Hilirisasi Nikel Indonesia Harus Berjalan Seiring dengan Komitmen Keberlanjutan
Oleh: M. Aditiya Silvatama
Nikel merupakan unsur penting dalam komponen baterai yang digunakan dalam kendaraan Listrik (EV). Nikel menjadi sangat penting untuk transisi energi yang sekarang menjadi perhatian utama banyak negara di dunia. Permintaan nikel yang semakin meningkat membuat penambangan nikel yang dilakukan lebih ekspansif. Indonesia merupakan penghasil terbesar nikel dunia, lebih dari setengah produksi nikel dunia dihasilkan oleh Indonesia. Ini merupakan keuntungan bagi Indonesia, ditambah dengan kebijakan hilirisasi yang melarang ekspor bijih nikel, perusahaan harus mengolah bijih nikel terlebih dahulu di dalam negeri membuat nilai nikel bertambah berkali kali lipat.
Namun, seperti halnya industri ekstraktif lainnya, industri nikel membawa risiko besar terhadap lingkungan. Ancaman deforestasi, pencemaran air, dan kerusakan ekosistem menjadi konsekuensi dari aktivitas penambangan dan pengolahan nikel. Peningkatan produksi nikel Indonesia yang sangat pesat diperkirakan mencapai 2,2 juta ton pada tahun 2024 juga meningkatkan resiko kerusakan yang ditimbulkan. Alih alih mendukung transisi energi, industri hilirisasi nikel yang tidak dikelola dengan baik justru akan merusak lingkungan.
Dalam kenyataannya banyak perusahaan-perusahaan masih kurang menerapkan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang baik. Di sinilah peran penting pemerintah diperlukan, yaitu untuk menetapkan dan menegakkan standar ESG yang lebih tinggi. Indonesia, khususnya masyarakat di sekitar tambang, tidak boleh menjadi korban atas nama transisi energi dan pembangunan ekonomi, sementara yang mereka terima adalah kerusakan lingkungan.
Produksi nikel dengan ESG yang baik akan sejalan dengan transisi energi
Nikel sebagai komponen penting dalam kendaraan listrik (EV) memiliki peran strategis dalam percepatan transisi energi. Namun, hal ini menjadi tidak sejalan jika produksi nikel menimbulkan kerusakan lingkungan. Transisi energi bertujuan untuk menjaga keberlanjutan, tetapi penggunaan nikel yang diproduksi dengan standar ESG rendah justru merusak lingkungan. Oleh karena itu, transisi energi yang adil dan berkelanjutan harus memastikan seluruh rantai pasok mineral, termasuk nikel, dikelola secara bertanggung jawab dan ramah lingkungan.
Mampukah Indonesia menghasilkan nikel yang lebih hijau ?
Penggunaan energi terbarukan, peningkatan standar ESG akan membuat biaya produksi semakin tinggi. Namun, kenaikan biaya ini menurut analisis Lembaga Think-Tank Transisi Bersih, akan berdampak pada peningkatan nilai tambah dalam negeri. Dalam hasil risetnya menyatakan bahwa jika biaya produksi murah keuntungan akan mengalir pada pemilik usaha yang mayoritas adalah orang asing sehingga keuntungan tidak mengalir di dalam negeri.
Sementara jika biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan naik maka keuntungan akan mengalir di dalam negeri sehingga dapat menghidupkan dan memutar aktivitas ekonomi nasional. Dari analisis tersebut berarti dengan menggunakan energi bersih sebagai sumber energi dan peningkatan standar ESG dalam industri hilirisasi nikel akan menguntungkan Indonesia dalam dua hal sekaligus. Pertama, meminimalkan kerusakan lingkungan dan kedua, nilai tambah ekonomi dalam negeri akan meningkat sebagai efek dari peningkatan biaya produksi.
Keuntungan Indonesia sebagai produsen dan pemilik cadangan terbesar
Kenaikan biaya produksi akan berdampak pada naiknya harga nikel. Sebagai produsen dan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi strategis di pasar global, sehingga harga nikel cenderung mengikuti dinamika produksi dan kebijakan Indonesia. Dengan posisi tersebut, Indonesia juga memiliki kemampuan untuk mengontrol produksi dan ekspor nikel. Jika Indonesia menurunkan produksi, pasar kemungkinan besar akan merespons dengan kenaikan harga nikel.
Kondisi ini seharusnya memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk mendorong hilirisasi nikel yang lebih berkelanjutan. Secara bertahap, pengolahan nikel dapat beralih menggunakan energi bersih sebagai sumber energi utama dan meningkatkan standar ESG. Bahkan, dengan kondisi pasar yang menguntungkan tersebut, pemerintah bisa mempertimbangkan untuk mengurangi atau bahkan mencabut insentif investasi di sektor nikel tanpa mengganggu daya saing Indonesia di pasar global.
Hilirisasi nikel tidak boleh mengorbankan lingkungan dan masyarakat lokal. Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin produksi nikel yang berkelanjutan. Dengan komitmen pada energi bersih dan standar ESG yang kuat, Indonesia tidak hanya bisa memperkuat posisi di pasar global, tetapi juga memastikan bahwa manfaat ekonominya benar-benar dirasakan oleh bangsa sendiri, bukan dengan menggadaikan masa depan lingkungan.
