Workshop Digital ICON Dorong Kaum Muda Ubah Ide Menjadi Konten Berpengaruh

Program Digital Leaders ICON, kolaborasi Muda Bicara dan Pelopor Indonesia Terdidik, menggelar kelas “Transforming Ideas into Influence: Becoming a Digital Icon Through Meaningful Content” bersama content creator dan digital marketing specialist Ratna Atmirina pada Minggu (7/12) secara daring.
Dalam pemaparannya, Ratna menjelaskan perbedaan peran pelaku konten. “Content creator itu fokusnya pada pembuatan konten berkualitas dan original, kalau influencer itu fokusnya membangun hubungan dengan audience untuk platformnya,” terang Ratna
Sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk memahami bahwa keduanya sama‑sama penting dalam ekosistem digital, namun membutuhkan pendekatan dan keterampilan yang berbeda.
Ratna mengajak peserta memilih kategori yang jelas—mulai dari edukasi, food, beauty, hingga isu sosial—serta memahami kebutuhan audiens dengan memanfaatkan fitur interaktif di media sosial, seperti kotak pertanyaan di Instagram Story.
Ratna juga memperkenalkan strategi sederhana untuk belajar dari para panutan, “Strategi ATM itu: Amati, Tiru, dan Modifikasi. Amati dan cari role model kamu, tapi jangan dijiplak begitu saja, masukkan ide kamu sendiri,” ujarnya, yang juga menekankan pentingnya orisinalitas meski terinspirasi dari kreator lain.
Personal Branding, Algoritma, dan Monetisasi
Selain teknik dasar pembuatan konten, Ratna menekankan pentingnya personal branding dan kepercayaan diri dalam berproses sebagai calon pemimpin digital. Ia mendorong peserta untuk menuliskan identitas dan prestasi di bio media sosial agar audiens memahami “siapa” yang mereka ikuti.
“Sekarang kalau misalkan ada orang bilang itu gaya, ulang konten‑konten, enggak, ini personal branding, kak,” tegasnya, seraya mengingatkan bahwa membangun citra diri adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar pamer.
Ratna juga menjelaskan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, tetapi dibangun dari konsistensi, pemahaman algoritma, dan kesediaan berkolaborasi.
Peserta diajak memperhatikan jam unggah yang ramai, memakai fitur kolaborasi untuk memperluas jangkauan, hingga memanfaatkan tren dan tantangan yang relevan dengan nilai yang ingin dibawa.
Menutup sesi, ia menekankan potensi ekonomi dari aktivitas ini: “Media sosial itu bukan ajang buat pamer saja, tapi buat branding kita, gimana sih cara menghasilkan uang sendiri tidak minta orang tua dari TikTok, Instagram, dan endorsement yang lain,” tutur Ratna
