Antara Kapital, Meme, dan TikTok
Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Di sudut-sudut wacana kontemporer, tersaji ketegangan menarik antara dua kutub intelektual yang sama-sama berbicara atas nama “rakyat”—namun dengan pendekatan berbeda. Di satu sisi, intelektual kiri tetap setia pada analisis Marxis ortodoks, membawa semangat pembebasan proletariat dan kritik pada kapitalisme. Di sisi lain, muncul gelombang baru analisis sosial dari dunia postmodern, yang tidak lagi percaya pada totalitas sejarah, meragukan satu kebenaran tunggal, dan lebih tertarik pada permainan simbol serta ironi.
Ketegangan ini bukan sekadar perdebatan akademik; ia adalah refleksi dinamika budaya yang lebih luas—tentang cara hidup, konsumsi, berbicara, dan makna realitas. Maka, muncul pertanyaan: apakah para Marxis telah menjadi snob, dan apakah industri budaya postmodern telah menggantikan misi pembebasan dengan pesta simulasi?
Snob Marxis di Dunia Simbol
Seorang “snob Marxis” bukanlah karikatur bodoh, melainkan figur yang mengenakan simbol perlawanan seperti Che Guevara, namun mendiskusikan penderitaan rakyat di kafe artisan. Mereka membaca Das Kapital sambil menyeruput espresso organik, berbicara tentang hegemoni kelas sambil mengunggah kritik sosial dari ponsel terbaru. Mereka melawan kapitalisme, namun hidup nyaman di ekosistem kapitalistik. Para snob ini tidak hidup di pabrik atau tengah kaum tertindas, melainkan di lingkungan akademik dan kreatif yang memberi jarak sekaligus status intelektual prestisius. Mereka membaca Gramsci, tapi jarang menyentuh realitas pekerja lokal. Mereka mengutuk neoliberalisme, namun tetap hadir dalam seminar berbayar yang dibiayai korporasi.
Industri budaya postmodern menawarkan gaya hidup sepenuhnya berbeda. Di dunia ini, keresahan atas struktur kelas atau kontradiksi kapital hilang. Dunia jadi permainan tanda, penuh simulasi seperti yang dijelaskan Jean Baudrillard. Reality show politik lebih penting daripada politik itu sendiri. Ironi menjadi bahasa utama, dan segala sesuatu dikomodifikasi—hingga perlawanan pun menjadi merchandise. Che Guevara kini menjadi desain kaus di pusat perbelanjaan, bukan simbol revolusi. Film indie, yang tadinya menawarkan kritik sosial, kini mengikuti pasar festival. Meme politik jadi bentuk perlawanan generasi Z—cepat dan lucu, namun sering dangkal. Tidak ada visi jangka panjang, tidak ada organisasi, hanya pertunjukan simbolik yang cepat berganti.
Industri Budaya Postmodern dan Kontradiksinya
Kontradiksi muncul; snob Marxis bicara tentang struktur dan ketimpangan, namun kehilangan daya tarik di masyarakat logika postmodern. Sementara industri budaya postmodern menawarkan pengalaman simbolik yang menyenangkan, namun mengabaikan akar masalah ketimpangan. Akibatnya, masyarakat penuh ironi, tapi tetap eksploitatif; penuh simulasi, tapi timpang secara nyata.
Menentukan relevansi di hari ini tidak mudah. Marxisme belum usang, sebab ketimpangan ekonomi kian tajam—kapitalisme semakin canggih dan brutal, menguras tenaga manusia dan alam. Marxisme tetap menjadi lensa tajam untuk memahami akar persoalan. Namun, masyarakat telah bergeser dari bentukan industri ala Marx menjadi masyarakat informasi: di mana tanda lebih penting dari barang, identitas menjadi cair, kekuasaan hadir dalam bentuk persuasi dan rekayasa pengalaman. Pendekatan postmodern, meski relatif dekonstruktif, menawarkan cara memandang dunia yang lebih sesuai dengan realitas budaya kini.
Posisi Marxis snob jangan serta-merta dibuang; kritik struktural tetap dibutuhkan, tapi harus dihidupi dalam pengalaman nyata. Teori saja tidak cukup—perlu aksi konkret: menjadi aktivis lapangan, membangun gerakan sosial, atau merintis ekonomi alternatif. Snobisme intelektual justru mengasingkan rakyat dari gagasan pembebasan itu sendiri.
Kritik pada industri budaya postmodern pun perlu diarahkan; bukan karena ia tidak serius, melainkan karena kerap berhenti di permukaan. Postmodernisme mengajarkan kecurigaan pada totalitas, tapi jangan sampai itu membuat lelah pada segala bentuk perjuangan. Ironi bisa jadi senjata, namun bukan tujuan akhir. Simulasi perlu dibongkar, lalu membangun realitas baru yang bukan sekadar mencemooh dari pinggir.
Di dunia yang makin dikendalikan platform, penyatuan antara analisis Marxis struktural dan sensitivitas kultural postmodern menjadi kebutuhan. Membaca Kapital sambil mempelajari algoritma, memahami Gramsci sekaligus memahami TikTok. Dekonstruksi hegemoni bukan hanya lewat buku, tapi lewat praktik kultural yang menjangkau massa.
Ada celah menarik: munculnya “post-Marxisme pop”—gerakan yang tak malu menggunakan simbol budaya populer untuk kritik serius. Intelektual kiri bisa keluar dari jerat snobisme dan menyatu dengan denyut masyarakat. Perlawanan tak mesti serius; meme bisa alat propaganda, musik ruang perlawanan, fashion simbol alternatif bila dikelola dengan sadar. Tentu ada risiko: perlawanan yang terlalu pop bisa kehilangan kedalaman. Namun, risiko lebih besar bila kritik struktural hanya beredar di seminar atau jurnal yang jauh dari publik. Tanpa sentuhan budaya populer, kritik kehilangan efektivitas. Sebaliknya, budaya populer tanpa kritik hanyalah hiburan kosong.
Jadi, pertarungan antara snob Marxis dan budaya postmodern bukan soal siapa benar, tapi siapa mampu menjembatani. Dunia ideologi tanpa simbol, atau simbol tanpa ideologi, sama-sama kurang. Kita butuh bentuk baru kebudayaan politik: tajam secara intelektual dan memesona secara kultural; radikal sekaligus relevan, reflektif dan membumi. Dalam masyarakat “attention economy”, kemampuan mengaitkan gagasan besar dengan ekspresi kecil jadi kunci. Di sinilah seni perlawanan kontemporer diciptakan—bukan sekadar menertawakan ironi dunia, tapi menari bersamanya sambil membawa pesan.
Marxisme bisa diperbarui. Tidak ditinggalkan, melainkan disegarkan dengan bahasa, media, dan cara pikir yang memahami zaman. Marxisme tak harus menjadi snob—bisa menjadi gerakan cerdas, memikat, dan inklusif; untuk kelas pekerja maupun mereka yang terjebak logika dunia yang tak adil. Industri budaya postmodern pun bisa diarahkan menuju kesadaran baru, menjadi arena bermain gagasan transformatif. Syaratnya: pelaku budaya berani menyampaikan keberpihakan, bukan berhenti pada ironi.
Kita tak harus memilih antara serius atau populer—bisa jadi keduanya. Dalam lanskap kompleks ini, bukan soal kemurnian, tapi daya jangkau. Masa depan bukan milik snob atau pemain simbol, namun milik mereka yang mampu menyatukan keduanya untuk menciptakan budaya pembebasan yang cerdas, merakyat, dan memesona.
