Lebaran Jangan Minder: Setiap Orang Punya Cerita, Termasuk Kamu
Oleh: Moch Edward Trias Pahlevi (Founder Muda Bicara ID)

Istilah “Lebaran” sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia, terutama setiap usai bulan Ramadan. Tapi, tahukah kamu dari mana sebenarnya asal-usul kata Lebaran? Apakah itu berasal dari bahasa Arab, Jawa, atau malah serapan dari budaya lain? Secara etimologis, kata Lebaran tidak ditemukan dalam bahasa Arab, sehingga ini bukan istilah yang berasal langsung dari Islam atau Al-Qur’an. Istilah Lebaran adalah bagian dari budaya dan bahasa lokal Nusantara, khususnya dari tradisi Jawa.
Dalam Bahasa Jawa: “Luberan” atau “Wis Bar”. “Wis bar” berarti sudah selesai. Hal ini merujuk pada selesainya ibadah puasa Ramadan. Ada juga yang menyebutnya berasal dari kata “lebar” atau “luberan”, yang artinya “melimpah” atau “tumpah ruah”, menggambarkan suasana saling memberi (sedekah, zakat, THR) saat Idulfitri. Secara alami, tujuan dari makna Lebaran bukan hanya seremonial: mudik, kue kering, baju baru. Lebih dari itu, Lebaran menyimpan makna spiritual yang mendalam, yakni sebagai pembersih diri dan hati ataupun memaafkan dan memperbaiki hubungan manusia.
Akan tetapi, momen Lebaran yang ditunggu-tunggu oleh sebagian generasi Milenial dan Zilenial kali ini menjadi mencekam. Di balik gemerlap baju baru, hampers mahal, dan foto-foto keluarga bahagia di media sosial, tak sedikit yang justru merasa minder. Kenapa?
- Karena belum bisa kasih THR ke keponakan.
- Karena belum punya pasangan buat diajak silaturahmi ke rumah keluarga besar.
- Karena baju tahun ini masih yang itu-itu saja.
- Atau karena tahun ini harus melewatkan Lebaran di rantau, sendirian.
Kalau kamu salah satunya, tenang. Kamu nggak sendirian.
Lebaran Bukan Ajang Pamer
Banyak orang tanpa sadar menjadikan Lebaran seperti kontes tak resmi: siapa yang paling keren bajunya, siapa yang paling banyak uang sakunya, siapa yang paling update status liburannya. Budaya ini tanpa disadari selalu terjadi dalam setiap momen Lebaran di Indonesia.
Padahal, esensi Lebaran itu soal maaf dan silaturahmi. Bukan soal merek baju, bukan soal isi dompet. Bahkan, bukan soal meja penuh makanan khas Lebaran. Lebaran itu tentang hati yang bersih. Tentang memulai lagi. Tentang memeluk, meski sebelumnya sempat berjarak.
Anda semua perlu mendengarkan apa yang disampaikan oleh Bapak Haedar Nashir, yang merupakan tokoh bangsa dan sekaligus ketua umum PP Muhammadiyah, memberikan himbauan kepada masyarakat untuk tidak menjadikan momen mudik Lebaran 2025 sebagai ajang pamer kekayaan atau kesuksesan di kampung halaman. Semangat Lebaran akan kehilangan makna jika dimanfaatkan sekadar untuk unjuk diri. “Menjadi parsial atau bahkan tidak penting kalau mudik menjadi pamer kendaraan, kemudian pamer kesuksesan di rantau. Tradisi pulang kampung seharusnya menjadi sarana mempererat tali silaturahmi.” Pernyataan ayahanda Haedar Nashir ini merupakan pengingat untuk kita semua tentang makna dari Lebaran itu sendiri.
Jangan Bandingkan Bab 3 Hidupmu dengan Bab 15 Hidup Orang Lain
Media sosial sering jadi penyulut rasa minder saat Lebaran. Tapi yang kamu lihat itu cuma highlight, bukan cerita lengkap. Kamu nggak tahu perjuangan orang di balik foto rapi dan caption manis. Kamu nggak tahu air mata yang ditahan sebelum akhirnya bisa tersenyum.
Fokuslah pada apa yang kamu punya. Keluarga yang masih sehat, sahabat yang masih mengingatmu, kesempatan untuk memperbaiki diri, dan keberanian untuk terus melangkah — itu semua adalah nikmat.
Lebaran adalah Tentang Kamu dan Allah
Pada akhirnya, Lebaran bukan tentang validasi dari manusia. Tapi tentang hubunganmu dengan Tuhan. Apakah kamu sudah jadi pribadi yang lebih sabar? Lebih ikhlas? Lebih bersyukur?
Kalau iya, berarti kamu menang. Kamu layak merayakan Lebaran — dengan atau tanpa baju baru, dengan atau tanpa kue-kue mahal.
Banggalah Dengan Dirimu
Kamu mungkin belum punya semuanya. Tapi kamu sudah melangkah sejauh ini. Kamu bertahan di tengah banyak tekanan. Kamu tetap berusaha tersenyum meski hati sempat lelah. Dan itu sudah luar biasa.
Jadi, kalau ada yang bertanya, “Kok kamu nggak pulang kampung?” atau “Kapan nikah?” atau “THR-nya mana?” — senyum saja. Mereka tak tahu kisah lengkapmu. Tapi kamu tahu dirimu, dan kamu tahu bahwa kamu cukup.
Lebaran jangan minder. Karena kamu punya hak yang sama untuk bahagia.
