Muda Bicara ID dan PIT Luncurkan Digilead ICON, Dorong Budaya Digital Sehat di Kalangan Anak Muda

Platform Muda Bicara ID bersama Pelopor Indonesia Terdidik (PIT) resmi meluncurkan program Digital Leaders Icon (Digilead ICON) melalui sebuah webinar bertajuk “Reclaiming Digital Culture: From Noise to Leadership” pada Sabtu (29/11). Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom ini terbuka untuk umum dan menjadi pintu masuk rangkaian kelas kepemimpinan digital bagi anak muda.
Salah satu Founder Muda Bicara ID Moch Edward Trias Pahlevi, dalam sambutannya menekankan pentingnya keterlibatan kelompok muda dalam era digital yang sangat dinamis saat ini. “Internet sudah memperkuat banyak suara, dan kepemimpinan memberi kita kemampuan memilih suara mana yang pantas diikuti dan disuarakan. Inilah spirit dari Program ini,” terang Edward.
Agenda ini kemudian dilanjutkan dengan paparan para narasumber, yang dimoderatori oleh Pegiat PIT Siti Meirizka.
Dari “Noise” ke Kepemimpinan Digital
Pemimpin Redaksi Muda Bicara ID, Muhammad Iqbal Khatami, dalam paparannya memaparkan latar belakang lahirnya Digilead ICON. Menurutnya, ruang digital Indonesia saat ini dipenuhi berbagai fenomena yang mengkhawatirkan.
“Kita tidak boleh terjebak dalam digital culture yang hanya penuh kegaduhan. Anak muda harus bergerak from noise to leadership. pemuda perlu hadir sebagai “influencer demokrasi”: bukan semata mengumpulkan jutaan pengikut, tetapi memanfaatkan media sosial untuk membangun dialog produktif, mengawal kebijakan publik, dan mendorong pengambilan keputusan yang lebih transparan.” tegas Iqbal.
Iqbal juga membagikan temuan survei Muda Bicara ID terhadap anak muda. Meski partisipasi politik digital cukup tinggi, sekitar sebagian besar responden mengaku takut bersuara di ruang online karena khawatir menghadapi intimidasi, ancaman terhadap karier, hingga perundungan. Empat dari sepuluh responden mengaku pernah mengalami intimidasi atau dicari-cari identitasnya akibat ekspresi di media sosial.
Di sisi lain, sekitar tiga perempat anak muda mengaku lebih percaya pada influencer sebagai rujukan informasi politik dibandingkan pakar dan tokoh formal. Kondisi inilah yang ingin dijawab melalui Digilead ICON: membentuk influencer muda yang tidak hanya populer, tetapi juga berkapasitas dan berintegritas dalam menyebarkan informasi publik.
AI: Antara Peluang dan Ancaman
Pembicara selanjutnya adalah Septiaji Eko Nugroho yang merupakan Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO). Dalam paparannya, Ia mengulas peran kecerdasan artifisial (AI) dalam membentuk ekosistem informasi. Ia menjelaskan bahwa AI hari ini berkembang sangat cepat dan telah merasuk ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari rekomendasi konten di media sosial, pengelolaan lalu lintas, hingga alat bantu pembelajaran.
Menurut Septiaji, AI menawarkan beragam kesempatan: otomatisasi pekerjaan repetitif, peningkatan produktivitas, hingga membuka akses pembelajaran yang lebih luas. Namun ia mengingatkan bahwa pemuda harus memahami bukan hanya manfaat, tetapi juga risikonya. Ia mencontohkan kasus chatbot Microsoft yang berubah menjadi rasis karena dipasok data yang buruk, serta maraknya deepfake yang menyulitkan publik membedakan mana konten asli dan mana rekayasa.
Septiaji mendorong pendekatan human-centred AI. Teknologi, kata dia, harus memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya. Ia mengutip pandangan yang kini banyak beredar di kalangan akademisi: “AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang berkolaborasi dengan AI akan menggantikan manusia yang menolak AI.”
Dalam konteks etika, ia mengingatkan peserta agar tidak menggunakan AI untuk menulis penuh tugas atau karya ilmiah, mencari jawaban ujian, maupun mengambil keputusan penting tanpa pertimbangan manusia. AI sebaiknya diposisikan sebagai mitra untuk brainstorming, menjelaskan konsep sulit, atau mengecek tata bahasa, bukan pengganti proses berpikir kritis.
Budaya Digital, Cancel Culture, dan Tantangan Society 5.0
Dalam sesi yang sama, Achmed Faiz Yudha Siregar dari Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada, memotret fenomena budaya digital dari perspektif sosiologi. Ia menjelaskan bagaimana kecepatan pertukaran informasi di ruang daring melahirkan formasi budaya baru yang saling tumpang-tindih, dari budaya yang berorientasi masa lalu, masa kini, hingga masa depan, yang berjalan bersamaan dalam tempo sangat cepat.
Ia memaparkan data indeks masyarakat digital Indonesia yang menunjukkan penetrasi internet tinggi pada generasi muda, namun tidak diimbangi dengan keterampilan digital dan pemberdayaan yang memadai. “Indeks keterampilan digital dan pemanfaatan ekonomi digital masih berada di angka rendah, yang menunjukkan adanya paradoks yakni populasi digital besar, tetapi kapasitas penggunaan yang berkualitas belum merata,” terang Faiz.
Dalam situasi ini, kata Faiz, pemimpin digital masa depan harus memiliki seperangkat keterampilan kunci: kemampuan berpikir kritis, kreativitas, rasa ingin tahu, ketahanan (resilience), serta pemahaman mendalam terhadap cara kerja algoritma dan biasnya. Tanpa itu, generasi muda mudah terseret arus echo chamber dan filter bubble yang mengunci mereka dalam sudut pandang sempit.
Digilead ICON: Mencetak “Lentera” di Ruang Digital
Webinar ini sekaligus menjadi momentum peluncuran resmi program Digilead ICON (Digital Leaders Icon). Program hasil kolaborasi Muda Bicara ID dan PIT ini dirancang sebagai rangkaian kelas dan pendampingan beberapa minggu ke depan untuk membentuk pemimpin digital muda yang kritis, etis, dan peka terhadap isu publik.
Koordinator Pelopor Indonesia Terdidik, Muhammad Galih Sugandhiko, dalam pernyataan penutupnya mengajak peserta melihat teknologi termasuk AI, bukan sebagai ancaman, melainkan mitra yang harus “dipiloti” manusia. Ia menekankan pentingnya proses belajar dan berproses panjang sebelum anak muda mengambil peran di masyarakat, termasuk dalam melawan hoaks dan ujaran kebencian di media sosial.
“Ruang digital hari ini penuh hoaks dan misinformasi. Tugas kita adalah mengambil kembali budaya itu, mengisinya dengan hal-hal baik, kontributif, dan inspiratif,” ujar Galih. Ia berharap alumni Digilead ICON kelak mampu melahirkan banyak karya dan inisiatif nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Usai webinar, peserta Digilead ICON dijadwalkan mengikuti technical meeting lanjutan sebagai persiapan rangkaian kelas intensif. Melalui program ini, Muda Bicara ID dan PIT berharap lahir generasi pemimpin muda yang mampu menavigasi kompleksitas era digital sekaligus menjaga ekosistem informasi yang lebih sehat, inklusif, dan berkeadaban.
