Membaca Buku di Era Digital: Masihkah Relevan?
Oleh: Savira Dwi Aryanti

Sejak satu dekade terakhir, gadget telah merata di berbagai pelosok negeri. Penggunanya tidak hanya kalangan dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja. Menurut teori ekonomi klasik, gadget termasuk kebutuhan tersier—artinya sekadar pelengkap gaya hidup. Namun seiring kemajuan teknologi, gadget kini berubah menjadi kebutuhan sekunder, bahkan bisa jadi primer. Perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan, profesi, dan fungsi.
Fenomena ini tidak mengherankan di tengah zaman yang semakin canggih. Namun kenyataannya, banyak aktivitas mulai bergeser ke gadget. Era digital memang membawa dampak positif besar, seperti kemudahan bekerja, berkomunikasi, dan mengakses informasi. Berbagai konten bisa ditemukan dengan cepat hanya dengan mengetik kata kunci di mesin pencari atau menjelajah media sosial.
Di sisi lain, era digital juga menimbulkan dampak negatif jika digunakan tanpa batas. Salah satu bukti nyata adalah menurunnya literasi masyarakat. Survei Badan Pusat Statistik tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya 10% masyarakat Indonesia yang rajin membaca. Meskipun antusiasme membaca rendah, masyarakat menghabiskan rata-rata sembilan jam sehari menatap gadget (Komdigi 2020). Menurut laporan Kalla Institute (2024), UNESCO mencatat bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya satu dari seribu orang yang konsisten membaca.
Kenyataan ini membuktikan bahwa kemudahan era digital justru membuat masyarakat lalai terhadap aktivitas fundamental seperti membaca buku. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah membaca buku di era digital masih relevan? Daya tarik konten digital memang tinggi, tetapi pemahaman yang dihasilkan tidak sedalam membaca buku.
Beberapa keunggulan membaca buku dibanding konten digital antara lain:
- Pemahaman lebih luas. Tulisan dalam buku umumnya melalui riset panjang, disusun secara sistematis dan terstruktur.
- Berpikir lebih mendalam. Setiap kalimat mengajak pembaca menelaah makna di baliknya.
- Kesabaran intelektual. Pembaca tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum menuntaskan dan merenungi setiap teks.
- Minim gangguan. Saat membaca buku, notifikasi dan iklan tidak mudah mengalihkan fokus.
- Bebas algoritma tren. Isi buku tidak berubah; dibuat berdasarkan riset dan pemikiran penulis, bukan preferensi pembaca atau popularitas.
Sebaliknya, konten digital mengedepankan informasi ringkas, cepat, dan instan. Algoritma tren menampilkan potongan informasi acak yang seringkali tidak berkesinambungan, sehingga pemahaman pembaca hanya parsial. Jika informasi tersebut disebarluaskan tanpa pemahaman mendalam, risikonya fatal. Bahkan banyak informasi yang cepat terlupakan sebelum sempat dipahami lebih jauh.
Sebagaimana dikatakan Mohammad Hatta, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Ungkapan ini menegaskan bahwa membaca buku tetap relevan di zaman digital. Malah, di era serba online inilah tradisi membaca buku menjadi semakin penting, karena proses berpikir yang diperoleh tidak tergantikan oleh menatap layar ponsel. Selain memberikan pemahaman luas, membaca buku juga meningkatkan daya ingat dan pemahaman jangka panjang.
Menghadapi pesatnya arus teknologi, menumbuhkan budaya membaca buku adalah upaya signifikan. Beberapa cara yang dapat dilakukan:
- Membentuk komunitas baca.
- Menyediakan buku bertema kekinian dengan bahasa ringan.
- Mengimbangi konten digital dengan aktivitas membaca rutin, meski sedikit.
- Mendorong kampanye literasi digital yang menempatkan buku sebagai rujukan utama.
Secara konkret, pemerintah dapat menyelenggarakan program Gerakan Literasi Nasional dengan menyediakan akses buku murah atau gratis hingga ke pelosok daerah. Kampanye literasi di media sosial juga perlu digencarkan agar membaca menjadi tren positif. Kolaborasi antara sekolah, perpustakaan, dan masyarakat melalui lomba baca atau festival buku akan memperkuat budaya literasi. Dukungan semacam ini menjadikan membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan budaya nasional.
Walaupun saat ini peminat buku di Indonesia masih rendah, peningkatan tetap mungkin terjadi. Semuanya kembali pada individu. Jika setiap orang menanamkan prinsip pentingnya membaca buku, budaya ini akan menjadi tradisi turun-temurun. Membaca buku bukan hanya memperoleh informasi, tetapi juga melatih proses berpikir. Di tengah derasnya arus informasi instan, memilih membaca buku adalah bentuk perlawanan intelektual.
Pertanyaannya, apakah kita siap tetap relevan dengan buku di era digital? Jawabannya ada pada pilihan kita hari ini.
