Mahasiswa Aktivis dan Organisasi Kini: Terasa Tidak Istimewa?
Oleh: Muhammad Iqbal Kholidin (Mahasiswa S1 Ilmu Pemerintahan UMY | Menteri Koordinator Pengetahuan & Pergerakan BEM KM UMY 2023 | Regional Vice Director ID Next Leader Yogyakarta)

Kini menjadi aktivis mahasiswa bukan lagi sesuatu yang istimewa. Pemikiran demikian dianggap sudah banyak hinggap di kepala para mahasiswa di era sekarang.
Rasa-rasanya menghabiskan waktu semalaman di café sembari ngobrol atau adu outfit akan lebih menyenangkan dibandingkan semalaman begadang suntuk ditemani kopi membahas isu negara. Loh memang kita siapa? Untuk apa menghabiskan separuh hidup kita hanya untuk menjadi peduli dengan kepentingan banyak orang yang bahkan tidak kita kenal?
Kian hari semakin terasa jika menjadi aktivis mahasiswa sudah tidak lagi menjadi pilihan utama. Bisa kita bandingkan, dulu banyak mahasiswa berlomba untuk menjadi “abang senior” yang jago orasi, debat sana-sini, atau bahkan dipandang keren karena kata-kata tinggi yang kerap dilontarkan, namun sekarang rasa-rasanya menjadi mahasiswa yang ikut magang merdeka ataupun volunteer event konser yang terasa lebih bergengsi dan istimewa.
Coba tanya kepada pengurus organisasi sekarang, bagaimana susahnya mencari anggota atas nama “pengkaderan”. Padahal dahulu banyak mahasiswa yang berebut masuk organisasi agar menambah “value”, tapi kini banyak yang mengeluhkan kesibukan organisasi lantaran dianggap sebatas menghabiskan tenaga, waktu, dan uang saja.
Dengan semua pandangan miring terhadap mahasiswa aktivis ataupun organisasi, sebenarnya apa dan siapa yang salah?
Apakah Mahasiswa Aktivis dan Organisasi Mahasiswa Masih Layak Hidup di Era Sekarang?
Dahulu saat pertama kali memasuki dunia perkuliahan, kita selalu dijejali dengan kisah romantis dari berbagai bab perubahan besar di negara kita dengan mahasiswa sebagai aktornya di lintas generasi.
Sebut saja tokoh semacam Soe Hok Gie dan Widji Tukul menjadi semacam legenda wajib yang harus diteruskan semangatnya. Sebenarnya legenda tersebut tidaklah salah, namun si pendongeng terkadang perlu merenung kembali apakah dia cocok untuk membawakan cerita tersebut?
Si pembawa cerita romantis masa lalu biasanya memiliki beberapa ciri khas seperti masa studi yang lama (bahkan seolah tidak peduli dengan masa kuliahnya), menggurui orang lain seolah juru selamat, hingga memaksakan kehendak kelanjutan kehidupan kampus harus sesuai dengan seperti zaman dahulu kala ketika dia masih di masa jaya. Lantas bagaimana orang bisa tertarik untuk mengikuti jejak para legenda semacam Soe Hok Gie atau Widji Thukul?
Sebetulnya tidak pernah ada yang salah dari idealis mahasiswa aktivis. Mereka memang kerap memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan. Ketika kondisi lingkungannya memaksa dia untuk bergerak melawan, maka dengan semangat menggebu dia akan turun ke jalan dan membela yang benar. Namun segala sesuatu tentu harus memliki evaluasi sebagai refleksi, termasuk para mahasiswa aktivis serta wadah mereka, yaitu organisasi mahasiswa semacam BEM.
Banyak beredar di sosial media bahwa organisasi mahasiswa terasa tidak berguna. Padahal penyakit utama di dalam organisasi mahasiswa sebetulnya sederhana. Sebatas terlalu banyak konflik tidak penting serta kurang adaptif. Atau bahasa kerennya: organisasi mahasiswa belum memasuki bentuk organisasi yang agile!
Organisasi mahasiswa sudah seharusnya melakukan perbaikan secara besar-besaran. Bukan perbaikan dalam bentuk memberi materi berupa uang misalkan, namun perbaikan pada alur birokratis yang tidak perlu, rapat semalam suntuk dan berhari hari, sampai musyawarah penuh konflik dengan adu retorika kosong sudah tidak laku di zaman sekarang. Perbaikan tersebut juga harus dibarengi dengan perbaikan kultur dan budaya organisasi agar bisa lebih mapan serta adaptif di masa depan.
Para mahasiswa aktivis yang menjadi anggota di dalamnya juga seharusnya perlu berbenah. Di era teknologi terdapat banyak sekali wacana serta isu yang menarik dan jauh lebih penting untuk dibahas. Wacana yang sifatnya global dengan gaya gerak yang lebih kolaboratif di barengi dengan metode manajemen organisasi yang lebih modern sudah seharusnya diterapkan.
Tentu pengembangan keterampilan serta keilmuan yang dibutuhkan di era teknologi sudah seharusnya menjadi menu wajib untuk didapatkan oleh para mahasiswa aktivis seperti penguasaan kemampuan IT, literasi teknologi, aktivisme digital dan kemampuan modern lainnya. Jangan hanya sekadar diskusi dengan tema yang ndakik-ndakik utopis tanpa aksi nyata.
Berbenah atau Mati Sekarang Juga!
Jika menilik buku Yuval Noah Harari yang berjudul 21 Lessons: 21 Adab Untuk Abad ke-21 menunjukkan bahwa pengetahuan juga memiliki ilusi. Terkadang rasa kebanggan diri yang berlebihan yang tertanam di otak kita, entah pengaruh orang lain atau malah kepercayaan diri yang terlalu tinggi, dapat membuat kita telat menyadari bahwa betapa bodohnya kita untuk membaca berbagai situasi perubahan yang terjadi. Karena itu, mahasiswa aktivis dan organisasi kemahasiswaan sudah waktunya untuk berbenah agar tidak terjebak dalam ilusi kebodohan tersebut.
Mungkin kini mahasiswa aktivis memang sudah tidak lagi istimewa seperti 5-10 tahun kebelakang. Namun penulis merasa bahwa itu bukanlah sebuah alasan untuk menghilangkan sosok mahasiswa aktivis dari kehidupan.
Coba saja bayangkan jika mahasiswa yang memiliki konsekuensi logis untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan masyarakat tiba-tiba menghilang? Lantas siapa lagi yang nantinya akan membersamai perjuangan masyarakat sipil melawan penindasan atau kebodohan?
Mahasiswa aktivis sejatinya perlu merenungi kembali istilah intelektual organic semacam kata Antonio Gramsci dalam bukunya yang berjudul Prison Notebooks.
Melalui bukunya, Gramsci mengingatkan kita sebagai mahasiswa untuk senantiasa menjadi seorang intelektual organic, seorang intelektual yang mampu melaksanakan fungsi intelektualnya sebagai pemikir yang cerdas dan peduli terhadap kondisi sekitar untuk membangun kekuatan sosial yang hegemonik dengan memproduksi pengetahuan dan memberi legitimasi pada tatanan yang dibangun oleh kekuatan sosial tersebut.
Tentu saja peran intelektual tersebut tidak dibangun hanya sebatas modal menjadi koboi kampus yang gemar bercerita kisah heroik di masa lalu tanpa mau beradaptasi dengan kehidupan masa kini. Sama halnya dengan organisasi mahasiswa yang jika tidak diselamatkan segera, nantinya akan mati tenggelam terbawa perubahan zaman di masa depan.
Pada akhirnya mahasiswa aktivis serta organisasi mahasiswa masih memiliki kesempatan untuk kembali “istimewa” dengan cara bertransformasi di banyak hal. Mulai dari tata kelola organisasi yang lebih luwes dan cerdas, memperbaiki pola pikir yang lebih progresif, tidak terjebak pada kejayaan masa lalu serta bergerak dengan lebih kolaboratif di berbagai bentuk aktivisme yang dilakukan.
Karena sebetulnya idealisme mahasiswa aktivis selalu istimewa. Sebab dibangun dari gagasan serta ideologi yang solid dan padu, namun hanya sebatas kurang mampu beradaptasi dan fleksibel saja.

