Gadis Gendhis dan Semangat Muda di Balik Musik Keroncong
Oleh: Vinda Angguna Alya Hawa Cinta (mahasiswa ISI Yogyakarta)

Berbicara tentang kesenian Yogyakarta, tak akan ada habisnya. Di antara ragam warna budayanya, musik keroncong menjadi salah satu yang tetap eksis hingga saat ini. Berakar dari pengaruh Portugis, musik ini telah menempuh perjalanan panjang dan berevolusi dari nada-nada klasik menjadi irama keroncong modern yang lebih dinamis dan variatif. Citra baru itu kini dihadirkan oleh Kr. Gadis Gendhis, kumpulan musisi muda dari ISI Yogyakarta.
Sudah menjadi semacam kewajiban bagi mahasiswa kampus seni untuk berproses di luar ruang kelas. Tak bisa dipungkiri, ruang kelas tak lagi cukup untuk menampung luasnya kreativitas dan eksplorasi musikal. Begitu pula dengan “Kr. Gadis Gendhis”, sebuah kolektif musik keroncong yang secara harfiah berarti “Keroncong Gadis Manis”. Kelompok ini beranggotakan mahasiswa jurusan musik di ISI Yogyakarta. Sejak 2023, Gendhis tumbuh dari pertemuan beberapa gadis muda yang memiliki ketertarikan terhadap musik keroncong. Mereka adalah Callista (vokal), Cantik (flute), Lorainne (biola), Rara (cak), Desi (cuk), Liris (keyboard), Jeanneth (bass), dan Swara (cello) yang juga bertugas sebagai arranger.
Di balik lahirnya kelompok ini, terdapat cerita tentang upaya pencarian ruang yang masih terbatas bagi perempuan, termasuk dalam program studi yang digeluti oleh Liris dan Desi. Kebutuhan akan tempat berekspresi itulah yang akhirnya mendorong kelahiran Kr. Gendhis.
Gendhis memiliki formasi yang unik, hampir seluruh personelnya adalah perempuan, kecuali Swara yang awalnya hanya membantu sampai menemukan pemain cello perempuan. Namun, seiring waktu, kehadirannya justru terasa menyatu, terlebih dengan rambut panjang yang membuatnya mudah berbaur secara visual dan menjadi daya tarik tersendiri.
Acara yang diisi oleh Gendhis biasanya berkaitan dengan konsep tradisional. Tak jarang pula para penyelenggara mengundang mereka secara khusus sebagai bintang tamu. Beberapa di antaranya adalah Keroncong Pesisiran, Pekan Yabbiekarta, Festival Klangenan, dan berbagai gelaran budaya lainnya. Mulai dari panggung kecil hingga ajang yang lebih besar, Gendhis membawakan berbagai repertoar keroncong klasik seperti “Bengawan Solo,” “Ayo Ngguyu,” dan “O Sarinah,” serta lagu populer seperti “Birds of a Feather,” “Angin Pujaan Hujan,” dan “Dharma.” Semua karya itu mereka hadirkan dalam aransemen baru yang dikemas dengan format dan gaya keroncong progresif khas Gendhis. Kehadiran mereka di berbagai panggung ini menunjukkan bahwa minat terhadap seni tradisional Jawa tetap kuat dan terus mendapat tempat di hati penikmatnya.
Gendhis dalam permainannya sering menghadirkan nuansa keroncong yang telah mengalami modernisasi. Hal ini tampak dari akulturasi pola ritmis berbagai genre serta penggunaan passing chords yang erat dengan musik jazz. Salah satu ciri khas yang mereka suguhkan adalah pengolahan tema melodi oleh instrumen flute dan biola. Tema-tema tersebut sering dikembangkan menjadi filler, bahkan kadang diulang untuk lebih dari satu lagu, serta gaya centil yang selaras dengan visual mereka di atas panggung. Kebaya yang dikenakan menjadi bagian dari karakter Gendhis, yaitu lembut, anggun, manis, dan tetap memancarkan rasa percaya diri. Pendekatan ini menciptakan warna khas “Gendhis”, sebuah identitas musikal yang terasa wajar dan langsung dikenali ketika mendengar interpretasi keroncong mereka.
Di tengah kesibukan tampil dari satu panggung ke panggung lainnya, Gendhis kini juga sedang bersiap merilis single terbaru berjudul “Gendhis.” Sesuai dengan namanya, lagu ini digarap dengan suasana yang centil, enerjik, dan sedikit nakal. Karakteristik khas yang selama ini melekat pada permainan mereka kini diterjemahkan ke dalam karya orisinil pertama. Lagu ini sempat muncul dalam berbagai penampilan, sehingga para penonton yang pernah mendengarnya tentu akan merasa akrab ketika versi resminya dirilis nanti. Sebuah langkah baru menandai perkembangan perjalanan musikal Gendhis dan layak dinantikan oleh para penikmat musik keroncong.
Menurut saya, hadirnya Kr. Gadis Gendhis menambah warna baru dalam lanskap apresiasi seni, sekaligus memperkaya keberagaman kolektif musik di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Melalui Gendhis, lagu-lagu keroncong dapat dinikmati oleh berbagai kalangan tanpa menghilangkan ruh dan esensi keroncong aslinya.
