Hadir di UMY, Muda Bicara Kebijakan Ajak Anak Muda Jadi Aktor Utama Demokrasi Digital

YOGYAKARTA — Menghadapi tantangan ekosistem politik modern, program Muda Bicara Kebijakan menggelar forum Duduk Rembuk bertajuk “Pemilu Sudah Digital, Regulasinya Jangan Tertinggal”. Berkolaborasi dengan Bijak Memantau dan BEM FISIPOL Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), kegiatan ini bertujuan memberdayakan generasi muda agar tidak sekadar menjadi objek, melainkan aktor utama dalam menjaga kualitas demokrasi di ruang digital.
Sedikitnya 60 peserta yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa berusia 18–30 tahun berpartisipasi dalam program ini. Mereka diajak untuk membedah berbagai ancaman nyata dalam ekosistem digital saat ini, seperti disinformasi, misinformasi, polarisasi, politik identitas, hingga fenomena echo chamber (ruang gema) yang kerap mempersempit perspektif publik.
Untuk memastikan pembelajaran berdampak nyata, kegiatan ini menggunakan inovasi pendekatan Life Skills Citizenship Education (LSCE) yang mengintegrasikan empat tahapan: Learn Self, Learn to Know, Learn Together, dan Learn to Act. Melalui metode ini, pendidikan demokrasi bergeser dari sekadar transfer pengetahuan menjadi proses pembentukan aksi kewarganegaraan.
Pada tahap awal (Learn Self), Umi Illiyina, Anggota Bawaslu DIY Periode 2023-2028, hadir memberikan wawasan mengenai hak, tanggung jawab, dan kontribusi pemuda dalam kontrak sosial di era demokrasi digital.
Selanjutnya, peserta diajak merumuskan strategi kampanye publik bersama Founder Muda Bicara ID Moch. Edward Trias Pahlevi. Edward menekankan bahwa media sosial kini merupakan arena kontestasi narasi yang menentukan arah kebijakan publik.
“Media sosial hari ini bukan sekadar ruang menyampaikan pendapat, tetapi telah menjadi katalisator kebijakan publik. Anak muda perlu memenangkan narasi di media sosial dengan gagasan yang kritis, berbasis data, dan berpihak pada kepentingan publik. Ketika anak muda menguasai narasi secara konstruktif, ruang digital akan memperkuat sistem demokrasi,” ujar Edward.
Puncak dari kegiatan ini berada pada tahap aksi (Learn to Act). Melalui sesi Public Expression dan penyusunan Policy Futures Canvas, peserta didorong untuk memetakan masalah politik, merancang intervensi digital, hingga merumuskan rekomendasi kebijakan secara konkret dan terukur.
Koordinator Program Muda Bicara Kebijakan, Arya Wibisana, menegaskan urgensi kehadiran pemuda dalam diskursus kebijakan publik.
“Anak muda hari ini tidak kekurangan informasi, tetapi kehilangan narasi. Demokrasi tidak boleh berhenti pada sebatas popularitas dan elektabilitas; etikalitas dan intelektualitas harus menjadi fondasinya. Di sinilah pemuda harus hadir untuk membangun narasi yang empatik dan menentukan arah demokrasi,” tegas Arya.
Ke depannya, Muda Bicara Kebijakan berharap dapat terus mencetak massa kritis warga muda yang mampu menggunakan teknologi secara strategis. Harapannya, dari ruang digital akan lahir narasi yang kuat, partisipasi yang luas, serta perubahan kebijakan publik yang lebih inklusif dan akuntabel.
