Membaca Dramaturgi Politik Jokowi #Suara

Oleh: Ahmad Baiduri

Pemberitaan mengenai peristiwa politik di berbagai media menjadi informasi yang tidak pernah surut di hampir seluruh saluran media. Melihat realita tersebut, tentu tidak sedikit asumsi yang menyatakan bahwa setiap persitiwa politik yang terjadi di Republik ini tidak lebih dari sebuah pentas drama yang dilakoni oleh aktor di panggung megah untuk memberikan performa dan efek psikologis terhadap audience atas perannya yang berhasil menyita perhatian. Bila ragam persitiwa politik Indonesia diadopsi menjadi sebuah drama, tentu setiap episode yang ditampilkan akan dipenuhi nuansa emosional, ketegangan hingga kejenakaan sekalipun.

Dalam sebuah drama, aktor menjadi unsur penting yang memainkan perannya di atas panggung. Bahkan banyak audience yang lebih menyorot dan tertarik dengan performa aktor daripada sosok penulis naskah skenario, penata rias yang menyulap penampilan aktor, sosok seniman yang mendesain dan menata panggung, dan unsur lainnya dalam drama. Tentu hal tersebut tidak lain karena sang aktorlah yang menjadi lakon utama yang disorot oleh penonton dalam memainkan peran di atas panggung.

Jika meninjau pentas politik di Indonesia, maka terdapat aktor-aktor yang memainkan perannya di tengah sandiwara politik yang bergulir hingga saat ini. Di antara banyak aktor politik, nama Joko Widodo alias Jokowi menjadi salah satu tokoh atau aktor yang berperan signifikan dalam berlangsungnya teater politik saat ini. Tentu di tengah pergulatan politik pada Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 2024, nama Presiden Joko Widodo menjadi sorotan publik lantaran maneuver politiknya yang memberikan efek luar biasa terhadap percaturan politik Indonesia.

Melalui langkah politiknya, Jokowi berhasil mengubah persepsi publik mengenai stigma yang bertebaran di masyarakat tentang ‘Presiden Boneka’ dan ‘Petugas Partai’ yang disematkan kepadanya. Selain itu, terlihat bahwa kedua anak Jokowi berhasil meraih posisi strategis di tengah medan tempur politik pada Pemilu 2024, dimana Gibran Rakabuming berhasil mendapatkan posisi sebagai Calon Wakil Presiden dan Kaesang Pangarep berhasil mendapatkan posisi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Bahkan tidak sedikit partai yang memperebutkan citra Jokowi karena dinilai memiliki pengaruh elektoral yang kuat.

Potret dinamika politik nasional yang memperlihatkan kepiawaian Jokowi dalam melakukan maneuver politik menjadi plotwist yang mengagetkan publik di akhir periodesasinya dalam menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Berbekal citra politik yang menggambarkan pemimpin yang populis, rendah hati, merakyat dan sederhana, Jokowi menyita perhatian masyarakat sekaligus menjadi king maker dan magnet elektoral dalam kontestasi Pemilu tahun 2024 sehingga banyak Partai politik yang mencitrakan dirinya dekat dengan Presiden Jokowi untuk  mendapatkan percikan elektoral.

Tentu di balik langkah politik Jokowi terdapat peran yang dimainkannya secara apik di panggung politik nasional sehingga mampu mendapatkan simpati besar dari masyarakat bahkan elite politik. Peran Jokowi sebagai aktor politik tersebut menarik untuk ditinjau secara teoritis melalui pandangan Erving Goffman (1922-1982) yang menyatakan bahwa kehidupan sosial tak ubahnya sebagai sandiwara yang dilakukan oleh individu di tengah panggung masyarakat (Goffman, 1959).

Sebagai aktor penting dalam drama politik nasional, tentu Jokowi memainkan perannya di panggung politik sebagai tokoh dengan citra khasnya dan menyimpan kenyataan tersembunyi mengenai dirinya di balik panggung tersebut. Pandangan Erving Goffman mengenai dramaturgi menjadi salah satu alternatif dalam membaca gelagat politik Jokowi yang masih menyimpan banyak misteri di balik citranya.

Dramaturgi

Di banyak literature yang membahas konsep dramaturgi, tentu nama Erving Goffman tidak dapat dilepaskan dari keberadaan teori tersebut. Erving Goffman merupakan seorang sosiolog asal Kanada yang pernah bekerja di industri perfilman yang dengan pengalaman tersebut banyak mengilhami teori sosiologinya. Menurut Erving Goffman dramaturgi merupakan tindakan seorang individu dalam merepresentasikan dirinya di lingkungan sosial (Goffman, 1959). Dramaturgi secara teoritis digunakan sebagai pendekatan untuk membaca interaksi yang dilakukan oleh individu dalam mengelola kesan yang akan tumbuh dalam pandangan orang lain mengenai citra dirinya (Mulyana, 2003).

Melalui teori dramaturgi, Erving Goffman berusaha mengilustrasikan kehidupan sosial layaknya sebuah pentas drama yang menampilkan ragam adegan oleh aktor-aktor yang mengundang kesan dan makna bagi pemirsanya. Lebih lanjut, Goffman menerangkan bahwa setiap aktor dalam memainkan perannya tidak lepas dari pengelolaan citra dalam mengemas representasi dirinya semenarik mungkin agar menumbuhkan kesan positif dan menarik bagi pemirsa. Upaya tersebut yang diistilahkan oleh Goffman sebagai Impression Management atau pengaturan kesan.

Dalam konsep dramaturgi terdapat dua unsur penting yang digunakan untuk mengidentifikasi peran individu di atas panggung, yakni front stage dan back stage. Front stage atau panggung depan merujuk pada bagian individu yang digunakan untuk menampilkan citra dirinya terhadap orang lain dengan tujuan untuk meraih kesan positif berdasarkan upaya impression management yang telah direncanakan. Sedangkan back stage atau panggung belakang menjadi bagian individu yang terlepas dari penonton, dimana pada wilayah tersebut penonton dapat mendeteksi karakter sesungguhnya yang tersembunyi dari individu di balik panggung depan (Kurniawan, 2020).

Front Stage Jokowi

Setelah menguraikan dramaturgi secara teoritis, selanjutnya penulis akan menganalisa pola interaksi Jokowi di panggung depan dan panggung belakang melalui pendekatan dramaturgi Erving Goffman. Sebagai bagian penting untuk menebar kesan menarik terhadap publik, panggung depan menjadi bagian yang tidak dapat dilepaskan dari pencitraan. Paulo Virilio dalam bukunya War and Cinema: The Logistic of Perception (1992) mengatakan bahwa dunia politik modern tidak dapat dilepaskan dari strategi citra dan tontonan dengan menciptakan berbagai bentuk tontonan teater untuk publik dalam rangka membangun citra yang diinginkan oleh kelompok politik tertentu. Lantas, panggung depan menjadi ruang impression management oleh politisi dalam merias citra politiknya.

Jika ditinjau melalui panggung depan, Jokowi sebagai Presiden menampilkan citra pemimpin populis yang rendah hati, merakyat, riang, murah senyum, dan sederhana. Sebagai seorang Presiden, tentu di panggung depan Jokowi menampilkan peran fungsionalnya sebagai negarawan dalam mengurus negara dan pemerintahan. Kegemarannya blusukan dengan citra ramah dan penuh senyum menjadi ciri khas dalam melakukan pendekatan terhadap masyarakat. Lantas, Marcus Mietzer seorang guru besar Ilmu Politik asal Australia mengungkapkan bahwa dengan langkah blusukannya, Jokowi mampu menghadirkan empati emosional antara dirinya dengan masyarakat sehingga melalui itu popularitas Jokowi semakin meningkat (Mietzer, 2015).

