[Rilis Kajian] – Sejauh Mana Pendidikan STEM di Indonesia?

Pemerintahan Presiden Prabowo melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah meluncurkan Gerakan STEM Indonesia Cerdas 2025–2027 dan menyediakan 20.000 beasiswa STEM ke Rusia setiap tahun untuk memperkuat fondasi pendidikan STEM. Produktivitas publikasi ilmiah naik tajam dari 6.070 (2014) menjadi 43.300 dokumen terindeks Scopus (2022), dan prestasi siswa Indonesia di IMSCC 2024 meraih 14 medali.
Namun, Indonesia masih tertinggal disebabkan banyak tantangan diantaranya: Persentase lulusan STEM hanya 19% dari total sarjana (300.000 orang), dibanding Malaysia 37,19% dan Singapura 34,30%; Skor PISA 2022 rendah: membaca 359 (rata-rata 469), matematika 366 (358), sains 383 (384); Anggaran riset hanya 0,2% PDB, jauh di bawah rata-rata global 2,67% dan Singapura S$25 miliar; Horizontal mismatch lulusan; dan lain sebagainya.
Kesenjangan ini diperparah infrastruktur praktikum terbatas, sertifikasi profesi mahal, dan magang minim. Untuk mendukung green jobs, Indonesia membutuhkan lulusan STEM terampil di energi bersih, efisiensi energi, transportasi hijau, dan pengelolaan lingkungan.
Muda Bicara ID merilis kajian berjudul: Sejauh Mana Pendidikan STEM di Indonesia? : Momentum Bonus Demografi untuk Penguatan STEM di Indonesia
Unduh selengkapnya di:
Penanggungjawab:
- Moch Edward Trias Pahlevi
Editor:
- Muhammad Iqbal Khatami
Peneliti :
- Moch Edward Trias Pahlevi
- Muhammad Iqbal Khatami
- Raihan Aditya Ramadhan
- Karen Rianika
- Muhamad Fikri Asy’ari
