Fenomena Mudik dan Ingatan Kolektif tentang Kampung Halaman

Oleh: Hasrul Jihad

Ilustrasi. diolah dengan Google Gemini

Ketika saya berada dalam ruang kelas, di meja kopi, sampai dengan agenda buka bersama, dengan berbagai kawan dari berbagai wilayah di tanah rantau Yogja. “Kapan kamu mudik?” merupakan kata atau pertanyaan yang selalu muncul. Di samping itu, pertanyaan sederhana ini seolah-olah menunjukkan bahwa bulan Ramadan telah memasuki akhir atau sudah mau menjelang hari raya Idulfitri. 

Ya benar, seperti yang kita ketahui bersama, ketika menjelang hari raya Idulfitri, jalan-jalan utama di banyak kota di Indonesia dipenuhi dengan orang-orang yang membawa koper, bingkisan, dan harapan untuk kembali berkumpul dengan keluarga. Dalam beberapa hari, jutaan orang meninggalkan kota-kota besar menuju desa atau kota kecil tempat mereka berasal, fenomena ini kita dikenal sebagai mudik, yang kemudian juga telah berkembang menjadi salah satu peristiwa sosial terbesar yang secara teratur terjadi di Indonesia.

Dapat kita lihat melalui data yang disampaikan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memperkirakan bahwa sekitar 144 juta orang akan mudik pada Lebaran 2026 atau Idulfitri 1447 H yang berdasarkan survei nasional. Menurut angka-angkanya, ini telah menjadi fenomena sosial nasional yang menunjukkan hubungan yang kuat antara masyarakat Indonesia dan wilayah asalnya.

Mudik sebagai Ingatan Kolektif Masyarakat

Menarik kemudian kalua kita melihat fenomena semacam ini dari segi sosiolgis. Melalui seorang sosiolog asal Prancis yang bernama Maurice Halbwachs, memperkenalkan konsep ingatan kolektif. Halbwachs sendiri menjelaskan bahwa ingatan manusia itu dibentuk oleh pengalaman bersama dalam kelompok sosial selain pengalaman pribadi. Maka, kampung halaman dalam konteks ini dianggap lebih dari sekadar tempat tinggal pada masa lalu, tetapi ia juga merupakan tempat di mana memori sosial terbentuk dan diwariskan. Ingatan kolektif para perantau tentang rumah masa kecil mereka, kenagan mereka, jalan desa yang sederhana, masjid kampung, tradisi yang berkumpul saat lebaran dan lain-lain sebagainya.

Tidak berhenti disitu, perspektif ini juga sejalan dengan penelitian tentang migrasi yang dilakukan oleh Mochtar Naim dalam bukunya, “Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau”, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1979. Yang kemudian itu menunjukkan bahwa hubungan masyarakat Indonesia dengan daerah asal mereka tidak sepenuhnya terputus karena migrasi mereka ke kota. Desa tetap menjadi ruang identitas dan akar sosial, sementara kota sering kali menjadi tempat mencari penghidupan. Oleh karena itu, mudik tidak sekadar perjalanan yang dilakukan dari kota ke desa, namun ia juga adalah upaya simbolik untuk menghubungkan Kembali keterikatan dengan tanah kelahiran.

Mudik dan Kerinduan Seorang Perantau

Bagi banyak orang yang tinggal di perantauan, entah itu sebagai pelajar, pekerja ataupun yang lainya, mudik mungkin menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu sepanjang tahun. Hal semacam itu dapat saya rasakan, sebagai seseorang yang sedang tengah menempuh pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kemudian itu juga cukup jauh dari kampung halaman saya yang ada di Sumbawa. Sehingga, antara kota di mana Anda berada dan desa di mana Anda dibesarkan bukan hanya soal jarak geografis, tetapi juga soal jarak batin, yang seringkali membuat Anda merindukan tempat-tempat sederhana di masa lalu.

Bagi saya, ingatan tentang kampung halaman sering muncul secara tiba-tiba, bahkan di tengah kesibukan akademik dan hiruk pikuk kehidupan kota. Bayangan rumah, suara azan dari masjid di desa, atau kebersamaan sederhana yang hangat ketika seluruh keluarga berkumpul, serta kebersamaan bersama kawan kecil di kampung adalah contohnya. Kenangan-kenangan itulah yang membuat perantau seperti saya selalu ingat akan kampung halamannya. Sehingga, dalam situasi ini, mudik lebih dari sekadar perjalanan pulang. Tetapi lebih dari itu, mudik adalah perjalanan kembali ke pengalaman sosial yang membentuk identitas seseorang. Setiap tahun, jutaan orang kembali ke desa mereka. Ini bukan hanya perpindahan dari kota ke desa, tetapi juga pertemuan kembali antara orang-orang dengan ingatan kolektif yang mereka miliki.

Melalui pemikir bangsa seperti Abdurrahman Wahid, beliau mengingatkan kita juga bahwa tradisi dan kebudayaan sering menjadi cara orang merawat kemanusiaannya. Dalam situasi seperti ini, mudik dapat dianggap sebagai salah satu cara masyarakat Indonesia mempertahankan hubungan dengan sejarah sosialnya. Tradisi pulang kampung menunjukkan bahwa keterikatan terhadap kampung halaman masih menjadi bagian penting dari kehidupan sosial di tengah modernisasi dan mobilitas yang meningkat.

Dan pada akhirnya, setiap perjalanan mudik adalah perjalanan bukan hanya menuju rumah tetapi juga kembali ke tempat asal. Sebab kampung halaman selalu menceritakan sejarah kita dan asal-usul kita. Oleh karena itu, mudik sebenarnya adalah perjalanan pulang ke ingatan, tanpa harus peduli berapa jauh perjalannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *