Benarkah Gimik ‘Gemoy’ Lebih Disukai Dibanding Narasi yang ‘Ndakik-Ndakik’?
Oleh: Muhammad Iqbal Khatami

Pada Selasa (28/11) kemarin telah memasuki hari pertama Masa Kampanye Pemilu 2024. Jika dibandingkan dengan Pemilu 2019 lalu, jauh sebelum masa kampanye situasi perpolitikan di akar rumput dan di kalangan elit amat sangat panas. Seperti misalnya dipenuhi oleh politik identitas, hingga black campaign. Walaupun memasuki masa kampanye Pemilu 2024 kali ini hal tersebut tetap ada, namun atmosfernya belum sekencang 2019 lalu.
Suasana menjelang pemilu 2024 kali ini cukup terlihat kondusif di tingkatan akar rumput – di mana polarisasi tidak terlalu terasa. Bisa jadi, salah dua faktornya adalah pertama keberadaan tiga pasang calon – di mana pada 2019 hanya dua pasang yang mengakibatkan polarisasi begitu terasa. Kedua, boleh jadi disebabkan oleh kandidat pasangan calon dan elit pendukung yang mencoba cara berbeda untuk mencari perhatian dan ketertarikan pemilih, khususya pemilih muda yang jumlahnya 107 juta pemilih pada Pemilu 2024 mendatang.
Misalnya saja dengan melibatkan unsur branding yang dekat dengan pemilih muda, seperti image penyuka serial anime, pecinta binatang, hingga yang terakhir gemoy effect yang diidentikan pada salah satu paslon. Khusus yang terakhir, memang cukup menarik perhatian ketika cuplikan Prabowo Subianto berjoget semakin masif membanjiri linimasa media sosial kita, juga dengan baliho-baliho yang ‘beda’ dengan menampilkan gambar kartun mirip paslon yang dibuat dengan kesan menggemaskan. Bahkan, salah satu partai pengusung juga membuatkan flashmob dan soundtrend dari gerakan berjoget Prabowo Subianto tersebut.
Benarkah Gimik ‘Gemoy’ Lebih Efektif dan Disukai?
Secara data dan kasat mata, bisa dibilang narasi gagasan ndakik-ndakik yang dibawa oleh paslon lain kalah viral dibanding gemoy effect yang ramai diperbincangkan belakangan. Penggunaan strategi komunikasi seperti ini oleh pasangan Prabowo – Gibran dan elit pendukungnya, yang lebih menekankan pada aspek visual dan simbolis daripada substansi narasi politik, mencerminkan beberapa dinamika yang relevan dalam politik kontemporer dan budaya popular.
Strategi gemoy effect bukanlah hal yang terisolasi. Di era digital dan media sosial yang mendominasi seperti sekarang, pesan-pesan yang mudah diingat, visual, dan mudah disebarkan cenderung lebih efektif dalam menarik perhatian dan mencapai audiens yang lebih luas. Dalam hal ini, simbol gemoy atau citra kartun yang menggemaskan menghadirkan daya tarik visual yang kuat, membuatnya lebih mudah diingat dan dibagikan oleh pengguna media sosial. Hal ini seringkali lebih efektif dalam menciptakan buzz dan kesan yang tahan lama dibandingkan dengan narasi-narasi yang kompleks atau berat secara politik.
Penggunaan strategi semacam ini juga memanfaatkan kekuatan emosi dan daya tarik yang lebih universal. Dalam hal ini, citra yang menggemaskan menciptakan koneksi emosional yang lebih langsung dengan pemilih. Simbol-simbol seperti ini dapat menginspirasi rasa kehangatan, kesenangan, atau simpatisan yang kuat, yang pada gilirannya dapat membangun loyalitas terhadap pasangan calon tersebut. Di sisi lain, narasi politik yang cenderung berat atau kompleks dapat sulit dipahami atau kurang menarik bagi sebagian besar pemilih yang tidak memiliki latar belakang politik yang mendalam.
Selain itu, sosok Prabowo Subianto yang sebelumnya terkenal keras dan tegas – sejalan dengan latarbelakang militernya – menjadikannya sosok yang terkenal kaku. Dengan simbol-simbol semacam ini, dapat mengubah cara pemilih memandang sosoknya.
Namun demikian, strategi semacam ini menyebabkan kurangnya fokus pada substansi kebijakan dan gagasan yang diperjuangkan oleh pasangan calon. Dalam konteks kampanye politik, esensial untuk memberikan informasi yang memadai kepada pemilih sehingga mereka dapat membuat keputusan yang cerdas berdasarkan pemahaman yang jelas tentang visi dan program-program yang diusung oleh setiap kandidat.
Terlebih, dalam Pasal 267, disebutkan bahwa kampanye sebagai bagian dari pendidikan politik masyarakat dan dilaksanakan secara tanggung jawab. Sehingga seyogyanya menjadi sebuah keharusan bagi peserta pemilu menghadirkan narasi kampanye yang dapat mencerdaskan dan mendorong pemilih untuk memilih secara rasional. Kritik juga muncul terkait kemungkinan over-simplifikasi masalah-masalah politik yang sebenarnya membutuhkan penanganan yang lebih serius dan mendalam, justru tenggelam oleh gemoy effect yang non-substansi.
Apakah Fenomena Semacam Itu Mengaburkan Substansi Demokrasi?
Penggunaan strategi komunikasi yang lebih mengedepankan aspek visual dan simbolis dalam kampanye politik tidak selalu secara langsung mengaburkan substansi demokrasi, namun, dapat mempengaruhi cara pemilih memahami dan menanggapi proses pemilihan umum.
Penting untuk diingat bahwa demokrasi melibatkan partisipasi publik dalam proses politik dan pemerintahan. Di dalam demokrasi, pemilih memiliki tanggung jawab untuk memilih para pemimpin yang dianggap mewakili kepentingan mereka dan memiliki visi serta program yang sesuai dengan harapan mereka. Namun, ketika kampanye politik didominasi oleh strategi komunikasi yang lebih menonjolkan aspek visual yang menarik perhatian, ada risiko bahwa substansi dari platform politik para kandidat menjadi terpinggirkan. Padahal, salah satu faktor suksesi pemilu adalah pemilih yang cerdas dan rasional dalam memilih kandidat.
Kasus yang mirip pernah terjadi di Pemilihan Presiden Filipina 2022 lalu, di mana Bongbong Marcos seorang putra mantan diktaktor-koruptor Filipina, Ferdinan Marcos berhasil memenangkan Pilpres tersebut. Salah satu faktor keberhasilannya adalah memanipulasi kesadaran publik melalui konten media sosial dengan bantuan banyak kreator konten dan influencer ternama. Manipulasi tersebut ia lakukan dengan menciptakan gimik-gimik simbolis dan bahkan membelokan sejarah Filipina.
Caa-cara seperti ini sangat berpotensi dilakukan oleh semua pasangan calon walaupun dengan porsi yang berbeda-beda. Tipikal sebagian masyarakat kita yang cenderung menyukai informasi yang sensasional dan emosional membuat gimik kadangkali efektif untuk mendulang suara oleh para elit politik.
Jika terjadi dominasi strategi komunikasi politik yang mengedepankan simbolis non-substansi oleh para pasangan calon, ada potensi bahwa substansi demokrasi, yaitu pemilihan yang berdasarkan informasi dan evaluasi rasional, bisa tereduksi. Namun demikian, bukan berarti substansi demokrasi hilang sama sekali. Pemilih memiliki tanggung jawab untuk mencari informasi yang lebih mendalam, menyelidiki program-program yang diusung oleh kandidat, dan membuat keputusan yang paling sesuai dengan keyakinan dan kepentingan mereka sendiri.
Penting bagi masyarakat untuk memperhatikan bahwa substansi demokrasi dalam pemilu tetaplah penting. Masyarakat juga bisa meminta dan menuntut kandidat untuk memberikan informasi yang lebih jelas dan substansial tentang rencana mereka dalam memimpin, sehingga proses pemilihan umum dapat tetap berfokus pada substansi dan kepentingan publik yang lebih luas.
