Di Antara Jam Dinding dan Layar Sentuh
Oleh : T.H. Hari Sucahyo

Kita sedang hidup di tengah pergeseran budaya dan generasi yang tidak biasa, sebuah masa ketika keyakinan yang dulu dianggap mapan kini dipertanyakan ulang dengan keberanian yang nyaris tanpa kompromi. Generasi baby boomer, mereka yang lahir antara pertengahan 1940-an hingga awal 1960-an, membangun dunia kerja, relasi, dan tata nilai dengan disiplin yang terstruktur, kesabaran yang panjang, serta keyakinan kuat bahwa stabilitas adalah bentuk tertinggi dari keberhasilan.
Dunia yang mereka bentuk bukanlah dunia yang serba cepat, melainkan dunia yang menghargai proses, loyalitas, dan kesinambungan. Nilai-nilai itu tidak muncul dari ruang hampa. Mereka lahir dari pengalaman sejarah: perang yang baru berakhir, ekonomi yang perlahan pulih, dan janji bahwa kerja keras akan berbuah keamanan.
Di sisi lain, generasi yang lebih muda, yakni milenial dan Generasi Z, tumbuh dalam realitas yang sangat berbeda. Mereka mengenal dunia yang saling terhubung sejak dini, di mana informasi bergerak secepat sentuhan jari, dan identitas dapat dibentuk ulang berkali-kali sepanjang hidup. Ketika saya berada di usia empat puluhan, saya berdiri di titik yang unik: cukup dekat dengan cara pandang orang tua saya untuk memahaminya, namun cukup terpapar dengan semangat generasi muda untuk merasakan daya guncangnya.
Dari posisi ini, saya melihat bukan sekadar konflik generasi, melainkan dialog panjang tentang makna hidup, kerja, dan keberhasilan. Banyak orang tergoda untuk menyederhanakan perbedaan ini menjadi pertarungan antara yang lama dan yang baru, seolah salah satunya pasti keliru. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit. Metode dan kebiasaan generasi baby boomer sangat efektif pada zamannya.
Jam kerja tetap, struktur organisasi yang hierarkis, dan kesetiaan jangka panjang kepada satu perusahaan memberi rasa aman dan identitas yang jelas. Pekerjaan bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga sumber harga diri. Datang tepat waktu, pulang sesuai jadwal, dan menaiki tangga karier secara perlahan adalah ritual yang memberi makna sekaligus arah.
Jam kerja tradisional 9 pagi hingga 5 sore adalah simbol paling nyata dari dunia itu. Ia mencerminkan keyakinan bahwa produktivitas lahir dari keteraturan, bahwa disiplin waktu adalah fondasi profesionalisme. Bagi banyak baby boomer, hadir secara fisik di kantor bukan sekadar kewajiban, melainkan pernyataan komitmen. Kehadiran berarti keseriusan, dan keseriusan berarti masa depan yang terjamin. Dunia kerja terasa seperti kontrak sosial yang adil: Anda memberikan waktu, tenaga, dan loyalitas; perusahaan memberi gaji, jaminan, dan rasa aman.
Namun, generasi yang lebih muda memandang jam dinding itu dengan kecurigaan. Bagi mereka, waktu tidak selalu identik dengan hasil. Teknologi memungkinkan pekerjaan dilakukan dari mana saja, kapan saja, dan sering kali lebih efisien. Mereka bertanya, jika sebuah tugas bisa diselesaikan dalam dua jam dengan fokus penuh, mengapa harus duduk delapan jam di kantor? Pertanyaan ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan tentang makna. Mereka mencari kerja yang terintegrasi dengan hidup, bukan hidup yang dikorbankan demi kerja.
Di sinilah gesekan itu terasa paling tajam. Generasi lama melihat fleksibilitas sebagai ancaman terhadap disiplin dan etos kerja. Generasi muda melihat struktur kaku sebagai sisa masa lalu yang tidak relevan. Namun di balik perdebatan ini tersembunyi kegelisahan yang sama: ketakutan akan kehilangan arah. Baby boomer khawatir bahwa tanpa struktur, dunia akan jatuh ke dalam kekacauan. Generasi muda khawatir bahwa dengan struktur lama, hidup akan kehilangan jiwa.
Perubahan ini tidak hanya terjadi di dunia kerja, tetapi juga dalam cara memandang hubungan, keuangan, dan pengembangan diri. Orang tua saya, seperti banyak teman sebayanya, memandang pernikahan sebagai institusi seumur hidup yang harus dipertahankan dengan pengorbanan. Stabilitas finansial dicapai melalui tabungan yang disiplin dan kepemilikan aset fisik. Pengembangan diri sering kali berarti bertahan, belajar dari pengalaman, dan tidak terlalu banyak bertanya.
Sebaliknya, generasi muda lebih nyaman dengan ketidakpastian. Mereka menunda pernikahan atau mendefinisikannya ulang, memilih pengalaman dibanding kepemilikan, dan memprioritaskan kesehatan mental sebagai bagian penting dari keberhasilan. Mereka bertanya dengan lantang: apakah hidup yang stabil tetapi hampa benar-benar layak diperjuangkan? Pertanyaan ini sering terdengar menantang, bahkan tidak sopan, bagi telinga generasi lama. Namun sesungguhnya ia lahir dari keinginan yang sama untuk hidup bermakna.
Menariknya, ketika kita mengamati lebih dalam, garis pemisah antar generasi tidak setegas yang terlihat. Banyak baby boomer yang diam-diam mengadopsi fleksibilitas baru, menikmati kerja jarak jauh, atau menemukan kembali hobi yang dulu terabaikan. Banyak anak muda yang, seiring bertambahnya usia, mulai menghargai stabilitas dan struktur yang dulu mereka kritik. Perubahan generasi bukanlah pergantian total, melainkan proses saling memengaruhi yang terus berlangsung.
Di usia paruh baya, saya merasakan tarikan dari kedua dunia itu. Ada hari-hari ketika disiplin dan rutinitas memberi ketenangan, dan ada saat-saat ketika kebebasan untuk menentukan ritme sendiri terasa membebaskan. Pengalaman ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan sering kali terletak di antara ekstrem. Jam kerja 9-to-5 bukanlah musuh, tetapi juga bukan satu-satunya jalan. Fleksibilitas bukanlah kemalasan, melainkan pengakuan bahwa manusia bekerja dengan cara yang beragam.
Periode perubahan ini menuntut kita untuk lebih rendah hati dalam menilai. Alih-alih bertanya generasi mana yang benar, mungkin lebih berguna untuk bertanya apa yang bisa kita pelajari satu sama lain. Dari baby boomer, kita belajar tentang ketekunan, kesabaran, dan komitmen jangka panjang. Dari generasi muda, kita belajar tentang keberanian untuk mempertanyakan, keberanian untuk merancang hidup sesuai nilai pribadi, dan keberanian untuk mengakui bahwa kesehatan mental dan makna tidak bisa ditunda hingga pensiun.
Dunia terus bergerak, dan setiap generasi mewariskan sesuatu, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Jam dinding di kantor dan layar sentuh di genggaman tangan bukanlah simbol pertentangan yang harus dimenangkan salah satunya. Keduanya adalah penanda zaman, pengingat bahwa manusia selalu berusaha menemukan keseimbangan antara keteraturan dan kebebasan. Di tengah perubahan ini, mungkin tugas kita bukan memilih sisi, melainkan menjembatani: menjaga yang terbukti bernilai, sambil membuka ruang bagi cara-cara baru untuk hidup dan bekerja dengan lebih manusiawi.
