Kontrasepsi Bukan Hanya Urusan Perempuan, Laki-laki Juga Harus Berperan!

Oleh: Khairunisa Putri (Mahasiswi Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta)

Iliustrasi. Sumber: Detik.com


Di Indonesia, perencanaan keluarga dan pemilihan metode pencegahan kehamilan masih kerap dianggap sebagai domain eksklusif perempuan (Kompas, 2022). Sebagai bagian dari keputusan reproduksi, seharusnya perencanaan ini melibatkan pertimbangan bersama pasangan, mengingat dampaknya terhadap kesehatan, ekonomi, dan dinamika rumah tangga. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa hanya 2,45% laki-laki yang aktif berpartisipasi dalam program keluarga berencana, dengan penggunaan kondom sebesar 2,2% dan vasektomi hanya 0,25% (Detikhealth, 2023). Fenomena ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran laki-laki tentang hak-hak dan kesehatan reproduksi mereka, terbatasnya pilihan metode kontrasepsi maskulin, serta kurangnya sosialisasi dan edukasi dari pemerintah. Di sisi lain, perempuan memikul 97,5% tanggung jawab fisik, mulai dari efek samping hormonal hingga risiko medis jangka panjang serta beban psikososial, seperti stigma masyarakat terkait pengendalian fertilitas.

Di Indonesia, pengaturan fertilitas sering kali dipandang sebagai urusan privat perempuan, dan hal ini diperkuat oleh kebijakan negara melalui UU No. 52/2009 tentang Pengendalian Penduduk yang menyebutkan bahwa layanan perlindungan diperuntukkan bagi pasangan suami-istri. Akibatnya, program-program Keluarga Berencana (KB) lebih mengutamakan pasangan yang telah menikah dan secara implisit menormalkan beban ganda perempuan sebagai pengguna kontrasepsi serta penanggung jawab utama keberhasilan program KB. Survei PSKK UGM (2023) mengungkapkan bahwa 68% laki-laki menganggap kontrasepsi sebagai “urusan istri”, sementara 72% perempuan merasa tidak memiliki kuasa dalam pemilihan metode KB. Persepsi ini diperkuat oleh media massa yang sering menggambarkan program KB dengan iklan yang berfokus pada perempuan, seperti slogan “Dua Anak Cukup” yang selalu menampilkan ibu-ibu sebagai subjek utama.

Mengubah Paradigma
Program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia masih terjebak dalam paradigma bias gender yang mengakar. Masyarakat seringkali menyamakan vasektomi dengan kebiri, padahal ini adalah kekeliruan konseptual yang berimplikasi serius terhadap partisipasi laki-laki dalam program KB. Berbeda dengan kebiri (orkiektomi), yang menghilangkan testis dan menurunkan libido, vasektomi hanya memotong saluran vas deferens tanpa mempengaruhi produksi hormon testosteron (Merdeka.com, 2024). Kenyataannya, metode kontrasepsi laki-laki, yaitu kondom dan vasektomi, menunjukkan risiko masalah yang sangat rendah dibandingkan dengan metode kontrasepsi perempuan. Kondom, sebagai metode kontrasepsi non-hormonal dan non-invasif, memiliki efek samping minimal yang umumnya terbatas pada kemungkinan alergi lateks pada sebagian kecil pengguna (Antara, 2023). Sementara itu, risiko komplikasi dari prosedur vasektomi sangat rendah, dengan kemungkinan infeksi, pembengkakan, atau nyeri ringan yang biasanya bersifat sementara dan mudah ditangani. Dibandingkan dengan kontrasepsi perempuan, risikonya jauh lebih tinggi, seperti penggunaan kontrasepsi hormonal jangka panjang yang dapat menyebabkan penurunan kepadatan tulang (22% pada pengguna suntik 3 bulan), gangguan menstruasi lebih dari 6 bulan (18% pada pengguna implan), dan komplikasi infeksi panggul (9% pada pengguna IUD) (Detikhealth, 2023).

Pentingnya Keterlibatan Laki-laki dalam Kontrasepsi
Partisipasi laki-laki dalam kontrasepsi sering kali dipandang hanya sebagai “dukungan” bagi pasangan perempuan, padahal hak dan tanggung jawab mereka dalam perencanaan keluarga adalah hal yang fundamental. Data meta-analisis di Indonesia menunjukkan bahwa suami yang terlibat dalam pengambilan keputusan meningkatkan kemungkinan penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) hingga 3,025 kali lipat (Safiroh, 2023). Sementara studi global mengungkapkan bahwa diskusi antar pasangan menggandakan keberlanjutan penggunaan kontrasepsi. Ketika laki-laki berbagi tanggung jawab kontrasepsi, risiko kesehatan reproduksi perempuan dapat diminimalkan. Misalnya, penggunaan kondom tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi juga mengurangi penularan Infeksi Menular Seksual (IMS). Studi di Uganda menunjukkan bahwa partisipasi suami menurunkan 30% kasus IMS pada pasangan (Wambete, dkk, 2024).

Strategi Meningkatkan Keterlibatan Laki-Laki
Strategi pertama adalah sosialisasi melalui ceramah dan diskusi kelompok yang mampu meningkatkan pengetahuan laki-laki tentang KB sebesar 40% dan sikap positif sebesar 35% (Nurrasyidah, 2021). Efektivitas ini perlu diperluas dengan mengintegrasikan modul kesehatan reproduksi berbasis gender ke dalam kurikulum sekolah menengah. Materi pembelajaran harus menekankan konsep tanggung jawab reproduksi bersama, menghindari narasi yang secara implisit menempatkan perempuan sebagai “penanggung utama” dalam pengaturan fertilitas. Strategi kedua adalah mempromosikan penggunaan kontrasepsi melalui media massa dengan melibatkan figur publik laki-laki yang terkenal dan terbuka tentang penggunaan kontrasepsi. Terakhir, pemerintah perlu membuka ruang pelayanan kesehatan yang ramah laki-laki di puskesmas dan rumah sakit, menyediakan konseling privat, serta melatih tenaga medis laki-laki untuk mengurangi rasa canggung pasien. Pelayanan vasektomi gratis, seperti yang diinisiasi oleh BKKBN, harus disertai dengan sosialisasi intensif mengenai prosedur yang aman dan reversibel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *