertabrak yang beredar luas di internet memperkuat gelombang solidaritas dan  kekecewaan. Peristiwa ini mengingatkan kita pada Arab Spring lima belas tahun lalu,  yang dimulai 17 Desember 2010 di Tunisia. Persitiwa Arab Spring adalah peristiwa  yang menandai runtuhnya sistem otoritarianisme dan berakhirnya rezim diktator di  sejumlah negara-negara Arab sejak awal 2011, dari Tunisia hingga Suriah. Gelombang  ini lahir dari aksi heroik Muhammad Bouazizi, seorang pemuda yang membakar  dirinya akibat represi aparat dan kekecewaan terhadap sistem negaranya.

Muhammad Bouazizi adalah seorang pemuda lulusan universitas yang harus  menerima pahitnya kenyataan hidup sebagai pedagang kaki lima di Tunisia.  Kehidupannya penuh tekanan akibat perlakuan aparat keamanan yang sewenang wenang. Gerobak dagangannya berulang kali disita karena dianggap tidak memiliki  izin, sementara setiap pengaduannya tidak pernah mendapat perhatian. Pada 17  Desember 2010, setelah ditolak mentah-mentah oleh Gubernur Sidi Bouzid, Bouazizi  nekat membakar diri di depan kantor Gubernur sebagai bentuk protes atas  penghinaan dan ketidakadilan yang ia alami. 

Tindakan ekstrem Bouazizi segera menyulut kemarahan publik. Ribuan orang  turun ke jalan, liputan media internasional memperluas gaungnya, sementara jejaring  sosial mempercepat arus solidaritas. Presiden Zine El Abidine Ben Ali bahkan sempat  menjenguk Bouazizi di rumah sakit, namun semuanya terlambat. Bouazizi  menghembuskan napas terakhir pada 4 Januari 2011, dan pemakamannya dihadiri  ribuan warga yang menjadikannya simbol perlawanan terhadap rezim. 

Kematian Bouazizi menjadi titik balik. Gelombang demonstrasi meluas dari  kota kecil menuju ibu kota Tunis, diikuti berbagai kelompok masyarakat sipil dan  profesi yang muak terhadap represi aparat dan krisis berkepanjangan. Dari situlah  lahir revolusi yang mengguncang dunia Arab, dikenal sebagai Arab Spring, yang  menjatuhkan Ben Ali sekaligus membuka babak baru perlawanan rakyat terhadap  otoritarianisme (Sahide et al., 2015). 

Melihat dua peristiwa di atas, tampak pola kemarahan publik yang serupa.  Muhammad Bouazizi menjadi simbol perlawanan rakyat Tunisia yang kemudian  menjalar ke berbagai negara Arab bagaiakan virus dan melahirkan gelombang  demokratisasi. Di Indonesia, sosok almarhum Affan Kurniawan juga dipandang  demikian. Banyak pihak menyebutnya sebagai “Martir Demokrasi”, sebuah julukan  yang sulit untuk kita pungkiri. Kehadiran sosok Affan telah menyatukan kemarahan  publik, mengonsolidasikan akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap berbagai  persoalan yang tak kunjung terselesaikan, ditambah kebijakan pemerintah yang  kerap berjalan tanpa arah dan membingungkan rakyat. 

Kemarahan rakyat yang memuncak pasca tragedi almarhum Affan,  merupakan hasil dari akumulasi kesewenang-wenangan, tidak adanya pembelajaran  serta ketidak seriusan dari pemerintah dalam menanggapi aspirasi, serta melihat  realitas yang terjadi. Institusi keamanan yang sewenang-wenang terhadap nyawa  rakyat, represifitas terjadi dimana-mana. Krisis kepercayaan masyarakat terhadap  lembaga formal pemerintahan, kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat  akan tetapi sangat royal kepada asing. Semua itu ditambah dengan ketimpangan  sosial-ekonomi masyarakat kelas atas dan masyarakat kelas bawah, antara si kaya dan  si miskin yang sangat jelas.

Namun demikian, pertanyaan besar yang masih menggantung adalah apakah  kekacauan politik Indonesia hari ini akan berakhir seperti Arab Spring, khususnya di  Tunisia, ketika rezim tidak lagi mampu mengakomodasi dan membendung amarah  rakyat hingga akhirnya harus melepaskan kursi kekuasaan. Ataukah Indonesia justru  mampu belajar dari sejarah tersebut, melakukan perbaikan, dan memastikan pola  yang sama tidak berakhir dengan konsekuensi serupa ? 

References  

BBC.com. (2025). Brimbob_ Pengemudi ojol Affan Kurniawan disebut “martir demokrasi” – Apakah aksi massa bakal membesar_ – BBC News Indonesia. BBC.com. 

Sahide, A., Cipto, B., Muti’ah Setiawati, S., & Hadi, S. (2015). The Arab Spring:  Membaca Kronologi dan Faktornya Penyebabnya. Jurnal Hubungan Internasional,  4(2), 118–129. https://doi.org/10.18196/hi.2015.0072.118-129 

Syarifudin, T. (2025). kapolri-ungkap-dukacita-mendalam-ke-keluarga-affan-ojol-yang dilindas-rantis. detikNews. 

Yudono Yanuar, V. I. G., & Fajriadi, I. A. (2025). Kronologi Ojol Tewas Dilindas Rantis  hingga Demo di Mako Brimob _ tempo. Tempo.co.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *