Generasi Muda Pesimis di Hari Kebangkitan Nasional 

Ilustrasi Nasionalisme Kaum Muda. Sumber: Unsplash

Sejarah panjang yang melatarbelakangi Hari Kebangkitan Nasional berhubungan langsung dengan semangat pendidikan dan politik, sayangnya dengan semakin bertambahnya usia bangsa ini, semakin banyak pula tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh elemen masyarakatnya. Memiliki misi menuju Indonesia emas, justru generasi muda semakin terlihat pesimis, hingga menjadi fenomena kolektif yang semakin mengkhawatirkan. 

Generasi muda kerap kali diasosiasikan dengan label yang cenderung bersifat negatif, terlihat memiliki kesan apatis dan malas. Dinamika yang terjadi setelah pesta demokrasi di awal tahun ini, politik Indonesia masih terus bergejolak, sehingga berimplikasi pada berbagai macam sektor. 

Generasi muda pesimis dengan sektor politik dan hukum di Indonesia

Laporan Survei Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia pada tahun 2022 yang dirilis oleh KedaiKOPI mencatat bahwa generasi muda pesimis pada sektor politik dan hukum di Indonesia. Praktik korupsi yang masih mengakar, menjadi salah satu alasan utama generasi muda pesimis terhadap pemerintahan Indonesia yang bersih dan transparan di masa depan. 

Nyatanya, permasalahan korupsi kian hari tak ada yang benar-benar berubah. Berdasarkan Skor Indeks Persepsi Korupsi, Indonesia stagnan ada di angka 34, meski peringkat Indonesia merosot. Banyaknya kasus korupsi di tahun ini yang terungkap juga menjadi bukti betapa seriusnya persoalan ini. 

Biaya pendidikan tinggi semakin mahal 

Tahun 2024 merupakan momentum yang penting bagi proses demokrasi di Indonesia, pemilu telah selesai dilaksanakan dan seharusnya menjadi satu harapan baru bagi masyarakat, namun yang terjadi malah sebaliknya. Saat ini, masyarakat tengah berjuang kembali untuk mengembalikan hak mereka dalam sektor pendidikan, hal ini karena kenaikan biaya uang kuliah tunggal (UKT) terjadi di berbagai macam PTN BH di Indonesia. 

Sejak masa perjuangan kemerdekaan, pendidikan adalah salah satu faktor penting untuk bisa mencapainya. Generasi muda dan pelajar adalah bagian penting penentu kemerdekaan, namun di masa sekarang ini seakan generasi muda semakin dipersulit untuk mendapatkan haknya dalam sektor pendidikan, terutama pendidikan tinggi yang merupakan faktor penting dalam keberlanjutan generasi intelektual Indonesia.

Rentannya generasi muda terjebak lingkaran kemiskinan

Pada tahun 2022 Ipsos Global merilis hasil temuan mereka mengenai What Worries the World, kemiskinan dan ketimpangan sosial masih menjadi masalah yang paling dikhawatirkan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini juga seakan diafirmasi dengan hasil temuan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran di Indonesia tinggi, terutama di wilayah perkotaan. 

Lingkaran kemiskinan erat kaitannya dengan kesempatan kerja bagi masyarakat, nyata persoalan ini terus berputar dalam lingkaran yang sama. Pendidikan yang semakin mahal, kesempatan untuk pekerjaan yang layak semakin langka, pengeluaran semakin tinggi, berakhir terjebak pada lingkaran yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin akan terus miskin. Kekhawatiran ini bukanlah tanpa sebab, pesimisme kolektif pada generasi muda adalah bentuk kekecewaan terhadap gagalnya sistem pemerintah kita untuk berbenah diri dan berpihak pada masyarakatnya. 

Hari Kebangkitan Nasional menjadi ruang untuk merenungkan kembali tentang semangat kolektif perjuangan pendidikan dan politik yang harus tetap kita jaga adanya, tak hanya pada generasi muda, namun harus dilakukan juga oleh para pemangku kebijakan dan seluruh elemen pemerintah saat ini. Hari peringatan ini tak hanya memiliki makna simbolis, generasi muda adalah kunci bagi masa depan negara, Indonesia emas tak akan tercapai jika kita gagal untuk memperbaiki sistem dan permasalahan struktural ini. Hargailah sejarah bangsa dengan merawat perjuangan untuk kemajuan bersama!

Kontributor: Alifya Ikshanty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *