Debat Pilpres sebagai ‘Game Changer’ dalam Pemilu 2024
Oleh: Muhammad Iqbal Khatami

Pada Minggu (21/1) telah dilaksanakan debat keempat untuk calon wakil presiden Pemilu 2024. Menjelang kurang lebih dua 24 hari menuju hari pencoblosan pada 14 Februari 2023, masih ada satu kali pelaksanaan debat capres dan cawapres lagi. Lalu, Apakah debat dapat memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pemilih dalam menentukan pilihan?
Memang untuk saat ini khususnya dalam konteks Indonesia, belum ada perhatian khusus untuk mengukur peran debat terhadap perilaku seseorang dalam memilih di Pemilu baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Namun subjektif penulis, ketika berkaca isi debat yang sangat akademis maka bisa diasumsikan bahwa masyarakat yang menonton debat secara tayangan utuh adalah segmented, baik secara tingkat pendidikan maupun literasi politik.
Jika asumsi tersebut dianggap benar, maka istilah-istilah sulit dan bahasa akademis pada debat pilpres bisa jadi hanya ‘laku’ pada kalangan akademis yakni mahasiswa atau lulusan perguruan tinggi. Sedangkan menurut data BPS – penduduk Indonesia yang merupakan tamatan perguruan tinggi hanya 10,15% dari total penduduk. Maka, bisa jadi yang mampu menilai substansi dan keakuratan argumen yang disampaikan, serta mampu melihat lebih dalam dari sekadar narasi yang diberikan ter-segmented di sekitar angka kecil tersebut.
Meski hanya sebagian kecil pemilih yang memiliki pemahaman mendalam dalam hal akademik atau kebijakan, Namun perlu diingat bahwa mayoritas pemilih mungkin terpengaruh oleh rangkuman atau narasi yang disajikan dalam waktu singkat berupa potongan, sebaran opini, gimik, yang mungkin tidak selalu mewakili keseluruhan argumen atau visi dari setiap kandidat.
Era Banjir Informasi
Ada yang menarik jika kita melihat sekilas kanal media sosial kita hari ini. Di mana yang yang banyak tersebar luas dan diperbincangkan masyarakat adalah potongan-potongan video debat pilpres, bahkan yang telah melalui proses edit dan framing tertentu.
Fenomena banjir informasi memungkinkan potongan-potongan tersebut diambil, diframing ulang, dan dihadirkan secara strategis untuk mempengaruhi opini pemilih. Dalam proses ini, pemilihan potongan video yang spesifik, yang menyoroti argumen atau momen tertentu dari debat, menjadi krusial dalam membentuk narasi yang mendukung opini tertentu.
Tidak hanya potongan video itu sendiri, tetapi cara mereka dipresentasikan—melalui narasi, teks, atau caption—berperan penting dalam membentuk persepsi dan interpretasi pemirsa. Narasi yang dibuat dapat memobilisasi opini pemilih dengan menonjolkan kelebihan atau kelemahan dari kandidat sesuai dengan tujuan framing yang dibuat.
Dalam konteks banjir informasi, potongan-potongan video ini menjadi alat yang efektif untuk menggerakkan opini dan mendulang suara, mengarahkan pemilih pada suatu pilihan tertentu berdasarkan bagaimana informasi dipresentasikan.
Fenomena ini dapat menjadi variabel baru yang membuat debat pilpres dapat memiliki pengaruh signifikan dalam kontestasi Pemilu. Meski yang menonton debat secara utuh hanyalah terbatas pada kelompok tertentu, namun potongan-potongan tersebut dapat dikonsumsi secara luas oleh publik tanpa batas lagi. Apalagi jika potongan tersebut memang didesain agar mampu dipahami secara mudah walaupun kerapkali tanpa konteks yang utuh.
Selain menyoroti argumen, momen kejadian khusus juga kerap disorot dan disebarkan secara masif, misalnya saja potongan atau frame informasi-informasi yang didesain dapat menarik sisi emosional audiens. Desain potongan informasi yang bertujuan menghadirkan sisi emosional dapat sangat mempengaruhi persepsi dan reaksi pemilih.
Bentuk informasi tersebut dapat berupa reaksi spontan kandidat yang dapat menarik simpati atau kecaman, ungkapan emosi yang kuat, dan situasi yang dramatis. Jika disebarkan secara masif, maka dapat mempengaruhi pemilih untuk merespons secara emosional daripada rasional.
Perang Narasi sebagai Game Changer
Meskipun semakin mendekati pemilu pilihan masyarakat semakin mengkristal untuk menentukan siapa kandidat capres-cawapres yang akan dipilih, perubahan pilihan menjelang detik terakhir sebelum pencoblosan masih mungkin terjadi dengan berbagai faktor dan variabel.
Apalagi jika kita berkaca pada atmosfer Pemilu 2024 banyak memiliki perbedaan dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Misalnya saja, Pemilu 2019 identik dengan polarisasi yang sangat tajam, dan di Pemilu 2024 hal demikian tidak terlalu dirasakan. Sama halnya dengan debat, atmosfer debat Pemilu 2024 sangat cukup terasa di tengah banjir informasi yang sangat kuat. Perbincangan pada saat debat berlangsung dan pasca debat begitu beragam di X. Para influencer dan jutaan pengguna berlomba saling memengaruhi opini. Ditambah dengan hadirnya kanal battleground politik baru seperti TikTok, Reels Instagram, dan YouTube Short semakin memperluas ‘gorengan isu’ pasca debat.
Sehingga, dalam konteks ini, perubahan sikap pemilih di detik-detik terakhir dapat dipandang sebagai suatu kemungkinan yang nyata, terutama dengan adanya akses yang lebih luas terhadap informasi dan penetrasi yang lebih kuat ke dalam platform media sosial yang mempengaruhi cara pemilih memperoleh informasi politik.
Pada akhirnya, perang narasi di media sosial menjadi keniscayaan dan telah menjadi permainan yang memengaruhi perubahan sikap pemilih dengan signifikan hingga menjelang detik terakhir. Fenomena ini memperlihatkan bahwa media sosial bukan hanya sekadar alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi medan pertempuran narasi politik untuk menggiring opini pemilih.
Meski begitu, perang narasi kampanye di media sosial yang saat ini belum diatur oleh regulasi secara komprehensif, rawan terjadi kampanye hitam, disinformasi, atau bahkan strategi manipulatif dapat memainkan peran dalam mengubah pandangan pemilih terhadap kandidat.
Perang narasi yang salah satunya adalah ‘menggoreng’ hasil Debat Pemilu 2024 di media sosial telah menjadi elemen krusial yang mampu mengubah dinamika pemilihan, memungkinkan opini pemilih untuk berubah secara dramatis menjelang hari pemungutan suara. Maka, kesalahan sikap dan blunder sedikit saja oleh para capres cawapres pada saat debat dapat digoreng secara masif dalam perang narasi yang berlangsung.
