Kehampaan di Tengah Keramaian: Krisis Makna Kaum Muda Masa Kini

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Ilustrasi. Muda Bicara ID

Di tengah riuhnya dunia digital, hiruk-pikuk karier, dan tuntutan akan “kehidupan ideal”, banyak anak muda modern justru menghadapi paradoks: kehampaan eksistensial. Mereka terlihat aktif, tersenyum dalam unggahan, produktif dalam bekerja, dan hadir di berbagai ruang sosial, namun di dalam diri mereka, ada kekosongan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seakan-akan mereka hidup dalam dunia yang terus bergerak, namun kehilangan arah ke mana geraknya.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan sesaat atau bentuk kegalauan anak muda biasa. Ini adalah gejala dari pergeseran besar dalam struktur nilai, relasi, dan makna hidup manusia modern. Dalam kacamata psikologi eksistensial, keadaan ini disebut sebagai alienasi eksistensial—keterasingan yang mendalam dari diri sendiri, dunia sekitar, dan dari hal-hal yang memberi makna.

Menurut Anthony Giddens, modernitas membawa kebebasan individu yang luar biasa, tetapi juga menciptakan kekosongan makna karena institusi tradisional yang dulu memberi arah hidup telah melemah. Kebebasan menjadi beban, dan pilihan berubah menjadi kecemasan. Ernest Becker dalam The Denial of Death menyebut bahwa manusia modern hidup dalam penyangkalan terhadap kefanaan, yang menyebabkan obsesi mencari makna melalui pencapaian eksternal, yang ironisnya justru memperkuat rasa keterasingan.

Sigmund Freud menyatakan bahwa penderitaan manusia modern bukan lagi soal fisik, tetapi psikis. Viktor Frankl mengembangkan pandangan ini dalam terapi logonya dan menyebut bahwa penderitaan terdalam manusia berasal dari kekosongan eksistensial—rasa bahwa hidup tidak lagi bermakna. Dalam Man’s Search for Meaning, Frankl mengisahkan pengalamannya di kamp konsentrasi, di mana mereka yang mampu bertahan hidup bukanlah yang paling kuat secara fisik, tetapi yang mampu menemukan makna dalam penderitaan.

Masalahnya, kaum muda hari ini hidup dalam sistem sosial yang tidak memberi cukup ruang untuk kontemplasi, keterlambatan, atau bahkan keraguan. Budaya digital mendorong mereka untuk selalu “on”, aktif, responsif, dan terus bergerak. Dalam bukunya Digital Minimalism, Cal Newport menunjukkan bagaimana teknologi digital yang dirancang untuk keterlibatan maksimum justru menjauhkan manusia dari keheningan yang dibutuhkan untuk refleksi eksistensial. Sunyi menjadi musuh, dan dalam upaya menghindarinya, manusia modern menumpuk distraksi yang justru memperdalam kehampaan.

Emile Durkheim, dalam karya klasiknya tentang bunuh diri, memperkenalkan istilah anomie, kondisi di mana norma-norma sosial kehilangan kekuatan mengikat, sehingga individu kehilangan arah. Fenomena ini tampak nyata dalam kehidupan kaum muda yang dikelilingi oleh banyak pilihan hidup, namun kehilangan nilai atau sistem keyakinan yang memberi makna. Mereka bisa menjadi siapa pun, tetapi justru merasa tidak menjadi siapa-siapa.

Spiritualitas yang dulu menjadi sumber makna kini juga mengalami krisis kepercayaan. Banyak kaum muda merasa terasing dari institusi keagamaan yang dianggap terlalu dogmatis atau tidak relevan dengan realitas kontemporer. Namun, menurut Charles Taylor dalam A Secular Age, situasi ini bukan berarti hilangnya iman, melainkan pergeseran dalam cara manusia mencari transendensi. Munculnya spiritualitas alternatif seperti meditasi, praktik kesadaran, dan komunitas yang menjunjung nilai keautentikan adalah bentuk baru pencarian makna.

Zygmunt Bauman, dalam Liquid Modernity, menggambarkan kondisi dunia hari ini sebagai cair, di mana tidak ada yang stabil dan segala hal cepat berubah. Dalam dunia seperti ini, identitas pun menjadi sementara, hubungan menjadi transaksional, dan tujuan hidup menjadi kabur. Kaum muda hidup dalam ritme yang serba cepat, tetapi tidak punya waktu untuk bertanya: “Untuk apa semua ini?”

Krisis ini bukan hanya soal psikologi individu, tetapi juga struktur sosial dan kultural. Oleh karena itu, penyelesaiannya bukan sekadar terapi personal, melainkan perubahan cara pandang terhadap hidup. Pendidikan perlu membuka ruang untuk eksplorasi makna dan pertanyaan filosofis. Dunia kerja perlu memberi nilai pada kesejahteraan (well-being), bukan sekadar produktivitas. Dalam ruang sosial, kita perlu menciptakan budaya yang mengizinkan manusia untuk menjadi otentik, bukan sekadar tampil baik di mata orang lain.

Secara pribadi, setiap individu perlu diberi kebebasan untuk menjalani krisis eksistensialnya tanpa tekanan untuk segera “baik-baik saja”. Dalam The Road to Character, David Brooks menekankan pentingnya membangun kehidupan batin yang mendalam, bukan hanya identitas publik yang sukses. Karena makna tidak ditemukan di luar sana, melainkan dibentuk secara perlahan lewat relasi, penderitaan yang dijalani dengan sadar, dan keterbukaan terhadap pertanyaan-pertanyaan dasar tentang hidup.

Jika kaum muda hari ini terlihat gelisah, itu bukanlah tanda kelemahan. Bisa jadi itu adalah tanda bahwa mereka sedang tidak ingin hidup secara dangkal. Mereka sedang menolak untuk menjadi manusia yang hanya sibuk, sukses, dan sibuk lagi tanpa pernah bertanya: “Untuk apa semua ini?” Dalam dunia yang begitu ramai namun tak ramah terhadap perenungan, keberanian untuk mempertanyakan hidup adalah bentuk keteguhan batin yang paling penting.

Kehampaan yang mereka rasakan bukan akhir dari segalanya. Justru bisa menjadi pintu masuk menuju kehidupan yang lebih sadar, utuh, dan penuh makna. Karena pada akhirnya, seperti kata Viktor Frankl, “Manusia tidak ditentukan oleh kondisinya, melainkan oleh sikapnya terhadap kondisi itu.” Dan dari kekosongan itulah, kadang muncul benih kebijaksanaan yang paling dalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *