Jogja Kota Pelajar, Apakah Juga Ramah dengan Pelajar yang juga Pekerja?

Oleh: Fyna Rahmatika

Ilustrasi: Glints

Tiga tahun setelah pandemi Covid-19, mahasiswa-mahasiswi semakin ramai menjalani kehidupan di Kota Jogja. Ada yang menjalani kehidupan hanya untuk belajar, namun tidak sedikit pula yang harus belajar sambil bekerja. Ada yang mampu untuk fokus pada sekolah atau kuliah, namun tidak sedikit yang harus bekerja hanya untuk “menikmati” bangku perkuliahan. Dengan uang saku yang terbatas, orang tua berharap agar anak-anak mereka dapat belajar dan menyelesaikan pendidikan mereka di Jogja, meskipun mereka juga tidak tahu apakah uang saku yang terbatas tersebut cukup untuk menyelesaikan pendidikan atau bahkan hanya cukup untuk bertahan hidup.

Setidaknya selama tiga tahun di Jogja, 8 dari 10 mahasiswa yang pernah saya temui bercerita bahwa pengalaman mereka selama kuliah di Jogja tidak sesuai dengan ekspektasi. Mereka merasa bahwa biaya hidup di kota ini “terjangkau” dan dapat tercukupi hanya dengan kiriman dari orang tua. Namun, kondisi tersebut membuat mereka harus menambah pemasukan dengan bekerja, baik sebagai barista, penjaga toko, pengemudi ojek online, atau bahkan pekerja di industri malam. Namun, setelah menjadi pekerja di Jogja, apakah masalah kehidupan mereka berakhir?

Nyatanya, masalah ini belum terselesaikan. Sebut saja masalah gaji atau upah bagi para pekerja paruh waktu ini. Selain nilai upah yang jauh di bawah angka Upah Minimum Regional, masalah lain juga muncul, seperti tidak adanya kontrak kerja, lembur yang tidak dibayar, dan kurangnya jaminan asuransi kerja yang tidak disediakan oleh pemberi kerja. Menurut pemberi kerja, pekerja dalam golongan ini tidak memberikan kontribusi penuh dalam menjalankan usaha, dianggap kurang kompeten, dan memiliki pengalaman yang minim, sehingga pemberi kerja enggan memberikan upah dan asuransi kerja dengan sepenuh hati.

Dilema yang dihadapi para pekerja dalam golongan ini sungguh kompleks. Mereka hanya lulusan SMA, waktu yang tersedia terbatas karena prioritas utama adalah jam kuliah, dan kompetensi mereka terbatas pada hal-hal dasar seperti berbicara, menulis, memasak, dan mengemudi. Beberapa alasan tersebut cukup membuat para pekerja ini sadar bahwa pilihan kesempatan kerja mereka terbatas.

Lantas, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab untuk memikirkan dan mencari solusi atas masalah para pekerja ini? Apakah orang tua mereka, para pemberi kerja, pihak universitas, atau pemerintah daerah? Pertanyaan ini seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa kondisi para pelajar yang juga menjadi pekerja di Kota Jogja ini tidaklah baik-baik saja.

Di momentum Hari Buruh tahun 2024 ini, semoga para buruh yang juga pelajar dapat mendapatkan perhatian yang pantas dari kita semua. Mari kita pikirkan nasib mereka ke depannya, tidak hanya di Kota Pelajar Jogja, tetapi juga di kota-kota pelajar lain di mana pelajar juga terlibat sebagai pekerja. Dengan kolaborasi yang baik antara semua pihak, diharapkan akan tercipta lingkungan yang lebih ramah dan mendukung bagi para pelajar yang juga bekerja, bukan hanya di Jogja tetapi juga di kota-kota pelajar lainnya.

Selamat Hari Buruh, mari beristirahat sejenak karena esok masih ada banyak hal yang harus kita perjuangkan, setidaknya untuk mencapai hidup yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *