Stoisisme: Kunci Bahagia ala Kaisar Romawi di Abad 21

Oleh: Fadhel Fikri (Co-Founder di Sophia Insitute)

Sumber: romerriket.no

Pernah tidak, ya, Anda tiba-tiba berpikir, Jangan-jangan selama ini saya terjebak oleh emosi dan keinginan sendiri? Saya sering sekali merenungkan hal itu. Apalagi kalau mengamati manusia modern yang mudah sekali terombang-ambing oleh perasaan. Ada yang cemas berlebihan memikirkan masa depan, ada juga yang kesal karena keinginannya tidak tercapai. Memang wajar, tetapi masa iya kita mau terus-menerus menjadi boneka emosi?

Di tengah dunia yang serba tidak pasti dan penuh tuntutan seperti sekarang ini, muncul pertanyaan besar: bagaimana cara menemukan kebahagiaan yang sebenarnya? Kebahagiaan yang tidak palsu, yang membuat hidup kita menjadi berarti.

Menurutku, pandangan ini bisa menjadi salah satu solusinya. Filsafat kuno ini, meskipun sudah ada dari zaman dulu sekali, tetapi masih relevan untuk diterapkan di kehidupan modern. Stoisisme itu ibarat kompas hidup, yang memberi tahu kita cara mengendalikan emosi, menerima ketidakpastian, dan menemukan makna di balik setiap kejadian, baik atau buruk sekalipun. 

Salah satu karya Stoik yang paling terkenal adalah Meditasi (Meditations) yang ditulis oleh Marcus Aurelius. Aurelius dulunya Kaisar Romawi. Seorang pemimpin besar yang menulis jurnal pribadi tentang pergulatan batinnya. Di tulisan ini, saya mau  membahas lebih dalam tentang Meditasi dan bagaimana Stoisisme serta meditasi dapat membantu kita menemukan kebahagiaan yang autentik. 

Stoisisme: Filsafat untuk Manusia yang Merdeka 

Stoisisme lahir di Yunani kuno sekitar abad ke-3 SM, tetapi akar kebijaksanaannya sudah ada jauh sebelum itu. Filsafat ini intinya mengajarkan kita untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Jadi, kita tidak mudah terbawa arus emosi negatif atau terlalu melekat pada hal-hal duniawi. Kebahagiaan, bagi para Stoa, bukan hanya tentang senang-senang atau pencapaian, tetapi tentang hidup yang bermakna dan berbudi luhur. Sederhananya, jadilah orang baik!

Salah satu poin penting dalam Stoisisme adalah bagaimana caranya kita bisa mengendalikan emosi (apatheia). Tapi, ini bukan berarti kita mesti memendam emosi terus, ya. Maksudnya, kita harus bisa mengerti dan mengarahkan emosi itu pakai logika. Misalnya, ketika sedang kesal dengan seseorang, jangan langsung marah-marah. Coba tenangkan diri dulu, lalu pikirkan baik-baik bagaimana cara paling tepat untuk menyelesaikan masalahnya.

Stoisisme berbeda dengan hedonisme yang mengincar kesenangan fisik saja, atau nihilisme yang menganggap hidup itu tidak ada gunanya. Stoisisme itu seperti jalan tengah, yang mengajarkan kita untuk melihat hidup sebagai sesuatu yang berharga, tetapi bukan karena harta atau tahta. Hidup itu berharga karena kita menjalaninya dengan kebajikan dan rasionalitas.

Meditasi: Jendela Menuju Pikiran Kaisar Stoa 

Meditasi adalah karya klasik yang tidak ada matinya, seperti jendela yang memberi kita kesempatan untuk mengintip isi pikiran seorang Kaisar yang juga seorang filsuf. Di setiap halamannya, kita bisa merasakan bagaimana Marcus Aurelius, seorang pemimpin besar, juga punya pergulatan batin, sama seperti kita. Kadang saya berpikir, Wah, ternyata Kaisar juga manusia biasa, ya!

Ada satu kutipan Marcus Aurelius yang sangat saya sukai: Kamu bisa meninggalkan hidup ini saat ini juga, maka aturlah segala hal yang kamu lakukan dan pikirkan dengan baik. Kutipan ini seperti mengingatkan kita bahwa hidup itu singkat, dan kita harus benar-benar menjalaninya dengan sebaik mungkin.

