Kulihat Indonesia di Pandora 

Oleh: Bisairi Yanto (mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang)

Foto: Canva

Dua tahun lalu, untuk pertama kalinya saya menonton saga avatar pertama garapan james cameron yang rilis tahun 2009. Pada mulanya saya menonton film ini sekedar untuk hiburan dan hanya untuk mengagumi visual dan alur ceritanya yang luar biasa bagus. sampai kemudian saya menyadari satu hal, avatar bukan hanya hasil imajinasi kosong penulisnya melainkan visualisasi dan cerminan bagaimana manusia memandang dan meperlakukan alam. Beragam konflik di dalamnya tak jauh berbeda dengan yang kita temui sehari-hari, di indonesia.

Avatar adalah film fiksi ilmiah yang menceritakan tentang konflik manusia sebagai penambang sumber daya dan perusak ekosistem planet pandora dengan suku Na’vi sebagai suku asli atau pribumi yang terusik di tanahnya sendiri. Film ini berpusat pada perjalanan jake sully seorang mantan marinir yang dikirim ke pandora untuk menggantikan saudara kembarnya dalam program ‘avatar’ subuah program yang menggunakan tubuh hibrida manusia-Na’vi untuk berinteraksi dengan pribumi dan menjelajahi lingkungan pandora. Awalnya jake dikirim untuk memata-matai suku Na’vi yakni klan Omatikaya dan akhirnya menjadi jatuh cinta pada Neytiri dan budaya pandora, hingga kemudian berbalik menjadi musuh manusia dan malah menjadi pahlawan pandora dengan memimpin suku Na’vi mengusir manusia sebagai penjajah.

Dalam film kita diperlihatkan dengan dua cara pandang dalam memperlakukan alam yang sama sekali berlawanan, manusia menganggap alam sebagai aset mati yang sah untuk dirampas demi kepentingan keuntungan dan keuasaan sedangkan suku Na’vi menganggap alam sebagai bagian darinya dan menganggapnya sebagai entitas hidup yang mesti di jaga dan dilindungi. Pada film pertama kita di bawa untuk melihat sebuah dunia yang hidup dalam keserasian dan kesaling terhubungan. Pandora dengan suku Na’vi-nya memandang alam bukan hanya sebatas ruang hidup melainkankan sebagai keluarga. Tanah, air, udara, hutan dan semua makhluk hidup didalamnya kesemuanya terikat dalam eywa. Bagi mereka merusak alam berarti merusak tatanan kehidupan itu sendiri. 

Sejurus pandangan itu kemudian direduksi dan dirusak oleh kedatangan manusia dengan RDA-nya (Resources Development Administration) yang membawa pandangan baru dengan menganggap alam tak lebih dari sebuah komoditas, pandora kemudian dijadikan sebatas wilayah tambang untuk dikeruk habis sumber daya alamnya. RDA digambarkan sebagai sebuah Perusahaan yang menghalalkan segala cara dengan dalih kemajuan dan Pembangunan dalam mengekploitasi planet Pandora, mereka tidak ragu melakukan penggusuran atau bahkan genosida demi mendapatkan mineral super langka bernama Unobtainium yang sangat berharga dan begitu mahal di bumi. 

Pada film kedua, ekploitasi manusia menjadi semakin meluas dan semakin agresif, tidak hanya mineral langka yang mereka keruk bahkan makhluk laut yang disebut Tulkun juga tak luput dari keserakahan mereka, sedangkan suku Na’vi kian terdesak. seri ketiga yang baru rilis pada akhir tahun lalu, fire and ash membawa kita pada kompleksitas dan kenyataan baru di pandora, bahwa sebagian dari suku Na’vi ada yang bersedia bersekutu dengan kelompok perusak demi sebuah kekuasaan. 

Dari ketiga sekuel film tersebut, avatar Bukan hanya menampilkan konflik antar spesies antara manusia dan suku Na’vi melainkan pertaruangan dari dua ideologi yakni antara ideologi eksploitasi versus ideologi keberlanjutan dan keserasian dengan alam. 

Nilai-nilai yang dipertarungkan dalam avatar bagi saya memiliki kesamaan dengan Indonesia, negeri dengan tanah yang subur, hutan tropis yang luas, laut yang kaya dan Cadangan mineral stragegis. Indonesia adalah Pandora di dunia nyata, menjadi rentan karena kekayaannya. Seperti Anobtainium, nikel, emas, batu bara dan gas dieksploitasi gila-gilaan dengan dalih kemajuan dan pertumbuhan ekonomi, sementara hutan menyusut, ekosistem rusak dan ruang hidup Masyarakat adat semakin terdesak. Kekayaan alam yang harusnya menjadi berkah bagi banyak orang justru hanya dinikmati oleh sekelompok kecil elit sedangkan dampaknya ditanggung bersama oleh Masyarakat kecil, sungguh tragis.  

Dalam rumah kaca Pramoedya Ananta toer pernah mengatakan bahwa antara pandangan dunia pribumi dengan eropa ada perbedaan dasar yang tak terjembatani. Eropa memandang alam sebagai sesuatu yang berada diluar dirinya dan hendak ditaklukannya. Pribumi memandang dirinya sebagai bagian dari alam. Eropa hendak menaklukkan alam. Pribumi hendak menyesuaikan diri sehingga menjadi satu keserasian dengan alam. Maka menjadi jelaslah eksploitasi alam secara berlebihan bukanlah cara hidup orang Indonesia melainkan cara pandang baru yang masuk Indonesia bukan melalui pesawat Antariksa tetapi melaui izin konsesi dan proyek strategis nasional. 

Bagi kaum perusak ini, semuanya harus menjadi sumber keuntungan bahkan dari lingkungan yang telah hancur. Seperti yang dikatakan Allen Myers dalam buku mengapa kapitalisme menghancurkan bumi, bahwa kalau anda memancing habis ikan disungai atau membuang sampah kedalamnya, tahun depan anda tidak akan mendapatkan banyak ikan. Akan tetapi kehancuran seperti itu sama sekali tidak mengganggu tujuan kapitalis mengumpulkan nilai surplus. Jika secara umum telah menjadi lebih sulit untuk meproduksi tanaman karena penipisan tanah, misalnya. Itu tidak mengganggu agribisnis kapitalis, yang dapat menaikkan harga barang dan terus membuat keuntungan yang sama atau bahkan lebih besar. inilah kemudian yang menjadi alasan mengapa kapitalis begitu bersifat destruktif.

Pada bagian akhir ini saya akan mengutip cuplikan pidato dari jake sully saat ia membakar semangat suku na’vi untuk mengangkat senjata dan melakukan perlawanan terhadap RDA, “kita tunjukkan pada bangsa langit mereka tak bisa mengambil semua yang mereka inginkan dan ini adalah, ini tanah kita”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *