Krisis Kesehatan Mental: Ancaman Serius Bagi Indonesia Emas 2045
Oleh: Moch Edward Trias Pahlevi (Founder Muda Bicara ID, Koordinator Umum KISP)

Pilpres telah usai, Presiden Prabowo mengusung konsep keberlanjutan dalam menyusun konsep kerja 5 tahun kedepan, konsep keberlangsungan ini mengadopsi tujuan dan cita-cita visi dari presiden sebelumnya. Visi dan misi presiden Prabowo Subianto di bungkus dengan istilah asta cita presiden dengan goal menuju Indonesia emas 2045. Terlihat Presiden Prabowo di awal pemerintahan berfokus pada aspek pengembangan kualitas manusia dengan mencanangkan makan siang bergizi gratis. Tujuan program ini ialah meningkatkan kualitas manusia agar dapat menjadi manusia yang mampu bersaing dan mewujudkan sebagai negara yang maju. Negara maju ialah negara yang memiliki Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan tangguh
Indonesia Emas 2045 adalah visi jangka panjang Indonesia untuk menjadi negara maju pada peringatan 100 tahun kemerdekaan pada tahun 2045. Visi ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur, dengan fokus pada penguatan berbagai aspek Pembangunan, seperti kesejahteraan ekonomi, Sumber Daya Manusia Unggul, Keadilan Sosial dan Keberlanjutan Lingkungan, serta pemerintahan yang efektif dan bersih.
Visi Indonesia Emas 2045 bertumpu pada empat pilar utama yakni Pertama, Pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, Pembangunan ekonomi berkelanjutan, Ketiga Pemerataan pembangunan., Keempat, Pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan. Kata kunci pengembangan manusia menjadi selalu landasan utama dalam menuju negara yang maju. Namun, banyak kalangan yang tidak menyadari bahwa ada ancaman serius yang ini akan menghambat tujuan dan cita-cita dalam menuju Indonesia emas 2045 yakni persoalan krisis Kesehatan mental yang mulai muncul ke permukaan. Saya beranggapan masalah ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berpotensi menggagalkan pencapaian visi besar bangsa.
Kesehatan Mental Ancaman Serius
Kesehatan mental seringkali dianggap sebagai isu sekunder dibandingkan dengan masalah ekonomi atau infrastruktur. Padahal, kesehatan mental adalah fondasi bagi produktivitas, kreativitas, dan daya saing sumber daya manusia (SDM). Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan peningkatan kasus gangguan mental di berbagai kelompok usia, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda, yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan Indonesia Emas.
Saya mengutip sebuah penelitian yang dilakukan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), yang merupakan survei berskala nasional yang diselenggarakan melalui kolaborasi Pusat Kesehatan Reproduksi (PKR) Universitas Gadjah Mada dengan University of Queensland (UQ) Australia, dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health (JHSPH) Amerika Serikat. Objek yang diteliti oleh I-NAMHS adalah remaja berusia 10 hingga 17 tahun, menyasar seperlima dari total penduduk Indonesia yang merupakan remaja dan penelitian mengenai prevalensi gangguan mental di kalangan remaja Indonesia belum pernah dilakukan sebelumnya. hasilnya sangat mengejutkan di Indonesia satu dari tiga remaja (34,9%) atau sama dengan 15,5 juta remaja Indonesia setidaknya memiliki persoalan masalah mental. Masalah kesehatan mental ini merujuk pada depresi, kecemasan, stress pasca trauma, masalah perilaku, dan masalah terkait pemusatan perhatian dan/atau hiperaktivitas (Indonesia National Adolescent Mental Health Survei, 2022).
Gambar 1. Prevelensi Kesehatan Mental Pada Remaja Di Indonesia

Dari data yang di rilis oleh Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey menunjukan Kesehatan mental yang dialami oleh remaja Indonesia lebih di dominasi pada jenis kelamin Perempuan (28,2%) dibandingkan pada jenis kelamin laki-laki (25,4 %). prevalensi hiperaktivitas atau masalah terkait pemusatan perhatian dialami lebih tinggi pada remaja laki-laki sebesar 12,3% dibanding remaja perempuan sebesar 8,8%. Sementara itu, remaja perempuan memiliki prevalensi tingkat depresi lebih tinggi sekitar 6,7% dibandingkan dengan remaja laki-laki (4,0%).
Selanjutnya data menunjukan prevalensi mengenai perilaku dialami lebih dominan pada laki-laki dibandingkan Perempuan, dan tingkat stress pasca trauma prevalensinya lebih tinggi pada remaha Perempuan. Data I-NAMHS ini menjadi sinyal bahwa Kesehatan mental sudah harus menjadi isu prioritas dan mendapatkan perhatian pemerintah. Saya menyakini isu ini jika tidak ditangani serius akan menghambat visi generasi emas 2045.
Alasan argumentasi penulis mengenai pentingnya perhatian pemerintah terhadap masalah Kesehatan mental ialah mengutip catatan yang di rilis oleh Pusat Informasi Kriminal Nasional Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI (Bareskrim Polri) menunjukkan seluruh kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang tahunnya. Angka kasus bunuh diri terus meningkat setiap tahun, bahkan bertambah hingga 60% dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2020 tercatat 640 bunuh diri. Di tahun 2021 kasus mengalami penurunan tipis 629 kasus. Namun, angka tersebut menukik tajam setahun setelahnya yakni pada tahun 2022 yakni 887, dan meningkat drastic di tahun 2023 terjadi 1.288 kasus bunuh diri. Data terakhir sepanjang Januari-Oktober 2024, angka kasus bunuh diri telah menyentuh angka 1.023 kasus. Data tersebut memperkuat fenomena krisis Kesehatan mental yang dapat mengancam tujuan besar Indonesia emas 2045.
Akar Utama Persoalah Penyakit Mental Terhadap Gen Z
Tidak dapat dipungkiri masalah mental ini banyak menyerang remaja ataupun Gen Z. Kalangan Gen Z ini merupakan generasi utama nantinya dalam menjalankan visi Indonesia maju/emas 2045. Survey yang dilakukan oleh I-NAMHS gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan stres yang cukup tinggi pada kelompok usia ini. Penulis memetakan setidaknya ada tiga persoalan utama yakni Pertama, penulis berpendapat sosial media berkontribusi besar terhadap masalah Kesehatan mental Gen Z. Mengutip McKinsey Health Institute Gen Z yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari untuk menggunakan media sosial cenderung memiliki kondisi kesehatan mental yang buruk. Bila dibandingkan dengan generasi lainnya, Gen Z adalah generasi yang paling banyak memperoleh dampak negatif dari media sosial ( McKinsey Health Institute, 2023)
Sebagian besar perempuan Gen Z mengaku, media sosial memberikan dampak negatif berupa rasa takut tertinggal tren baru atau Fear of Missing Out/FOMO (32 persen), khawatir terhadap citra tubuh (32 persen), dan kepercayaan diri (13 persen). Suka tidak suka kita perlu jujur bahwa sosial media kerap kali dijadikan sebagai pembanding dan pertunjukan antar manusia atas kebahagiaan dan pencapaian. Hal ini yang membuat Gen Z kerap cemas jikalau dalam kehidupannya tidak terlihat enak seperti apa yang ada di sosial media ( McKinsey Health Institute, 2023)
Kedua, Kecemasan terhadap ketidakpastian masa depan. Dalam pandangan penulis menilai ada faktor overthingking pada diri Gen Z dalam mengahapi tekanan hidup baik tekanan akademik dan tuntutan kehidpan pasca akademik. Dengan perubahan teknologi dan ekonomi global, banyak dari mereka merasa khawatir tentang prospek pekerjaan di masa depan. Di tambah Orang tua dan lingkungan sering memiliki ekspektasi tinggi terhadap pencapaian mereka, yang menambah tekanan emosional. Kecemasan ini makin menjadi ketika akses pekerjaan terhadap mereka semakin sulit. Hal ini semakin dikonfrimasi dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 9,9 juta penduduk Indonesia muda merupakan pengangguran hampir 10 juta Gen Z di Indonesia menganggur, salah satunya adalah tidak adanya kecocokan antara keahlian (skill) dan kebutuhan pasar kerja. Serta akses informasi yang memadai (CNBC Indonesia, 2024)
Ketiga, Penulis berpendapat bahwa faktor perubahan sosial dan lingkungan juga berpengaruh terhadap cara pandang Gen Z. Gen Z hidup di era perubahan besar, seperti krisis iklim, konflik global, dan ketidakstabilan politik, yang menciptakan perasaan cemas akan masa depan. Dengan akses informasi yang cepat, Gen Z sering terpapar berita negatif seperti kekerasan, bencana, dan isu global lainnya, yang memperburuk kecemasan.
Kehadiran Pemerintah di Perlukan
Dalam mewujudkan Indonesia emas 2045 kehadiran pemerintah diperlukan tidak sebatas jargon akan tetapi perlu adanya langkah berani dalam mempersiapkan generasi emas. Sebagai contoh misalnya pemerintah mulai memikirkan pola algoritma sosial media saat ini. Hal ini penting mengingat media sosial yang sangat receh mengakibatkan pengaruh daya pikir manusia Indonesia menjadi lemah. Kehadiran pemerintah dalam mengatur algoritma media sosial agar dapat menumbuhkan rasa nasionalisme adalah ide strategis yang dapat membantu menciptakan lingkungan digital yang mendukung nilai-nilai kebangsaan.
Pemerintah perlu berani melakukan intervensi terhadap platfom media untuk mendorong atau memprioritaskan konten edukatif bagi masyarakat Indonesia. Selanjutnya penulis menilai pemerintah perlu merubah cara dalam menyelesaikan Kesehatan mental tidak hanya terpaku pada aspek medis akan tetapi diperlukan adanya pendekatan non medis. Maka layanan gratis untuk fasilitasi Kesehatan mental dengan berbasis non medis perlu dihadirkan oleh pemerintah. Hal ini akan membantu individu mengenali, memahami, dan mengatasi masalah emosional atau psikologis mereka.
