Bagaimana Gen Z dan Alpha Menulis Ulang Arti Kuasa?
Oleh: Muhammad Azam Tawakkal (Siswa MA Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta)

Selama ini, kata “kuasa” sering kali diidentikkan dengan sosok yang kaku, hierarki yang ketat, dan instruksi satu arah. Namun, disadari atau tidak, model kepemimpinan seperti itu perlahan mulai kehilangan relevansinya. Saat ini, Generasi Z sudah mulai memasuki dunia kerja dan organisasi, sementara Generasi Alpha bersiap menyusul di belakang mereka. Uniknya, kedua generasi ini membawa cara pandang yang baru dalam mendefinisikan apa itu kekuasaan.
Sebelum melihat bagaimana cara mereka bekerja sama, kita perlu melihat dulu siapa sebenarnya kedua generasi ini berdasarkan data riset. Menentukan kapan sebuah generasi dimulai memang selalu memicu perdebatan di kalangan ahli. Untuk Generasi Z, Pew Research menyebut mereka dimulai pada tahun 1997, Statistics Canada menghitungnya dari tahun 1993, sementara Resolution Foundation memulainya di tahun 2000.
Namun, seperti yang diungkapkan oleh seorang ahli pengelompokan generasi, Alexis Abramson, kepada BBC, kapan pun generasi ini dimulai, satu hal yang pasti: kelompok ini masih muda dan tidak pernah mengenal kehidupan tanpa teknologi. Mereka adalah generasi yang rata-rata sudah memegang ponsel sendiri sejak usia 10 tahun, sangat melek teknologi, namun di sisi lain memiliki ketergantungan yang tinggi pada media sosial.
Di sisi lain, ada Generasi Alpha yang lahir di rentang tahun 2011 hingga 2025. Peneliti sosial Mark McCrindle menyebut bahwa generasi termuda ini akan menjadi kelompok yang sangat besar dengan hak mereka sendiri. Meski mayoritas masih anak-anak, karakteristik mereka pun mulai terlihat jelas. Mereka jauh lebih cerdas secara digital dari generasi sebelum mereka, punya pemikiran dan opini yang kuat, tidak suka dibatasi aturan, dan sangat senang berinovasi. Perpaduan latar belakang yang serba digital dan haus akan ruang tumbuh inilah yang membuat cara pandang keduanya sangat unik ketika bertemu di dunia nyata.
Pergeseran cara pandang ini sebenarnya bisa dijelaskan melalui Generational Cohort Theory yang dicetuskan oleh sosiolog Karl Mannheim. Mannheim menyatakan bahwa individu yang tumbuh di era yang sama cenderung mengembangkan cara pandang yang mirip karena mereka mengalami peristiwa sosial dan disrupsi zaman yang sama.
Gen Z yang tumbuh besar bersamaan dengan pesatnya perkembangan media sosial, misalnya, terbiasa melihat bagaimana sebuah gerakan digital atau aspirasi kolektif di internet mampu menuntut transparansi dari institusi besar. Dari pengalaman inilah mereka belajar bahwa “kuasa” bukan lagi soal jabatan formal yang tertulis di atas kertas, melainkan sejauh mana seseorang mampu merangkul, menginspirasi, dan menggerakkan orang lain. Perubahan sudut pandang mengenai kuasa inilah yang kemudian mengubah cara mereka berinteraksi di dalam sebuah organisasi.
Ketika gaya kepemimpinan lama yang bertumpu pada jabatan mulai ditinggalkan, muncullah model kerja baru yang lebih mengedepankan kesetaraan. Hubungan kerja ini terlihat jelas ketika Gen Z menjadi pemimpin dan berkolaborasi dengan Generasi Alpha. Di era sekarang, di mana teknologi kecerdasan buatan (AI) sudah menjadi bagian dari keseharian, gaya kepemimpinan yang serba mendikte jelas tidak akan berjalan efektif. Riset psikologi organisasi menunjukkan bahwa generasi baru ini jauh lebih produktif dan nyaman dengan sistem shared leadership.
Bagi mereka, memimpin bukan tentang siapa yang berada di posisi paling atas dalam struktur organisasi, melainkan tentang bagaimana membangun kerja tim yang setara. Dalam model ini, pengaruh atau kekuasaan bersifat fleksibel. Kekuasaan akan mengalir kepada siapa pun yang memiliki kompetensi terbaik pada momen tersebut, bukan berdasarkan senioritas atau usia.
Sejiwa dengan karakter mereka yang tidak suka dibatasi oleh aturan kaku, batasan birokrasi tradisional justru akan dirasakan sebagai hambatan berpikir bagi Gen Alpha. Di sinilah sinergi keduanya terjadi. Gen Z berperan membuka jalan dengan memangkas sistem kerja yang kaku dan memberikan ruang kreatif, sementara Gen Alpha menjadi penggerak yang lincah dengan ketangkasan teknologi mereka. Namun, sinergi kerja yang lincah ini tidak akan tumbuh subur tanpa adanya iklim lingkungan yang sehat.
Oleh karena itu, fleksibilitas kerja yang dibangun oleh Gen Z dan Alpha diimbangi dengan fondasi emosional yang kuat berupa perhatian pada kesehatan mental. Dalam dunia psikologi kerja, terdapat konsep Psychological Safety yang diteliti secara mendalam oleh Profesor Amy Edmondson dari Harvard Business School. Edmondson membuktikan secara ilmiah bahwa lingkungan kerja yang kaku, feodal, dan penuh tekanan justru memicu hormon kortisol yang dapat menurunkan fungsi berpikir dan mematikan kreativitas seseorang.
Sadar akan dampak buruk tersebut, Gen Z dan Alpha lebih memilih pendekatan yang inklusif dan humanis. Organisasi atau perusahaan konvensional yang masih mempertahankan gaya lama yang otoriter harus bersiap menghadapi tantangan besar. Jika tidak mau beradaptasi, mereka akan kesulitan mempertahankan talenta-talenta terbaik dari kedua generasi ini. Sebab, bagi Gen Z dan Alpha, bergabung dalam sebuah organisasi bukan untuk mengabdi pada seorang penguasa, melainkan untuk berkolaborasi demi mencapai visi bersama. Segala perubahan pola kerja dan tuntutan kenyamanan psikologis ini pada akhirnya menuntun kita pada satu kesimpulan besar.
Pada akhirnya, judul “Bagaimana Gen Z dan Alpha Menulis Ulang Arti Kuasa?” bukanlah sebuah prediksi yang jauh di masa depan. Proses tersebut sudah mulai berjalan saat ini. Kita bisa melihatnya dari cara mereka berdiskusi di ruang digital, mengelola komunitas, hingga memulai gerakan sosial berskala besar. Bagi mereka, kekuasaan di era baru tidak lagi bicara soal kontrol dan dominasi, melainkan tentang keterbukaan dan rasa kepedulian antar-sesama.