Keberhasilan Jokowi melakukan impression management di panggung depan memberikan umpan balik yang cukup positif dari publik. Hal tersebut dapat ditinjau dari beberapa lembaga survei yang menunjukan tingkat kepuasan kepada kinerja Presiden Jokowi yang relatif tinggi. Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas pada Desember 2023 menunjukan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Pemerintahan Jokowi berada pada angka 73,5% (Kompas, 2023). Tidak hanya itu, survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Reasearch and Consulting (SMRC) mengenai tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi mencapai angka 81,7% (SMRC, 2023). Di angka yang hampir sama, LSI menemukan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi mencapai 81,9% (CNN Indonesia, 2023).

Selain citra postif, di panggung depan Jokowi kerap tampil dengan citra negatif sebagai Presiden yang tidak digdaya dan lemah dalam melakukan kontrol politik. Potret tersebut terjadi pada rentang priode pertama saat menjabat sebagai Presiden hingga pertengahan periode keduanya. Jeffrey Winters pada tahun 2015 menyematkan Jokowi dengan predikat Presiden terlemah karena dua hal, pertama Jokowi bukan elite politik layaknya Megawati dan Gus Dur, kedua Jokowi bukan lahir dari petinggi Militer layaknya SBY (Otto & Rachman, 2015).

Senanda dengan pernyataan Winters, Burhanuddin Muhtadi (2019) juga menobatkan Jokowi sebagai Presiden terlemah berdasarkan tiga alasan, pertama, tidak ada satupun Partai yang dapat dikendalikan atau dikontrol oleh Jokowi. Kedua, koalisi di parlemen tidak dapat memproteksi Jokowi secacra penuh. Ketiga, Jokowi tidak memiliki darah biru politik. Dengan demikian, panggung depan Jokowi tidak hanya berisikan tampilan citra positif, melainkan terdapat citra negatif hasil dari impression management yang dikelolanya dengan maksud dan tujuan politik tertentu.

Back Stage Jokowi

Setelah mengurai penampilan Jokowi di panggung depan, maka selanjutnya penulis mencoba mendeteksi Jokowi di balik panggung. Jokowi di belakang panggung tentu melepas jubbah kenegarawanannya dan berperan sebagai politisi yang memiliki beragam strategi untuk memperjuangkan kepentingan politiknya. Dibalik panggung, Jokowi menunjukan kepiawaiannya sebagai seorang politisi dengan melakukan upaya konsolidasi politik secara perlahan terhadap parpol oposisi seperti Gerinda dan PAN sebagai langkah untuk menghimpun kekuatan petahana. Langkah tersebut mendapat sanjungan dari Professor Singapura Kishore Mahbubani dalam artikelnya yang berjudul “The Genius of Jokowi” bahwa Jokowi merupakan sosok pemimpim jenius karena mampu merangkul lawan politiknya.

Kecerdasan politik Jokowi tentu terlihat di belakang panggung, utamanya menjelang Pemilu Tahun 2024, dimana Jokowi melepaskan diri dari belenggu PDI-P sebagai Partai yang selama ini membesarkan dirinya. Jokowi lebih memilih melakukan tawar-menawar kepentingan dengan Partai koalisi Prabowo dengan meletakkan anaknya Gibran Rakabuming sebagai Cawapres, yang pada masa Pencawapresan Gibran masih menyandang status sebagai kader partai PDI-P. Selain itu, pada Februari 2024 Jokowi juga melantik AHY dari partai Demokrat sebagai mentri ATR/BPN, dimana Megawati sebagai ketua umum PDI-P secara historis memiliki catatan konflik terhadap SBY sebagai sosok penting di Partai Demokrat. Tentu hal tersebut memiliki makna simbolik bahwa Jokowi telah terlepas dari cengkraman Megawati.

Jokowi juga kerap dihujani analisis dan kritik terhadap dirinya mengenai permainan politik dinasti yang dilakukan di belakang panggung, seperti conflict of interst di MK melalui Anwar Usman, peran Bobby Nasution dalam pemenangan di kota Medan, serta Kaesang yang secara mendadak menjadi Ketua Umum PSI yang bahkan dirumorkan masuk dalam bursa calon Wali Kota Solo pada Pilkada mendatang. Sebagai seorang Presiden dengan otoritas tinggi, Jokowi mempunyai pengaruh besar untuk mendesain skema besar tersebut dalam rangka mempertahankan kepentingan politiknya.

Pada intinya, di panggung belakang Jokowi sebagai politisi memiliki strategi politik yang cukup briliant dengan berhasilnya ia melancarkan kepentingan politiknya tanpa terbebani oleh ketua umum dan elit-elit partai lainnya. Di belakang panggung, Jokowi memberikan daya tawar yang tinggi terhadap elit-elit politik dengan bermodalkan dukungan publik yang tinggi, sehingga banyak partai dan kandidat yang ingin mendapatkan endorse dari Presiden Jokowi. Dukungan publik menjadi saham terbesar Jokowi yang dihasilkannya melalui permainan dramaturginya di panggung depan. Lantas, Jokowi di panggung belakang merupakan sosok politisi ulung yang tidak dapat dianggap lemah sebagaimana citra pemimpin lemah yang banyak dialamatkan kepada dirinya di panggung depan.

Penutup

Seciamik apapun langkah politiknya Jokowi dalam mengamankan kepentingannya, namun hal tersebut dapat menjadi penyakit yang membahayakan bagi kesehatan demokrasi Indonesia. Dalam sudut pandang politik, strategi politik Jokowi terkesan memukau karena telah berhasil mengubah persepsi publik terhadap dirinya dari pemimpin lemah menjadi pemimpin yang digdaya, menjadikan putra sulungnya sebagai Cawapres dan putra bungsunya sebagai ketua umum Partai, dan keberhasilan lainnya. Namun, atas nama demokrasi, tentu seseorang yang berpikir rasional akan mengecam langkah politik Jokowi. Karena demokrasi idealnya mengharuskan seorang pemimpin lahir secara organik dengan kemampuan, dedikasi, fatsun politik, serta proses yang murni. Dan bukan lahir semata melalui energi nepotisme yang ditinggi.

Referensi

CNN Indonesia. (2023). Survei LSI: 81,9 Persen Warga Puas dengan Kinerja Jokowi. Www.Cnnindonesia.Com. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230711235044-32-972297/survei-lsi-819-persen-warga-puas-dengan-kinerja-jokowi

Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. Knopf Doubleday Publishing Group.

Kompas. (2023). Survei Litbang “Kompas”: Kepuasan Publik terhadap Kinerja Pemerintah Jokowi-Ma’ruf 73,5 Persen. Nasional.Kompas.Com. https://nasional.kompas.com/read/2023/12/13/07030251/survei-litbang-kompas-kepuasan-publik-terhadap-kinerja-pemerintah-jokowi

Kurniawan, K. N. (2020). Kisah Sosiologi. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Mietzer, M. (2015). Reinventing Asian populism: Jokowi’s rise, democracy, and political contestation in Indonesia. East-West Center.

Muhtadi, B. (2019). Populisme, Politik Identitas dan Dinamika Elektoral: Mengurai Jalan Panjang Demokrasi Prosedural. Intrans Publishing.

Mulyana, D. (2003). Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. PT Remaja Rosdakarya.

Otto, B., & Rachman, A. (2015). Political Strains Test Indonesian Leader. The Wall Street Jurnal. https://www.wsj.com/articles/political-strains-test-indonesian-leader-1437627700

SMRC. (2023). Tingkat Kepuasan Publik pada Kinerja Presiden Jokowi 81,7 Persen. Saifulmujani.Com. https://saifulmujani.com/tingkat-kepuasan-publik-pada-kinerja-presiden-jokowi-817-persen/

Virilio, P. (1992). War and cinema: The logistics of perception. Verso.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *