Workshop DIGILEAD ICON Ajak Kaum Muda Rebut Ruang Publik Digital

Muda Bicara ID bersama Pelopor Indonesia Terdidik menggelar workshop daring bertajuk “Digital Culture & Digital Leadership Fundamentals” pada Sabtu (13/12/2025). Kegiatan ini merupakan rangkaian dari program Digital Leaders ICON yang diikuti peserta dari berbagai kampus dan komunitas ini berfokus pada penguatan kapasitas kepemimpinan digital generasi muda di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan.

Dalam sambutan pembukaan, Founder Muda Bicara ID, Muhammad Iqbal Khatami, menjelaskan keresahan yang melatarbelakangi penyelenggaraan workshop ini.. “Kita tidak boleh berhenti sebagai penonton di lini masa. Anak muda harus naik kelas dari sekadar noise menjadi leadership, dengan menyebarkan informasi positif, membangun dialog produktif, dan berani mengawal kebijakan publik,” ujar Iqbal.

Sebagai narasumber utama, Dosen Ilmu Komunikasi UMY, Dr. Fajar Junaedi, M.Si atau akrab disapa Mas Jun memaparkan perubahan besar yang dialami ekosistem media. Ia mengurai pergeseran dari era media cetak, mesin pencari, dan algoritma media sosial hingga masuk ke era kecerdasan buatan dan pasca-AI. Menurutnya, transformasi ini membuat setiap individu berpotensi menjadi komunikator yang berpengaruh di ruang publik digital.

“Dulu komunikator itu terlembaga di radio dan televisi. Sekarang, cukup buka gawai, siapa pun bisa siaran, bisa membuat podcast, bisa live kapan saja,” jelas Mas Jun. Ia menambahkan bahwa pesan yang dulu sangat terlembaga kini menjadi sangat personal dan dipilah oleh algoritma, sehingga literasi digital dan kemampuan memimpin di ruang online menjadi semakin penting.

Jangan Jadikan AI sebagai Rezim Kebenaran

Mas Jun secara khusus menyoroti penggunaan kecerdasan buatan dalam dunia akademik dan produksi konten. Ia mengingatkan bahwa teknologi tersebut hanya boleh ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sumber kebenaran tunggal. “AI itu bukan rezim kebenaran. Ia mengambil asupan dari mana-mana, termasuk referensi yang belum tentu berkualitas. Di sinilah pengguna harus tetap kritis, tetap membaca, dan tetap memeriksa sumber,” tegasnya.

Ia mengakui bahwa di masa lalu, akses literatur jauh lebih terbatas dan membutuhkan usaha besar, sementara hari ini informasi tersedia seketika. Namun, kelimpahan informasi tersebut, kata Fajar, justru memunculkan tantangan baru berupa kecenderungan serba cepat tanpa pendalaman. “Sekarang tantangannya bukan lagi susah mencari bahan, tetapi bagaimana kita tidak terjebak serba buru-buru dan mau meluangkan waktu untuk memahami konteks,” ujarnya.

Selain membahas aspek teknis, Fajar mengingatkan peserta bahwa kepemimpinan digital tidak cukup diukur dari jumlah pengikut atau ramai tidaknya unggahan. Ia mendorong generasi muda untuk lebih produktif menulis artikel panjang, mengembangkan gagasan dalam bentuk karya ilmiah, serta memadukan aktivisme digital dengan aksi nyata di lapangan.

Workshop “Digital Culture & Digital Leadership Fundamentals” ini diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium gagasan bagi peserta untuk mengembangkan model kepemimpinan digital yang kritis, etis, dan bertanggung jawab. Melalui kolaborasi lintas komunitas, penyelenggara menargetkan lahirnya lebih banyak pemimpin muda yang mampu merebut kembali ruang publik digital dari kebisingan informasi menuju percakapan yang konstruktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *