Uang 10 Ribu di Tangan yang Tepat dan Sistem yang Salah

Oleh: Febrina Nur Ramadhani (Dosen FEB Universitas Negeri Makassar)

Ilustrasi

Beberapa waktu terakhir, media sosial ramai dengan parodi “10 ribu di tangan perempuan yang tepat”. Dalam video dan meme yang viral, perempuan digambarkan mampu mengubah uang sepuluh ribu menjadi berbagai kebutuhan rumah tangga: sayur, lauk, hingga jajan anak. Sekilas, ini tampak sebagai pujian atas kecermatan dan daya juang perempuan dalam mengelola keuangan keluarga. Namun di balik tawa dan kekaguman itu, tersimpan ironi yang lebih dalam, yakni kenyataan bahwa sistem sosial dan ekonomi kita masih menggantungkan ketahanan keluarga pada kemampuan perempuan untuk bertahan, bukan pada keadilan yang menopang.

Narasi semacam ini bekerja seperti kaca pembesar atas cara masyarakat memaknai tanggung jawab ekonomi dalam rumah tangga. Pujian terhadap “perempuan yang tepat” bukan sekadar humor, tetapi juga cermin: di sana tampak pergeseran peran yang nyaris tak disadari, yakni dari tanggung jawab laki-laki yang seharusnya memastikan kesejahteraan keluarga, menjadi tuntutan agar perempuan terus mengatur, menambal, dan menyesuaikan diri dengan segala keterbatasan. Padahal, beban yang terus bergeser, meski tanpa diakui, menjadi simbol kegagalan sistem sosial ekonomi bekerja dengan adil dalam masyarakat. Kritik terhadap narasi ini penting karena ia mengaburkan persoalan struktural menjadi sekadar persoalan kemampuan individu.

Dari Pujian Menjadi Pembenaran

Masyarakat kerap menyembunyikan ketimpangan di balik pujian. Perempuan yang mampu mengatur uang belanja dijadikan simbol ketangguhan, seolah ketahanan finansial rumah tangga merupakan hasil dari keajaiban manajerial perempuan, bukan dari keseimbangan tanggung jawab dan sistem ekonomi yang layak. Pujian yang tampak lembut itu sering berubah menjadi pembenaran yang keras kepala atas gaji yang stagnan, harga kebutuhan pokok yang terus naik, dan peran laki-laki yang perlahan kehilangan bobot tanggung jawab utamanya.

Dalam banyak kasus, perempuan memang berhasil menghidupkan rumah dari uang yang nyaris tidak cukup. Namun perlu kita sadari bahwa keberhasilan itu sering lahir dari keterpaksaan, bukan pilihan. Komori (2012) menunjukkan bahwa narasi efisiensi rumah tangga sering digunakan untuk menormalkan ketidakadilan ekonomi, di mana peran perempuan dianggap wajar untuk terus menambal kekurangan sistem. Jika ketimpangan seperti ini terus dipuji tanpa kritik, maka pujian itu akan berubah menjadi alat reproduksi ketidakadilan. Maka pertanyaan yang seharusnya bukan lagi “siapa perempuan yang tepat?”, melainkan “mengapa perempuan harus selalu menjadi pihak yang menanggung ketidaktepatan sistem?”.

Penghematan Bukan Satu-satunya Solusi

Perempuan memang kerap menjadi manajer harian keuangan keluarga: menghitung belanja, menyesuaikan kebutuhan, menunda keinginan, bahkan menambal celah dengan kreativitas. Namun kemampuan berhemat tidak seharusnya menjadi alasan untuk menormalkan ketimpangan peran. Tanggung jawab finansial keluarga tidak berhenti pada kemampuan mengatur, tetapi harus dimulai dari kesungguhan memastikan ketersediaan (yang pada dasarnya merupakan tanggung jawab laki-laki, kecuali dalam kondisi darurat atau keterpaksaan).

Dalam sebuah penelitian dijelaskan keluarga yang mengelola keuangan secara partisipatif, yakni dengan melibatkan laki-laki dan perempuan dalam perencanaan, pengelolaan, dan investasi, memiliki tingkat stabilitas ekonomi yang lebih tinggi dibanding keluarga yang bertumpu hanya pada satu pihak (Gorshkova et al., 2015). Dalam konteks ini, kemampuan perempuan untuk berhemat tetap penting, tetapi bukan lagi satu-satunya atau dalam posisi menanggung beban sendirian. Ia menjadi bagian dari kerja sama yang setara, di mana tanggung jawab ekonomi dijalankan sebagai komitmen bersama, bukan peran yang diwariskan oleh tekanan sosial.

Sayangnya, sistem sosial masih lebih sibuk menyoroti “bagaimana uang dikelola?” ketimbang “kenapa uangnya tidak cukup?”. Ketika tekanan hidup meningkat, perempuanlah yang paling cepat beradaptasi, bukan karena mereka lebih sanggup, tetapi karena mereka dipaksa untuk mampu. Keberhasilan sejati keluarga seharusnya diukur bukan dari seberapa hemat seorang istri mengatur uang, melainkan dari seberapa adil pasangan saling memikul tanggung jawab dan memperjuangkan keberlanjutan ekonomi bersama.

Meninjau Ulang Definisi Keberhasilan Keluarga

Di banyak ruang publik, keberhasilan keluarga masih diukur dari seberapa jauh uang bisa diputar, bukan dari seberapa adil peran dijalankan. Selama rumah tangga masih bisa “berjalan”, masyarakat menganggap semuanya baik-baik saja, tanpa peduli siapa yang bekerja lebih keras untuk menutup kekurangan. Padahal kesejahteraan yang dibangun di atas kelelahan sepihak bukanlah tanda keharmonisan, melainkan tanda ketimpangan yang telah dinormalisasi.

Sholihah et al. (2023) menunjukkan bahwa pembagian tanggung jawab yang proporsional (bukan hanya dalam pengeluaran, tetapi juga dalam pengambilan keputusan) berkorelasi positif dengan kesejahteraan dan kepuasan hidup pasangan. Artinya, keberhasilan rumah tangga tidak semata-mata tentang uang yang cukup, melainkan tentang rasa keadilan yang dirasakan oleh keduanya. Dalam konteks ini, “10 ribu di tangan yang tepat” seharusnya bukan sekadar tentang siapa yang lebih cermat, tetapi tentang bagaimana sistem memberi ruang agar laki-laki dan perempuan sama-sama dapat hidup dan bekerja dengan layak.

Sudah saatnya kita berhenti bertepuk tangan hanya untuk perempuan yang bisa bertahan, dan mulai menuntut agar sistem sosial di sekitarnya ikut bertanggung jawab. Keluarga yang sehat berdiri di atas kesalingan, bukan pengorbanan yang tak seimbang. Ketika tanggung jawab dijalankan bersama, sepuluh ribu di tangan siapa pun akan tetap bermakna: bukan karena keajaiban tangan, tapi karena keadilan yang menopangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *