Berjibaku dengan Kemacetan Jalan Ir H Juanda Ciputat yang Tak Kunjung Usai
Oleh: Muhammad Robith Faizi
Jalan Ir H. Juanda Ciputat, Tangerang Selatan, selalu menjadi bahan perbincangan yang tidak ada habisnya. Bukan tanpa alasan, jalan sepanjang 5,7 kilometer ini hampir selalu dipenuhi kemacetan setiap harinya. Para pekerja, mahasiswa, dan pengguna jalan lainnya pasti tidak asing dengan kemacetan yang tak kunjung usai.
Hampir setiap hari, khususnya di hari kerja, terutama saat berangkat dan pulang kerja, kemacetan mengular mulai dari Flyover Ciputat hingga pintu keluar Stasiun MRT Lebak Bulus. Setiap kali melintasi jalan ini, saya sudah bisa menebak penyebab kemacetan dalam batin.
Sudah hampir tiga tahun saya berjibaku dengan kemacetan Jalan Ir H Juanda Ciputat yang tak kunjung usai ini. Saya melihat pemerintah Kota Tangerang Selatan sudah beberapa kali menerapkan aturan lalu lintas untuk mengurai kemacetan, namun belum ada yang efektif. Permasalahannya adalah infrastruktur yang kurang memadai serta perilaku pengguna jalan yang menjadi faktor utama penyebab kemacetan.
Tingginya Mobilitas Pengguna Jalan
Pengguna Jalan Ir H. Juanda bukan hanya datang dari kalangan tertentu saja, melainkan dari mahasiswa, pekerja, hingga layanan transportasi umum seperti angkot dan TransJakarta. Mari kita bahas pengguna jalan tersebut satu per satu.
Dari kalangan mahasiswa, terdapat dua kampus yang dilalui persis oleh Jalan Ir H. Juanda, yakni UIN Jakarta dan Institut Islam Al-Qur’an (IIQ). Kedua kampus tersebut berada di pinggir jalan raya, sehingga banyak mahasiswa yang berlalu-lalang setiap waktu kuliah. Sebenarnya, saya belum dapat menyajikan data terbaru mengenai jumlah mahasiswa di UIN Jakarta dan IIQ yang melintasi jalan ini karena belum ada informasi yang mendetail.
Namun, yang ingin saya soroti adalah betapa sesaknya ruas jalanan ini saat para mahasiswa tersebut berangkat atau pulang dari kampus. Banyak mahasiswa UIN Jakarta atau IIQ yang pulang pergi (PP) ke kampus mereka masing-masing. Hal ini berlaku bagi mahasiswa yang rumahnya berada di sekitar Jabodetabek, sehingga mereka memilih untuk tidak tinggal di kos.
Untuk kalangan pekerja, situasinya kurang lebih sama dengan mahasiswa, yaitu mereka juga menjadi salah satu penyebab kemacetan. Biasanya, pekerja yang tinggal di Tangerang Selatan bekerja di Jakarta, atau sebaliknya. Secara jumlah, tentu lebih banyak lagi yang melewati jalan ini, apalagi banyak yang menggunakan mobil. Kemacetan terpanjang biasanya terjadi saat jam pulang kerja, mulai dari pintu keluar Stasiun MRT Lebak Bulus hingga Flyover Ciputat.
Angkot yang Sering Berhenti Sembarangan
Pengguna jalan yang satu ini sering membuat kemacetan semakin parah, karena sopir angkot sering berhenti sembarangan di jalan. Tidak perlu saya sebutkan nama trayeknya, tapi masalahnya adalah mereka berhenti untuk waktu yang lama (ngetem) tepat di pinggir jalan.
Sebagai sesama pengguna jalan, saya tentu kesal dengan ulah sopir angkot tersebut. Sudah berhadapan dengan kemacetan, mereka malah menambah kepadatan.
Saya tegaskan bahwa saya tidak mencela profesi sopir angkot, melainkan hanya mengkritik perilaku mereka yang merugikan pengguna jalan lain. Bagaimanapun, mereka juga mencari nafkah di tengah kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja ini.
Aturan Lalu Lintas Silih Berganti, Kemacetan Tetap Abadi
Upaya yang pemerintah Kota Tangerang Selatan lakukan untuk membenahi kemacetan di jalan ini belum ada yang efektif. Saya masih ingat perubahan aturan lalu lintas terjadi sebanyak tiga kali dalam kurun waktu tiga tahun, mulai dari 2022 hingga 2025. Beberapa perubahan itu termasuk pemberlakuan lampu lalu lintas di perempatan Kampung Utan, mengalihkan jalan putar balik (U-Turn) ke pertigaan Situ Gintung, hingga menutup U-Turn di UIN Jakarta.
Kemacetan adalah hal yang abadi selama infrastruktur tak kunjung dibenahi. Ini bukan hanya tentang lebar jalan yang semakin tidak mampu menampung bertambahnya volume pengguna jalan, tetapi juga perilaku pengguna jalan yang semakin memperburuk keadaan.
Banyak masyarakat Ciputat yang lebih suka menggunakan kendaraan pribadi ketimbang transportasi umum. Tidak heran jika kemacetan menjadi hal yang lumrah terjadi hampir setiap hari. Memang hal ini tidak bisa saya salahkan sepenuhnya, mengingat terbatasnya jumlah armada dan infrastruktur penunjangnya seperti halte.
Solusi: Kolaborasi Pemerintah dan Pengguna Jalan
Kemacetan adalah masalah yang harus ditangani bersama, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sebagai pengguna jalan itu sendiri. Di satu sisi, pemerintah perlu memperbaiki infrastruktur jalan agar dapat menampung mobilitas pengguna jalan yang semakin tinggi. Di sisi lain, masyarakat sebagai pengguna jalan juga perlu mentaati aturan-aturan lalu lintas, seperti tidak berhenti sembarangan di jalan dan tidak melawan arus.
Untuk itu, mari kita ciptakan suasana melintasi jalan raya dengan rasa aman dan nyaman.
