Populer dengan Cara Flexing, Simak Potensi Masalah Kesehatan Mental pada Generasi Muda
Oleh: Mirranda F

Flexing masih dianggap sebagai cara jitu untuk meningkatkan popularitas bagi sebagian besar generasi muda. Media sosial menjadi jalan interaksi anak muda dalam memamerkan keglamoran, prestasi, atau pencapaian hidup lainnya.
Alih-alih menjaga eksistensi diri, cara ini justru dapat mengganggu kesehatan mental generasi muda. Mulai dari berkurangnya rasa empati, kecemasan sosial, kurang bersyukur, hingga yang paling parah, mengalami depresi.
Daya konsentrasi dan produktivitas ikut menurun seiring dengan masalah kesehatan mental yang berlanjut. Anak muda nantinya cenderung sulit berpikir kritis dan bergerak maju.
Sangat disayangkan apabila generasi muda tidak mampu bertahan dan mengimbangi kemajuan zaman. Perlahan tapi pasti, kehilangan identitas diri turut menyertai.
Rasa Kurang Empati
Kebutuhan eksistensi diri atau hasrat ingin populer di mata publik tanpa disadari memicu berkurangnya rasa empati. Perasaan ini menggambarkan bagaimana seseorang tidak memahami perasaan orang lain.
Yuniar et al. (2022) dalam risetnya menunjukkan berkurangnya rasa empati pada mahasiswa seiring dengan aktivitas flexing. Pusat perhatian yang terbentuk hanya pada kekayaan yang dipamerkan.
Melalui riset tersebut, cukup jelas bahwa rasa empati yang berkurang berakar pada fokus diri terhadap kemewahan yang dimiliki. Gaya hidup mewah diperlihatkan sebatas untuk citra diri tanpa memperhatikan siapa saja yang dapat mengakses media sosial.
Contoh yang juga bisa ditemukan pada media sosial berupa umpan balik negatif, seperti rasa tidak nyaman atau risih atas konten pamer. Umpan balik kemudian membentuk anggapan bahwa orang-orang yang pamer kekayaan tidak “peka” dengan kondisi di sekitarnya.
Perasaan superior yang dimiliki, menggerakkan ekspos kemewahan pada media sosial yang berkelanjutan. Tidak prososial, ini terlihat sebagai bentuk nyata dampak negatif pamer kemewahan yang dapat menekan kesehatan mental.
Kecemasan Sosial
Di samping berkurangnya rasa empati, gangguan kesehatan mental akibat perilaku flexing yaitu kecemasan sosial yang mengkhawatirkan, jika tidak segera ditangani. Perasaan cemas mungkin semakin meningkat sejalan dengan aktivitas anak muda yang menargetkan popularitas.
Rasa ingin terus mengunggah konten—baik itu materi, prestasi, maupun gaya hidup mewah—memberikan tekanan berlebih dalam hidup. Apalagi kemampuan yang dimiliki tidak sebesar kebutuhan eksistensi diri.
Tekanan sosial kemudian mempengaruhi seseorang dalam merespons berdasarkan kondisi lingkungannya. Manipulasi kerap mengambil peran, alih-alih menyelesaikan kecemasan yang terjadi.
Salah satu manipulasi yang umum terlihat adalah dengan memaksakan keadaan. Ketidakpuasan yang mengikat hasrat untuk kaya atau berprestasi dipertimbangkan melalui berbagai usaha dalam memenuhi kebutuhan konten.
Rasa takut dipermalukan atau dihakimi oleh publik umumnya mengawali kecemasan sosial para pengunggah konten. Ketakutan tampak jelas saat konten yang ditampilkan tidak disukai orang lain.
Hidup seolah dibayang-bayangi oleh penerimaan orang lain yang menambah tekanan dan membuat kesehatan mental memburuk. Tanpa adanya kepedulian di antara anak muda, gangguan kecemasan sosial bisa mempengaruhi hilangnya fokus terhadap diri.
Depresi
Di antara gangguan kesehatan mental akibat flexing, bisa dikatakan depresi merupakan yang paling parah. Depresi dapat merubah pola hidup normal menjadi abnormal, termasuk kestabilan emosional dan perilaku generasi muda.
Ketidakpuasan saat pamer kemewahan yang dibarengi dengan peningkatan kecemasan sosial akibat penilaian orang lain membuka peluang depresi. Kecemasan sosial dapat membentuk pola pikir bahwa orang lain jauh lebih baik dibandingkan diri sendiri.
Tekanan sosial yang meningkat membuat rasa percaya diri perlahan memudar atau dikenal dengan istilah insecure. Ketidakpercayaan diri memunculkan perasaan rendahnya harga diri yang memperparah kondisi kesehatan mental.
Tanpa disadari, respons emosional seseorang dengan harga diri rendah cenderung berlebihan dan anti-kritik. Tekanan yang semakin besar pada akhirnya membuat seseorang kesepian, dimulai dengan perasaan terisolasi dan sulit beradaptasi di lingkungan sosial.
Kraav et al. (2020) dalam risetnya memperlihatkan hubungan longitudinal antara kesepian dan depresi. Riset dilakukan dengan metode jangka panjang yang dianggap relevan, sehingga korelasi antara kesepian dan depresi dianggap mendekati kebenaran.
Flexing memang memberikan kesenangan dan kebanggaan tersendiri, apalagi memilihnya sebagai cara untuk terus eksis. Namun perilaku pamer yang cenderung memberikan kemudaratan hanya membelenggu generasi muda.
Popularitas dengan pamer kemewahan atau keberhasilan tidak akan bertahan lama, justru sebaliknya. Kesenangan yang sifatnya sejenak nyatanya memberikan dampak negatif, salah satunya gangguan kesehatan mental.
Kesehatan mental yang terganggu memicu berbagai respons. Seseorang dapat menjadi pribadi yang kurang empati, sulit beradaptasi secara sosial, tidak pernah merasa cukup, dan kehilangan harga diri.
Kesepian dan depresi menjelma sebagai bentuk kesengsaraan yang mempengaruhi fokus dan kemampuan diri. Lantas, apakah layak generasi muda tetap memilih flexing sebagai cara mencapai popularitas?
Referensi
- Hariyono, M., dan Pradana, H.P. 2024. “Fenomena Flexing pada Media Sosial: Persepsi Generasi Z.” Psycho Aksara, 2(1):29-36.
- Kraav, S.L., Lehto, S.M., Junttila, N., Ruusunen, A., Kauhanen, J., Hantunen, S., and Tolmunen, T. 2021. “Depression and Loneliness May Have a Direct Connection Without Mediating Factors.” J. Nordic Psychiatry, 75(7): 553-557. doi.org/10.1080/08039488.2021.1894231.
- Nurhayat, E., dan Noorrizki, R.D. 2022. “Flexing: Perilaku Pamer Kekayaan di Media Sosial dan Kaitannya dengan Self-Esteem.” J. Flourishing, 2(5):368-374.
- Pohana, S., Munawwarah, P., dan Sinuraya, J.S. 2023. “Fenomena Flexing di Media Sosial dalam Menaikkan Popularitas Diri sebagai Gaya Hidup.” JKOMDIS, 3(2):490-493.
- Fadli, R. (25 April 2023). “Bahaya Flexing bagi Kesehatan Mental yang Kerap Diabaikan.” Halodoc. Link.
- Wahidah, J.N., dan Khodijah. 2023. “Fenomena Flexing di Medsos: Dampaknya pada Hubungan Sosial dan Ekonomi.” HIDMAH, 2(1):22-33.
- Yuniar, S.H., Suryanyo, dan Santi, D.E. 2022. “The Psychological Dynamics of Flexing Behavior Among College Students.” ICHSS, 2:289-296.
