Gen Z Indonesia dan Jebakan Konsumerisme Digital di Tengah Krisis Global
Oleh: Rayhan Reydinata (Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Andalas)

Penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh usia 14-29 tahun, yang kerap disebut Gen Z. Gen Z hidup dengan sangat dekat dengan algoritma sosial media. TikTok, Instagram, X (sebelumnya Twitter), WhatsApp, dan YouTube menjadi media sosial utama yang sering digunakan oleh Gen Z Indonesia. Media Sosial tak hanya berfungsi sebagai media komunikasi pesan, namun juga digunakan untuk menonton video singkat, hiburan dan rekreasi, hingga mesin pencari. Pada tahun 2025, TikTok Indonesia memiliki lebih dari 125 juta pengguna aktif dengan rata-rata 90 menit screentime, membuat Tiktok menjadi media sosial dengan tingkat engagement tertinggi.
Media sosial membangun standar estetika yang tinggi. Hal ini tercermin dalam tren berpakaian yang modis, gadget terbaru, kafe instagramable, hingga gaya hidup slow living yang terkesan telah dikurasi sedemikian mungkin. Di tengah kondisi yang menuntut daya konsumerisme yang tinggi, realita ekonomi dan sosial berkata sebaliknya; rupiah melemah, harga kebutuhan pokok melonjak, perang di Timur Tengah dan ketidakpastian global yang terus datang. Meski kondisi chaos ada di depan mata, FYP terus bergulir menampilkan gaya hidup dan godaan mengkonsumsi tanpa henti.
Gen Z menghadapi tantangan yang tidak pernah ada sebelumnya; ekspektasi untuk hidup up-to-date, aesthetic, dan tetap relevan sesuai standar media sosial. Tantangan ini adalah bentuk tekanan yang nyata dan melelahkan. Standar yang dibentuk oleh media sosial tidak merepresentasikan mayoritas, namun telah berkembang menjadi norma yang tidak dapat lepas dalam interaksi sosial.
Krisis Telah Sampai di Pintu Kamar Kos
Kondisi dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik Iran dan Amerika Serikat dan blokade selat Hormuz merupakan tragedi yang memiliki efek berantai terhadap rantai pasok energi global, mendorong inflasi, dan memperkeruh ketegangan politik dalam skala internasional. Sebagai negara dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap impor, Indonesia menerima pukulan dari konflik ini secara telak. Di dalam negeri, nilai rupiah kian melemah. Rupiah mencapai nilai tukar Rp18.190,30 pada hari senin (8/6/2026), tercatat sebagai titik depresiasi rupiah paling tinggi dalam sejarah Indonesia. Nilai ini memengaruhi harga beras, melonjaknya harga bensin hingga harga kuota bulanan. Bagi mahasiswa yang perlu membayar kos Rp1,5 juta per bulan atau yang perlu menempuh jarak 20 KM setiap harinya untuk menuju kampus, ini bukanlah angka semu. Ini mempengaruhi keputusan; “mending makan siang apa beli kuota, ya?”
Gen Z yang tengah menjalankan pendidikan tinggi atau baru saja memasuki dunia kerja menjadi kelompok paling rentan dalam situasi ini. Kelompok ini tidak memiliki penghasilan tetap, namun dijepit oleh tekanan dari berbagai arah; kebutuhan wajib yang harus dipenuhi seperti pendidikan dan primer, dan tekanan untuk memenuhi standar estetika media sosial.
Konsumerisme Sebagai Pelarian
Dalam kondisi krisis, Gen Z dihadapkan dengan berbagai dilema. Keperluan pendidikan, harga kebutuhan sehari-hari yang terus naik hingga tekanan untuk memenuhi ekspektasi orang tua yang semakin tidak realistis. Menariknya, terjadi paradox di tengah kondisi perang tak berkesudahan di Timur Tengah dan melemahnya nilai rupiah. Survei yang dirilis oleh IDSCIPUB dalam meneliti tren belanja impulsif pada Gen Z pada tahun 2025 menunjukkan 82,5% Gen Z pernah membeli barang secara spontan. Yang menarik, intensitas belanja justru meningkat saat periode ekonomi yang mencemaskan. Keputusan ini dibuat bukan karena Gen Z tidak ‘melek’, namun karena konsumsi berfungsi sebagai pelarian.
Membeli sesuatu, meskipun kecil, memberikan ilusi kendali di tengah situasi yang terasa di luar kendali. Fenomena ini diperparah melalui akses kredit digital yang begitu mudah. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa pengguna layanan buy now pay later didominasi oleh kelompok usia 18–34 tahun. Fitur ini juga telah tersedia di hampir semua aplikasi e-commerce, seperti Shopee, Gopay, hingga aplikasi pinjaman online seperti Kredivo. Tanpa fondasi ekonomi yang kuat di tengah situasi krisis, tak heran banyak Gen Z yang jatuh dalam jebakan pinjaman online, judi online, dan skema penipuan lainnya. Pinjaman awal sebanyak Rp50.000 yang digunakan untuk mengunjungi kafe kekinian atau check-out barang di TikTok Shop mungkin terasa ringan, hingga akhirnya tagihan menumpuk di akhir bulan.
Sistem yang Terus Membiarkan Konsumerisme
Setiap lapisan politik – baik internasional dan nasional – tentu memberikan pengaruh yang terus menekan. Perang di Timur Tengah telah menciptakan ketegangan geopolitik yang mendorong harga komoditas naik secara global, yang berimbas pada melonjaknya harga barang-barang yang dikonsumsi Gen Z sehari-hari – dari harga bensin hingga ongkos kirim belanja online. Negara-negara berkembang seperti Brazil, India, dan Indonesia menjadi yang paling terpukul tanpa bantalan fiskal untuk membantu guncangan ekonomi.
Ironisnya, platform e-commerce global justru semakin agresif masuk ke pasar Indonesia lewat kebijakan perdagangan Indonesia itu sendiri. Ekspansi TikTok Shop dan Temu membanjiri pasar dengan produk murah, strategi bisnis global yang secara langsung mengeksploitasi kerentanan impulsif Gen Z Indonesia. Hal ini karena pajak impor yang rendah membuka peluang bagi produk asing membanjiri pasar domestik. Hasilnya kita rasakan secara langsung; produk dalam negeri kalah terhadap produk impor yang menawarkan harga lebih murah dengan fitur yang sama. Inilah ironi terbesarnya; pendapatan Gen Z tidak cukup untuk memungkinkan mereka mencintai produk lokal.
Semua tau Gen Z adalah generasi yang rasional. Inilah yang mendasari pilihan membeli produk impor dengan harga murah. Bandingkan kondisi hari ini dengan sepuluh tahun lalu: gaji memang relatif naik, namun lonjakan harga bahan pokok, kos, dan biaya pendidikan jauh lebih tinggi. Secara struktural, Gen Z hari ini lebih miskin dari generasi sebelumnya di usia yang sama, meski telah bekerja sama kerasnya. Ketika industri lokal tidak kompetitif, lapangan kerja menyusut, upah stagnan, standar estetika toksik di media sosial yang mendorong munculnya tekanan dari berbagai arah sehingga mendorong perilaku impulsif – lingkaran ini berputar kembali ke titik awal.
Gen Z Indonesia bukan generasi yang lemah. Jebakan konsumerisme di antara tekanan digital dan realitas ekonomi yang tidak menentu menghasilkan ketidakdewasaan finansial, sementara dunia memberikan semakin sedikit alasan untuk tetap optimis. Memahami fenomena ini berarti ajakan untuk masyarakat luas dan pembuat kebijakan untuk mengakui ada generasi yang sedang berjuang keras di balik layar yang selalu menyala.
