Bayang-Bayang di Masa Sekarang

Kini kita memasuki pertengahan dasawarsa ketiga, hanya dua puluh tahun lagi menuju krisis air bersih global, jika kita mengacu pada data riset para ilmuwan. Sepuluh tahun mendatang akan mengarahkan Indonesia ke masa kejayaannya. Namun, dalam empat puluh tahun, kita harus mempertimbangkan peringatan kiamat yang dipercayai oleh beberapa orang sesuai kalender bangsa Maya.
Sebentar lagi, tahun 2024 akan menjadi momentum pergantian pemimpin di Indonesia. Walaupun beberapa orang meyakini bahwa pemilihan umum dapat mengatasi masalah ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, semakin banyak yang menyadari bahwa kehidupan di bawah dominasi ekonomi saat ini semakin tidak menyenangkan. Masyarakat dari berbagai kelompok usia dan latar belakang berharap pada pemimpin yang mampu membawa perubahan, entah itu tokoh seperti Vladimir Putin, pewaris Soekarno, atau bahkan figur sekelas Mesias.
Dalam menghadapi masa depan yang tak terelakkan, semua ambisi politik mengarah pada sebuah tujuan: membentuk masa depan yang lebih baik. Bagi mereka yang pernah merasa sebagai bagian dari mayoritas yang diabaikan, atau kelompok minoritas yang mengalami penindasan, perubahan adalah keinginan bersama. Namun, dalam dunia di mana kelompok minoritas menentukan arah mayoritas, mungkin kita akan kehilangan hal-hal yang berharga bagi kita, tetapi dianggap sepele oleh sebagian kecil orang. Akibatnya, kita berisiko terperangkap dalam lingkaran kebijakan yang keluar dari kendali.
Dengan bencana yang beruntun, tatanan manusia menjadi terkendali dan terotomatisasi. Individu-individu terperangkap dalam peran-peran yang ditetapkan dalam struktur sosial. Meskipun, di era saat ini dan masa depan, legitimasi politik menjadi semakin tipis. Politisi sering kali meremehkan proses politik yang korup itu sendiri, dan bahkan secara terbuka menyebut orang lain sebagai boneka politik yang terbeli.3
Di samping itu, keputusan yang diambil oleh negara sehari-hari sering kali mengabaikan partisipasi warga negara. Warga yang ingin terlibat dalam proses politik hanya memiliki sedikit pilihan: memberikan suara, melakukan lobi, atau mencalonkan diri. Yang lebih ironis, banyak calon politik berasal dari kelompok ekonomi atas, membuat politik menjadi karier bagi orang kaya dan bukan bagi rakyat biasa. Bahkan, terlibat dalam aktivisme politik bisa merugikan karier seseorang, selain itu biaya dan kompleksitas dalam prosesnya membuatnya sulit dijangkau oleh kelas pekerja.
Dalam demokrasi representatif, rakyat jarang merasakan pengaruh yang nyata. Pejabat-pejabat yang memiliki wewenang bukanlah yang terpilih, tetapi yang diangkat oleh birokrasi pemerintahan. Sebaliknya, elit ekonomi sering kali menggunakan opini publik yang diwarnai oleh rasa takut, harapan, kemarahan, dan kebingungan untuk membentuk pandangan yang mereka inginkan. Praktik lobi semakin umum dan berpotensi merusak dalam sistem demokrasi representatif.
Kelompok ekonomi ini memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi para perwakilan politik melalui upaya membujuk, ancaman, atau suap. Dengan demikian, bisa dilihat bagaimana Menteri dan anggota DPR memiliki ikatan dengan para pemodal. Partai-partai yang kuat saat ini biasanya dianggap sebagai partai dengan dana yang melimpah, bukan partai yang mewakili aspirasi mayoritas. Dengan demikian, tidak mengherankan jika upaya lobi dari sekelompok pengusaha memiliki lebih banyak pengaruh daripada keluhan ratusan juta warga dalam pengambilan kebijakan.
Kutipan dari Joseph Stalin yang mengatakan, “Mereka yang menghitung suara memutuskan semuanya” semakin relevan dalam konteks ini. Meskipun pemilihan umum bisa dilakukan dalam waktu singkat, mendidik satu orang tentang pilihan politik memerlukan waktu dan upaya yang lebih besar. Namun, pemahaman dan partisipasi publik adalah kunci untuk membentuk sebuah masa depan yang lebih baik.
Penting untuk selalu menyampaikan opini dengan struktur yang jelas dan berfokus pada poin-poin inti. Dengan melakukan itu, pesan yang ingin disampaikan akan lebih mudah dipahami dan menginspirasi pemikiran.
