Indonesia, Paru-Paru Dunia yang Sedang Sesak Nafas
Oleh: Muhammad Helmi Nurrohman (Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati)

Indonesia sering disebut sebagai paru-paru dunia, julukan yang mencerminkan kekayaan alam luar biasa yang dimiliki negara kita. Pada masa lalu, bangsa-bangsa Eropa berbondong-bondong datang untuk mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia. Namun, ancaman terhadap alam kita kini justru datang dari perilaku sebagian anak bangsa sendiri.
Lebih memprihatinkan lagi, pernyataan keliru yang pernah dibuat Presiden Prabowo menyamakan hutan tropis dengan perkebunan sawit hanya karena keduanya memiliki pohon, menunjukkan betapa rendahnya pemahaman sebagian pemimpin terhadap lingkungan.
Kalimantan, yang dikenal sebagai paru-paru dunia karena memiliki hutan rawa gambut dan hutan tropis yang luas, kini mengalami degradasi akibat keserakahan manusia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka deforestasi di Indonesia mencapai 104.032,5 hektar, dengan Kalimantan menyumbang kehilangan hutan sebesar 33.303,8 hektar.
Apa saja penyebab utama hilangnya hutan-hutan Indonesia? Berikut penjelasannya:
Pertambangan
Baru-baru ini, seorang konglomerat terlibat dalam kasus korupsi yang merugikan negara sebesar 271 triliun rupiah. Kerusakan lingkungan yang dihasilkan tidak hanya mencerminkan kerugian finansial, tetapi juga ekologi. Sebuah penelitian dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) mengungkapkan bahwa hampir 60 persen deforestasi di Indonesia disebabkan oleh aktivitas pertambangan.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa antara tahun 2001 hingga 2023, penambangan batu bara menjadi kontributor terbesar deforestasi, mencakup sekitar 322.000 hektar, diikuti oleh penambangan emas (149.000 hektar), timah (87.000 hektar), dan lainnya. Di Teluk Weda, Halmahera, misalnya, penambangan nikel mencemari sumber air dan merusak mata pencaharian komunitas lokal.
Perkebunan Kelapa Sawit
Indonesia adalah salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun, di balik itu, ekspansi perkebunan sawit menjadi penyebab utama deforestasi. Menurut The Tree Map, pada tahun 2023, 10.787 hektar lahan gambut diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Pada tahun sebelumnya, angka ini mencapai 30.000 hektar, meningkat 36 persen dibandingkan 2022.
Dampaknya sangat besar terhadap keanekaragaman hayati, terutama di Kalimantan. Penelitian dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyebutkan bahwa sekitar 10.000 dari 75.000-100.000 orangutan di Kalimantan terancam punah akibat ekspansi ini. Selain itu, pembukaan lahan juga meningkatkan emisi gas rumah kaca dan mencemari air melalui penggunaan pestisida.
Aktivitas pertambangan dan perkebunan memang berkontribusi pada pembangunan infrastruktur seperti jalan, rumah sakit, dan sekolah di daerah pedalaman. Namun, harga yang harus dibayar sangat tinggi: pengorbanan sumber daya alam yang seharusnya diwariskan kepada generasi mendatang. Kekayaan alam yang melimpah ini bisa menjadi krisis air dan oksigen di masa depan jika tidak dikelola dengan bijak.
Langkah Pemerintah Mengurangi Deforestasi
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengambil berbagai langkah untuk mengurangi deforestasi, seperti:
- Penerapan Inpres tentang penghentian pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan alam primer dan lahan gambut.
- Pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
- Strategi net zero deforestation yang berarti reforestasi dilakukan untuk mengimbangi deforestasi.
Namun, upaya ini memerlukan kesadaran dari seluruh masyarakat dan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Hanya dengan komitmen kuat dan tindakan nyata, kita bisa memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia tetap lestari.
Dengan langkah yang tepat, Indonesia dapat menjadi contoh nyata dalam pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, memastikan bahwa generasi mendatang tetap dapat menikmati kekayaan alam yang kita miliki hari ini.
