Ironi Konflik Diam di Sekolah

Oleh: Sintiya Rahwani (Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)

Foto: Google

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, yang mana generasi muda justru dikenal sebagai kelompok yang paling vokal dan sering dalam menyuarakan pendapatnya terutama di media sosial. Namun, ironi muncul ketika keberanian tersebut tidak tercermin dalam kehidupan nyata, khususnya di lingkungan sekolah. Banyak siswa memilih diam saat menghadapi konflik, baik dengan teman sebaya mereka maupun dengan guru. Fenomena ini menunjukkan adanya “konflik diam” yang tersembunyi, namun berdampak besar terhadap kondisi psikologis dan sosial pada siswa.

Dalam perspektif Manajemen Konflik, sikap diam ini dapat dikategorikan sebagai gaya untuk menghindari konflik (avoidance). Thomas dan Kilmann menjelaskan bahwa individu dengan gaya ini cenderung menghindari konfrontasi karena merasa tidak memiliki kekuatan, takut terhadap konsekuensi, atau tidak percaya bahwa konflik dapat diselesaikan secara adil (Thomas & Kilmann, 1974). Di lingkungan sekolah, siswa sering merasa tidak berani bicara karena takut pada guru serta mereka merasa tidak adanya ruang yang membuat mereka merasa aman untuk berpendapat. Fenomena konflik diam ini bukan sekadar asumsi semata saja, melainkan tercermin dalam berbagai kasus nyata yang terjadi belakangan ini. Sepanjang tahun 2025, kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan mengalami peningkatan signifikan. Data menunjukkan bahwa terdapat ratusan korban kekerasan di sekolah, termasuk kasus yang berujung pada kematian siswa (NU Online). Lebih memprihatinkan lagi, banyak kasus yang tidak terungkap sejak awal karena korban memilih untuk diam akibat rasa takut atau tekanan sosial.

Salah satu contoh nyata yang dikutip dari Metro TV News, adalah kasus perundungan di SMP Negeri 19 Tangerang Selatan, di mana seorang siswa meninggal dunia setelah mengalami kekerasan dari teman sekelasnya . Tragedi ini mengungkap bahwa konflik tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara perlahan tanpa penanganan yang serius. Ironisnya, masalah baru mendapat perhatian setelah menjadi viral di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah dan lingkungan sekitar sering terlambat menyadari konflik yang sudah terjadi sejak lama.

Tidak hanya itu, fenomena konflik diam juga dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius ketika tidak ditangani. Dalam kasus lain, seorang siswa di SMAN 72 Jakarta melakukan aksi ekstrem berupa ledakan di lingkungan sekolah yang melukai puluhan orang. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa tindakan itu terjadi karena tekanan emosi dan rasa kesepian yang dialami oleh pelaku. Kasus ini membuktikan bahwa konflik yang dipendam bisa berubah menjadi tindakan berbahaya yang merugikan banyak orang serta banyak pihak lainnya.

Di sisi lain, dikutip dari NU Online perkembangan era digital turut memperparah kondisi ini. Data menunjukkan bahwa sekitar 45% anak Indonesia pernah mengalami perundungan di ruang digital, seperti melalui aplikasi pesan atau media sosial . Hal ini menciptakan paradoks: siswa terlihat aktif dan berani di dunia maya, tetapi justru memilih diam di dunia nyata. Media sosial menjadi ruang pelarian, bukan sebagai solusi.

Fenomena ini memperlihatkan adanya perubahan pola komunikasi generasi muda. Di dunia digital, siswa memiliki kontrol penuh atas apa yang ingin mereka sampaikan. Namun, di dunia nyata, mereka dihadapkan pada norma, tekanan sosial, dan hierarki kekuasaan yang membuat mereka enggan untuk berbicara. Akibatnya, konflik tidak pernah benar-benar diselesaikan, melainkan hanya dipendam.

Dampak dari konflik diam ini tidak bisa dianggap remeh. Secara psikologis, siswa dapat mengalami stres, kecemasan, hingga depresi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi perkembangan kepribadian dan kemampuan sosial mereka. Bahkan, dalam kasus ekstrem, konflik yang tidak terselesaikan dapat berujung pada tindakan kekerasan atau bunuh diri, sebagaimana yang terjadi dalam beberapa kasus perundungan di Indonesia (YKP (Yayasan Kesehatan Perempuan)).

Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya yang serius dalam mengelola konflik di lingkungan sekolah, karena sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang sosial yang harus aman dan inklusif. Guru dan tenaga pendidik perlu menciptakan lingkungan yang mendorong keterbukaan, sehingga siswa merasa aman untuk menyampaikan pendapat dan mengungkapkan masalah yang mereka hadapi.

Selain itu, pendidikan tentang manajemen konflik juga perlu diperkenalkan sejak dini. Siswa perlu diajarkan bahwa konflik bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan sesuatu yang dapat dikelola secara konstruktif. Dengan demikian, mereka tidak lagi memilih diam, tetapi mampu menghadapi konflik dengan cara yang sehat dan produktif.

Pada akhirnya, fenomena konflik diam di sekolah adalah cerminan dari masalah yang lebih besar dalam sistem pendidikan kita. Di tengah era digital yang serba terbuka, masih banyak siswa yang merasa tidak memiliki ruang untuk bersuara. Ironi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak selalu sejalan dengan kemajuan dalam aspek komunikasi dan hubungan sosial. Jika tidak segera diatasi, konflik diam akan terus menjadi bom waktu yang mengancam masa depan generasi muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *