Perempuan, Religious Trauma, dan Narasi Ketimpangan dalam Beragama

Oleh: Fatia Salma Fiddaroyni (Freelance Writer)

Ilustrasi Muda Bicara ID. | Tulisan merupakan pandangan penulis, tidak mewakili Redaksi Muda Bicara ID

Bagi sebagian perempuan, agama yang seharusnya menjadi sumber ketenangan, justru terasa seperti ‘momok’ yang menakutkan. Banyak yang merasa dihantui oleh ancaman dosa dan siksa, seakan-akan setiap langkahnya ternilai salah di mata agama. Fenomena ini dikenal sebagai religious trauma, yaitu ketika ajaran agama disampaikan dengan cara yang menekan dan menimbulkan ketakutan secara berlebihan.

Mengapa Religious Trauma Banyak Dialami Perempuan?

Di media sosial, kita sering melihat keluhan tentang bagaimana perempuan lebih sering dikaitkan dengan dosa. Misalnya saja, jika seorang perempuan tidak memakai hijab, ia diingatkan sebagai penyebab siksa bagi ayahnya di neraka. Jika ia berbicara terlalu lembut, ia disebut sumber fitnah. Bahkan dalam rumah tangga, perempuan sering dituntut untuk patuh tanpa banyak bicara, sementara laki-laki berdiri lebih kuat dibandingkan perempuan. Padahal, substansi narasi agama tidak mengajarkan demikian.

Sebetulnya, Islam tidak pernah menempatkan perempuan dalam posisi yang tertindas. Islam hadir sebagai agama yang penuh rahmat, memberikan hak dan perlindungan bagi laki-laki maupun perempuan. Namun, yang sering terjadi adalah ajaran agama disampaikan dengan cara yang tidak seimbang. Alih-alih menguatkan dan menenangkan, nasihat agama lebih banyak berbentuk ancaman bagi perempuan, sementara keringanan dan pemakluman lebih sering diberikan kepada laki-laki.

Selain itu, faktor budaya juga turut memperparah religious trauma pada perempuan. Di beberapa masyarakat, tafsir agama bercampur dengan budaya patriarkal yang lebih menekan perempuan dibandingkan laki-laki. Aturan yang sebenarnya fleksibel dalam Islam sering kali dibuat lebih kaku dan hanya diberlakukan kepada perempuan, sementara laki-laki tidak lebih demikian. Hal ini menciptakan ketimpangan yang semakin memperparah rasa takut dan tekanan yang dialami perempuan dalam beragama.

Islam Bukan Agama yang Menakutkan

Padahal, jika kita memahami Islam dengan benar, agama ini tidak datang untuk menakut-nakuti, tetapi rahmatan lil ‘alamin, membawa rahmat dan kasih sayang. Allah tidak menciptakan manusia untuk disiksa, melainkan untuk diberikan kesempatan kembali kepada-Nya. Dalam al-Qur’an, Allah berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sungguh, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini memberikan pelukan hangat bagi siapa saja yang merasa dirinya penuh dosa. Allah tidak menutup pintu bagi siapa pun yang ingin kembali. Kasih sayang-Nya jauh lebih besar dari murka-Nya. Bahkan dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah memiliki 100 bagian rahmat, dan hanya satu bagian yang diturunkan ke dunia. Sementara 99 bagian lainnya disimpan untuk Hari Kiamat. Betapa luasnya rahmat Allah bagi kita semua.

Menyeimbangkan Pemahaman Agama

Agar agama tidak menjadi beban yang menakutkan, penting bagi kita untuk memahami Islam secara utuh. Islam mengajarkan keseimbangan antara takut (khauf) dan harapan (raja’). Ketakutan akan siksa memang ada, tetapi harapan akan rahmat Allah juga harus selalu ditanamkan. Jika agama hanya dipahami dari sisi hukuman, maka wajar jika seseorang merasa tertekan.

Sebagai muslim yang berkewajiban amar ma’ruf nahi munkar, kita juga perlu lebih bijak dalam menyampaikan ajaran agama, terutama kepada perempuan. Jangan hanya menyoroti dosa mereka, tetapi juga beri pemahaman bahwa mereka adalah makhluk yang dimuliakan. Jangan hanya menakut-nakuti dengan neraka, tetapi juga tunjukkan bahwa rahmat-Nya begitu luas tanpa batas.

Para ulama dan pendakwah juga harus memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman agama yang sehat. Mereka harus memastikan bahwa ajaran yang disampaikan tidak hanya menekankan hukuman, tetapi juga menanamkan harapan dan kasih sayang Allah. Mengajarkan agama dengan penuh kasih sayang akan membuat seseorang lebih mudah menerima dan mengamalkannya dengan hati yang lapang.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Bagi perempuan yang merasa tertekan dengan narasi agama yang berat sebelah, penting untuk mencari sumber ilmu yang lebih luas dan berimbang. Jangan hanya mendengar satu sisi yang menakut-nakuti, tetapi carilah ulama, guru, atau pendakwah yang mengajarkan Islam dengan rahmat. Berteman dengan komunitas yang mendukung dan memiliki pemahaman agama yang lebih inklusif juga bisa membantu mengurangi tekanan.

Selain itu, bagi mereka yang mengalami religious trauma, penting untuk memahami bahwa Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. Jika agama terasa berat, mungkin cara memahami atau lingkungan yang membentuknya perlu dievaluasi. Berbicara dengan orang yang lebih berilmu atau mencari bimbingan keagamaan yang sehat bisa menjadi langkah yang baik untuk keluar dari tekanan tersebut.

Penutup

Religious trauma bukanlah kesalahan agama itu sendiri, tetapi bagaimana ajaran itu disampaikan. Islam adalah agama kasih sayang, bukan agama yang membuat umatnya hidup dalam ketakutan terus-menerus. Bagi perempuan yang merasa tertekan oleh narasi ketimpangan dalam beragama, ingatlah bahwa Islam melihat manusia secara adil dan penuh kasih sayang. Jika ada penyampaian agama yang membuatmu merasa tidak cukup baik, cobalah untuk mencari pemahaman yang lebih luas, karena Allah tidak pernah menutup pintu-Nya bagi siapa pun yang ingin kembali kepada-Nya.

Pada akhirnya, agama seharusnya menjadi cahaya yang menuntun, bukan beban yang menekan. Perempuan berhak merasakan ketenangan dalam beribadah, tanpa harus selalu dihantui oleh ketakutan berlebihan. Semoga kita semua bisa memahami Islam dengan lebih bijak dan menyebarkan ajaran yang penuh rahmat, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *