Quarter Life Crisis Antara Keseimbangan dan Pertahanan Diri

Oleh: Moch Edward Trias Pahlevi

Ilustrasi: Pinterest

Istilah “quarter life crisis” sangat populer di kalangan Gen Z maupun milenial. Fenomena ini dialami hampir rata-rata di kalangan zilenial dan milenial. Penulis lebih menyetujui definisi quarter life crisis menurut Hasyim dkk (2024), yang menjelaskan bahwa fase ini adalah ketika krisis emosional terjadi pada individu di usia 20 hingga 30 tahun. Krisis emosional dalam fase quarter life crisis meliputi perasaan tidak berdaya, ragu atau meragukan kemampuan diri sendiri, terisolasi, serta sering takut dan cemas tentang kemungkinan kegagalan di masa depan.

Fenomena quarter life crisis ini semakin diperparah dengan pesatnya perkembangan teknologi. Di satu sisi, perkembangan ini memudahkan Gen Z dan Gen Y dalam menjalani hidup, namun di sisi lain, banyaknya pilihan hidup justru membuat mereka kebingungan dalam menentukan pilihan yang tepat. Akibatnya, banyak dari mereka terjebak dalam pemikiran yang membuat mereka merasa tidak aman (insecure), terlalu memikirkan hal-hal yang belum terjadi (overthinking), dan lain sebagainya.

Mengenal Istilah Quarter Life Crisis Lebih Dalam

Penulis mencoba menyederhanakan definisi quarter life crisis sebagai keraguan seseorang terhadap diri mereka sendiri saat mereka memasuki transisi fase kedewasaan. Faktor lingkungan dan era teknologi yang berkembang pesat saat ini membuat setiap generasi merespons fenomena ini dengan cara yang berbeda-beda. Penulis mengutip penelitian yang dilakukan oleh Setiawan & Milati (2022), yang mensurvei kehidupan Generasi Z. “Penelitian ini mewawancarai 2.010 orang berusia 18-37 untuk memahami tingkat stres, bagaimana hal ini memengaruhi kehidupan mereka, dan cara mereka mengurangi stres. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar kaum milenial dan Gen Z mudah stres karena memikirkan pekerjaan, kesehatan, politik, sosial, dan teknologi.”

Menurut pengamatan penulis, fenomena quarter life crisis lebih banyak terjadi pada lulusan sarjana atau mereka yang berusaha menyelesaikan pendidikan mereka. Argumen ini diperkuat dengan penelitian oleh Twenge (2023), yang memaparkan beberapa pengalaman individu berusia 18-29 tahun untuk mengidentifikasi stressor yang biasa terjadi pada mahasiswa. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa respons emosional yang muncul selama fase quarter life crisis meliputi kebimbangan, kecemasan, frustrasi, dan kegelisahan. Krisis ini seringkali muncul karena media sosial, di mana orang cenderung membandingkan pencapaian diri dengan orang lain yang dianggap lebih baik dalam hal fisik, prestasi, karier, dan asmara.

Pertanyaan-pertanyaan sosial seperti “Kapan lulus?”, “Kerja di mana sekarang?”, “Kapan menikah?”, dan “Punya anak belum?” sering kali menambah tekanan dan stres bagi individu yang sedang mengalami quarter life crisis.

Keseimbangan Dan Pertahanan Diri Di Gempuran Media Sosial

Media sosial memiliki dampak positif dalam menghubungkan berbagai macam orang dan kepentingan, seperti koordinasi tugas kuliah atau pekerjaan, serta memberikan kabar kepada saudara jauh. Namun, media sosial juga memiliki dampak negatif yang mengganggu psikologis, terutama pola relasi di Instagram yang sering kali menjadi tempat persaingan dalam hal kehidupan dan pencapaian. Instagram seakan-akan menjadi representasi kehidupan nyata, sehingga menjadi tempat yang sering kali membuat seseorang merasa tidak aman dengan diri sendiri.

Media sosial menjadi tempat pembuktian bagi Gen Z dan Gen Y, karena mereka dibesarkan dengan media sosial sebagai pusat identitas digital dan teknologi mereka. Ketika mereka merasa gagal, dampaknya bisa sangat mendalam secara psikologis. Penulis menyarankan beberapa hal untuk menghadapi quarter life crisis berdasarkan pengalaman pribadi sebagai generasi milenial:

  1. Sadar bahwa ini merupakan fase yang normal. Fase ini normal bagi Gen Z dan Gen Y, terutama yang berasal dari keluarga menengah atau bawah. Ini adalah fase penting untuk mengidentifikasi lebih dalam dan mempersiapkan diri dengan berbagai rencana untuk masa depan. Carilah sistem dukungan yang tepat untuk berbagi kekhawatiran agar pikiran menjadi lebih ringan. Jika tidak ada, menulislah karena kekhawatiran perlu dicurahkan. Namun, lebih baik memiliki sistem dukungan untuk mendapatkan inspirasi dalam melakukan tindakan yang baik.
  2. Matikan media sosial untuk sementara waktu dan hentikan membandingkan diri dengan orang lain. Mematikan media sosial sementara waktu akan membuat otak lebih tenang dan memungkinkan kita untuk berkegiatan positif seperti membaca buku, olahraga, atau meditasi. Dengan semakin canggihnya teknologi, banyak aplikasi untuk mengunggah diri. Orang cenderung menunjukkan kebahagiaan dan hal-hal baik di media sosial, sehingga banyak orang merasa tidak percaya diri atau insecure. Fokuslah pada diri sendiri dan jangan membandingkan diri dengan orang lain karena setiap orang memiliki proses dan pencapaian yang berbeda-beda.
  3. Keluar dari zona nyaman dan lakukan hal baru. Lakukan hal-hal baru dan beranikan diri untuk memulai pelajaran baru. Ini akan menambah wawasan dan meningkatkan nilai diri. Dengan memaksimalkan potensi diri dan terus mencoba serta berani menanggung risiko, mental kita akan menjadi lebih tangguh. Memiliki mental yang sabar dan percaya pada proses akan membuat kita menjadi manusia yang kuat.
  4. Kenali minat Anda dan kembangkan bakat tersebut. Mengetahui minat dan bakat akan membuat kita lebih percaya diri. Insecure tanpa perubahan adalah penipuan bagi diri sendiri. Kembangkan kemampuan yang akan membuat kita lebih baik dari sebelumnya. Kurangi rasa tidak aman dan berpikir dengan rasa syukur akan membuat kita tenang. Kurangnya rasa syukur dengan kondisi saat ini sering kali lebih baik. Lakukan aktivitas bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak ada waktu untuk merasa tidak aman. Rencanakan jangka pendek dan jangka panjang untuk mengukur seberapa jauh progres dan pencapaian kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *