Buzzer Anarkis VS Buzzer Logis

Oleh: Joko Yuliyanto (Essais. Penggagas Komunitas Seniman NU)

Buzzer menjadi istilah yang dikonotasikan negatif dalam pertarungan pemilu 2024. Buzzer banyak digunakan sebagai metode gaet suara melalui medium teknologi digital, khususnya media sosial. Secara terminologi, buzzer merupakan istilah yang bermakna pendengung atau pemengaruh. Artinya, orang yang bertugas mempengaruhi masyarakat, khususnya pengikutnya untuk menggiring opini dengan bungkus narasi pemihakan.

Buzzer memiliki dua tipe, yakni sukarela dan bayaran. Bagi tipe kedua, buzzer bukan lagi “permainan” asik mengadu emosi masyarakat, namun sudah menjadi pekerjaan. Tentu syarat menjadi buzzer harus paham jadwal interaksi media sosial, jumlah pengikut, dan kecermatan memilih diksi postingan.

Bukan hanya di politik, urusan agama, bisnis, hingga status sosial bisa menggunakan buzzer. Dalam istilah lain disebut influencer sebagai pemasar eksistensi seseorang hingga produk perusahaan. Mengingat jumlah pengguna media sosial yang terus meningkat dan didominasi masyarakat usia produktif, buzzer menjadi alat strategis mencapai sebuah tujuan.

Musim pemilu, kemunculan buzzer semakin marak memenuhi beranda media sosial. Algoritma semakin berpengaruh terhadap daya emosi yang membentuk polarisasi di masyarakat. Mereka yang awam mengenai sistem dan cara kerja buzzer akan mudah dipengaruhi sebuah narasi yang bahkan hoaks sekalipun. Politik yang seharusnya menjadi hak privasi dan sensitif diumbar menjadi barang dagangan.

Berdasarkan data yang ambil dari Reportal, pengguna media sosial di Indonesia pada tahun 2023, ada 167 juta pengguna atau 79,5% dari total penduduk. 78,5% di antaranya memiliki lebih dari satu akun media sosial. Prosentase ini yang dimanfaatkan pihak berkepentingan untuk kebutuhan komersial hingga kekuasaan. Mayoritas lalu lintas media sosial didominasi generasi milenial dan generasi Z yang menjadi magnet pemilu 2024 dengan total lebih dari 112 juta pemilih.

Fakta itulah yang digunakan politikus dan calon pejabat memanfaatkan buzzer untuk menggaet suara, khususnya pemilih pemula. Demi hasrat kekuasaan, buzzer punya tanggungjawab untuk memenangkan calon meski dengan cara-cara amoral seperti penyebaran berita hoaks. Mengingat labilnya emosi sebagian pengguna media sosial yang belum begitu melek politik dan mudah terpengaruh dengan narasi algoritma media sosial.

Term ‘Rahasia’ bukan lagi asas dalam pemilu ketika media menjadi lahan eksistensi memamerkan pilihan politik dan ajakan untuk mengikutinya. Di sisi lain, kehadiran buzzer juga berdampak positif untuk melihat realitas politik nasional dengan penuh pertimbangan sebelum memutuskan pilihan. Namun menjadi kacau ketika buzzer mengubah peran menjadi agen penghujat lawan politik dan menimbulkan polarisasi di masyarakat.

Buzzer anarkis menghalalkan segala cara untuk menang. Pemilu tidak lagi dipandang sebagai sebuah pesta demokrasi, melainkan arena pertarungan yang melibatkan konflik saudara. Karakter masyarakat juga dibentuk dari kehadiran buzzer yang hobi menarasikan kebencian yang kemudian diiringi sumpah serapah dan cacian pengikutnya.

Putar Balik

Pemilu 2024 menciptakan situasi antiklimaks beberapa buzzer. Jokowi menjadi aktor utama mengacaukan tatanan politik ideal karena arah dukungan pilihan presiden yang dianggap berbeda dengan partai politik pengusung utama menjadi walikota, gubernur, hingga presiden. Isu keluarnya Jokowi dari rumah lamanya PDI Perjuangan yang dimulai dari putranya Kaesang yang didapuk jadi ketua umum PSI, Gibran menerima pinangan cawapres Prabowo, hingga Anwar Usman yang dianggap publik mengotak-atik konstitusi.

Barisan buzzer yang semula tegak lurus putar balik menjadi pembenci utama Jokowi. Narasi dinasti politik, mahkamah keluarga, hingga kiasan kacang lupa kulit menyasar elektabilitas Jokowi yang memiliki approval rating di atas 80% (survei: LSI dan SMRC), tertinggi sepanjang sejarah. Itulah mengapa keberpihakan Jokowi menjadi ancaman lawan politik, termasuk buzzer yang dulu pernah mati-matian mendukungnya.

Praktek jilat ludah sendiri buzzer politik dialasi rasa kekecewaan dan penyesalan. Menyadarkan beberapa pihak bahwa politik memang identik dengan tipuan demi kekuasaan. Sulit menerima kejujuran dan risiko fanatisme adalah kebencian yang mendalam jika yang dipuja tidak selaras dalam pilihan politiknya. Buzzer putar balik mengharap Jokowi tunduk dan patuh pada kehendaknya. Jika berbeda, maka harus bersiap dicaci maki buzzer dan pengikutnya.

Ajakan membenci lawan politik dari buzzer lebih padat intensitasnya daripada mengapresiasi pilihan calonnya. Buzzer menjadi aktor utama polarisasi dan politik identitas yang didasarkan rasa kebencian. Orientasinya bukan lagi persatuan, melainkan kemenangan merebut kekuasaan.

Namun masih ada secercah harapan dari buzzer sukarela yang mengajak generasi milenial yang belum melek politik dalam mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan setiap calon presiden. Buzzer ini tidak terikat kepentingan dan bayaran selain kesadaran pentingnya pengetahuan untuk pengikutnya. Bagi saya yang sudah tiga kali mengalami euforia pemilu, politik 2024 menjadi begitu menarik dan kompleks untuk dianalisis. Selain kehadiran calon presiden lebih dari dua pasang, kemajuan teknologi juga dimanfaatkan untuk menarik suara. Banyak konten kreator aktif menawarkan pilihan politik untuk generasi milenial agar memilih pemimpin secara logis, bukan anarkis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *