Mengupas Eksistensi Feminisme dalam Lirik Lagu Sit Still Look Pretty oleh Daya
Oleh: Aziza Rahma

Lagu Sit Still Look Pretty yang dinyanyikan oleh Daya sudah tidak asing lagi terdengar, terutama di platform media sosial seperti TikTok. Lirik “This queen don’t need a king” bahkan sempat trending dan menjadi salah satu dance populer pada tahun 2021.
Namun, di balik popularitas lagu ini, terdapat beberapa pesan feminisme yang secara jelas ditampilkan oleh Daya dalam lirik lagunya. Sebagai seorang musisi, Daya menuangkan semangat perempuan melalui lagu ini, yang jelas menggambarkan tema women empowerment.
Tuntutan Perempuan untuk Selalu Tampil Sempurna
Lagu ini dimulai dengan lirik “Could dress up to get love” yang terdengar sederhana namun sangat bermakna. Secara literal, lirik ini berarti “Aku bisa saja berdandan untuk mendapatkan cinta.” Kita sering melihat di dunia nyata bahwa perempuan kerap kali dituntut untuk menjadi sempurna agar mendapatkan cinta.
Beberapa wanita bahkan terperangkap dalam konsep ‘tips menjadi wanita yang disukai pria’ daripada menjadi diri mereka sendiri. Budaya dan media semakin memperburuk standar ini dengan menggambarkan perempuan ‘baik’ sebagai yang cantik, manis, dan rapi.
Ironisnya, perempuan yang tidak memenuhi standar kesempurnaan tersebut dianggap tidak layak untuk dicintai. Dalam lirik pembuka ini, Daya membalikkan harapan tersebut melalui bait kedua, “But guess what? I don’t wanna be that girl,” yang merupakan penolakan terhadap standar yang ada. Daya menegaskan bahwa nilai diri seorang perempuan tidak bergantung pada siapa yang mencintainya, tetapi pada dirinya sendiri.
Perempuan dan Batasan dalam Masyarakat
Melalui lirik “But I don’t wanna be the puppet that you’re playing on a string, this queen don’t need a king,” Daya menolak keras untuk menjadi perempuan yang diperlakukan semena-mena. Dalam masyarakat, perempuan sering kali dianggap lemah dan remeh, bahkan tak jarang diperlakukan dengan tidak adil.
Perempuan juga sering dipandang memiliki batasan dalam berpikir dan mengambil peran dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial. Pria cenderung menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah agar mudah dikendalikan. Melalui lirik ini, Daya ingin menunjukkan bahwa eksistensi perempuan adalah untuk mengontrol dirinya sendiri. Ia menegaskan bahwa perempuan bisa mandiri dan tidak harus selalu menunggu untuk diselamatkan oleh pria.
Perempuan sebagai ‘Korban’ Konstruksi Sosial
Patriarki menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat menjerat perempuan dari generasi ke generasi. Konstruksi sosial ini juga disinggung oleh Daya dalam lirik “That Snow White, she did right in her life, had 7 men to do the chores, cause that’s not what a lady’s for.” Lirik ini mencerminkan bagaimana perempuan seringkali distereotipkan sebagai sosok yang hanya ada di dapur.
Dalam masyarakat, ada konstruksi sosial yang menyatakan bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena pada akhirnya mereka akan berada di rumah, mengurus rumah tangga. Secara tidak langsung, perempuan memiliki lebih sedikit akses dibandingkan pria dalam meraih cita-cita dan mendapatkan posisi yang lebih tinggi dalam stratifikasi sosial. Banyak perempuan yang akhirnya menjadi korban konstruksi sosial ini, bahkan sering kali dicap sebagai pembangkang ketika mereka memperjuangkan hak mereka.
Head Bitch In Charge dan Pengendalian Diri
Daya menggunakan slang HBIC (Head Bitch In Charge) dalam lirik lagunya untuk menggambarkan kekuatan perempuan. Istilah HBIC, yang dipopulerkan oleh Tiffany “Miss New York” Pollard dalam reality show I Love New York, menggambarkan seorang perempuan yang tidak tunduk pada konstruksi sosial dan bebas mengekspresikan dirinya.
Hal ini berbanding terbalik dengan realitas sosial yang sering mengecilkan peran perempuan. Penggunaan HBIC menggambarkan bagaimana perempuan melawan dan merebut kembali ruang mereka. Daya ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin dalam hidup mereka, mengejar mimpi, dan menjadi versi HBIC mereka sendiri.
Lagu ini sangat powerful dan relevan dengan kenyataan yang dihadapi banyak perempuan. Daya merilis lagu Sit Still Look Pretty tidak hanya sebagai tren, tetapi juga sebagai sarana untuk menyuarakan feminisme dengan cara yang cepat diterima oleh banyak orang.
Lagu ini menegaskan bahwa perempuan memiliki hak untuk tampil atau tidak tampil tanpa harus dihakimi berdasarkan nilai moral atau kelayakan.