Di bagian lain, Marcus Aurelius juga menulis tentang kematian: Kematian adalah hal yang pasti, demikian juga kehidupan, ketenaran dan aib, rasa sakit dan kenikmatan, kekayaan dan kemiskinan, semua hal tersebut sama-sama terjadi pada orang baik maupun jahat. Dari sini, kita bisa melihat bahwa Marcus Aurelius benar-benar menerima ketidakpastian hidup. Dia juga mengajari kita untuk tetap menjadi orang baik, meskipun hidup itu kadang tidak adil.   

Meditasi, menurut saya, juga bisa dikatakan sebagai bentuk self-therapy yang dilakukan oleh Marcus Aurelius. Lewat tulisan, dia mengolah emosinya, menguji keyakinannya, dan mengingatkan dirinya sendiri tentang prinsip-prinsip Stoisisme. Jurnal ini bukti bahwa manusia itu pada dasarnya sama, punya pergulatan batin, tidak peduli dia Kaisar atau rakyat biasa.

Meditasi Stoa: Menjinakkan Pikiran yang Liar 

Meditasi, dalam Stoisisme, itu seperti cara untuk menjinakkan pikiran kita yang suka liar, yang suka ke mana-mana. Tapi, meditasi ini bukan berarti kita hanya duduk diam terus mengosongkan pikiran. Maksudnya adalah, kita melatih pikiran agar bisa fokus dan melihat dunia dengan lebih jernih. Ibaratnya, meditasi itu seperti membersihkan kaca jendela agar kita bisa melihat pemandangan dengan lebih jelas. 

Ada satu konsep penting dalam meditasi Stoa adalah logos. Logos ini seperti prinsip yang mengatur alam semesta. Dengan menyelaraskan pikiran kita dengan logos, kita bisa lebih bijaksana dalam berpikir dan bertindak. Meditasi juga membantu kita untuk mengenali dan melepaskan penilaian-penilaian yang salah, yang membuat kita merasa cemas, marah, atau sedih.

Para Stoa juga mengajarkan tentang pentingnya memiliki benteng batin (inner citadel). Benteng batin ini seperti tempat persembunyian di dalam pikiran kita, tempat di mana kita bisa menemukan ketenangan dan perspektif yang benar. Meditasi adalah kuncinya untuk membangun benteng ini.

Latihan meditasinya sendiri beragam, mulai dari refleksi diri sampai visualisasi. Intinya adalah melatih pikiran agar lebih tenang dan fokus.

Stoisisme dan Meditasi sebagai Antitesis Budaya Konsumerisme 

Di zaman modern ini, kita seperti dibombardir terus dengan budaya konsumerisme dan instant gratification. Kebahagiaan diukur dari seberapa banyak barang yang kita punya dan seberapa cepat kita bisa mendapatkan apa yang kita mau. Media sosial dan budaya populer juga tidak ada habisnya memberi kita standar tentang kesuksesan, kecantikan, dan kebahagiaan yang, jujur saja, kadang membuat kita merasa tidak cukup.

Mindset kebahagiaan instan ini membuat kita jadi tergantung pada hal-hal di luar diri kita. Kita jadi mudah terbawa arus tren dan standar yang dibuat oleh orang lain.

Stoisisme dan meditasi bisa menjadi obat untuk ini semua. Filsafat ini mengajarkan kita untuk menemukan kebahagiaan dari dalam diri sendiri. Kita diajarkan untuk tidak terikat pada materi atau pujian dari orang lain. Meditasi juga membantu kita untuk lebih mengenal diri sendiri dan punya mental yang kuat, sehingga kita tidak mudah tergoda oleh janji-janji palsu dari budaya konsumerisme.

Intinya, Stoisisme dan meditasi itu alat yang bisa membantu kita menemukan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang bukan tentang senang-senang sesaat, tetapi tentang kebebasan dari emosi negatif dan keterikatan pada hal-hal duniawi.

Dengan mengendalikan emosi, menerima ketidakpastian, dan melakukan meditasi, kita bisa membentuk karakter yang tangguh dan menemukan makna hidup yang sebenarnya. Stoisisme juga mengajak kita untuk tidak terjebak dalam budaya konsumerisme dan kebahagiaan instan.

Saya jadi ingat kutipan Marcus Aurelius yang bilang, Kamu tidak pernah benar-benar hidup jika kamu tidak pernah berfilsafat. Berfilsafat itu penting sekali agar kita bisa mengerti hidup dan diri kita sendiri. Jadi, ayo kita renungkan hidup kita dan ciptakan makna kita sendiri.

Referensi

Aurelius, M. (2020). Meditasi (N. Khoiriah, Penerjemah). Basabasi.

Pigliucci, M. (2017). How to be a stoic: Using ancient philosophy to live a modern life. Basic Books.

Kinara, A. (2024). The art of stoicism. Jendela Penerbit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *