Mengapa Kepercayaan Non-Ilmiah Bertahan di Tengah Masyarakat Religius? 

Oleh: Odie Adelia Cantika (Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya)

Pernah nggak sih kamu melihat fenomena masyarakat yang lebih percaya “kata orang pintar” daripada kata dokter? Atau mengikuti suatu ajaran tanpa benar-benar memahami dasarnya, hanya karena dikaitkan dengan agama dan diikuti oleh banyak orang?. Tentu, ada dan masih sangat banyak. Tapi kenapa ya, di era yang sudah modern ini fenomena seperti itu masih sering kita jumpai?. Padahal, ilmu pengetahuan telah berkembang dan menawarkan berbagai cara untuk memahami dunia secara lebih rasional. percaya terhadap hal-hal yang bersifat non ilmiah masih begitu kuat?. 

Fenomena ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari sifat dasar manusia. Louis O. Kattsoff menyatakan bahwa manusia dikenal sebagai makhluk yang berpikir dan mempertanyakan realitas, mereka cenderung mencari kebenaran dan tujuan hidupnya. Namun dalam prosesnya, manusia tidak hanya mengandalkan ilmu pengetahuan. Banyak hal lain yang turut membentuk cara berpikir manusia seperti tradisi, pengalaman, dan kepercayaan yang telah diwariskan secara turun temurun. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kepercayaan tersebut sering berkaitan dengan hal-hal mistis atau ajaran tertentu yang diterima, terlebih ketika dibungkus dengan nilai-nilai keagamaan. 

Padahal, di sisi lain, ilmu pengetahuan telah berkembang pesat dan menawarkan cara berpikir yang sistematis, rasional, serta dapat diuji. Menurut Jujun S. Suriasumantri, pengetahuan ilmiah bukan sekadar kumpulan fakta, tetapi hasil dari proses berpikir logis dan kritis dalam mencari kebenaran. Dimana suatu kebenaran ilmiah tidak hanya dipercaya atau cukup hanya “terasa benar”, tetapi juga harus dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabkan melalui metode tertentu.. Namun, di sisi lain, tidak semua aspek kehidupan manusia dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Pertanyaan tentang makna hidup, tujuan keberadaan, atau nilai-nilai moral sering kali berada di luar jangkauan metode ilmiah. 

Lalu, mengapa kepercayaan non-ilmiah tetap mudah diterima?

Salah satu penyebab utamanya adalah faktor tradisi. Banyak kepercayaan yang telah ada sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika suatu keyakinan sudah menjadi kebiasaan, orang cenderung menerimanya sebagai sesuatu yang “benar” tanpa merasa perlu untuk mempertanyakan dan mengujinya kembali. Hal ini sejalan dengan pandangan dalam filsafat ilmu bahwa pengetahuan non-ilmiah sering kali terbentuk dari pengalaman dan praktik sosial, bukan dari metode pengujian ilmiah (Tim Redaksi Driyarkara, 1993). 

Selain tradisi, peran otoritas juga sangat besar. Dalam masyarakat religius, tokoh agama atau figur tertentu sering dianggap sebagai sumber kebenaran. Apa yang mereka sampaikan cenderung diterima begitu saja, tanpa melalui proses penalaran yang kritis. Fenomena ini dapat dikaitkan dengan kecenderungan manusia untuk mempercayai otoritas, terutama ketika otoritas tersebut dianggap memiliki pengetahuan atau kedekatan dengan hal-hal yang bersifat spiritual. Namun, ketika kepercayaan ini tidak diimbangi dengan sikap kritis, maka kebenaran menjadi sangat bergantung pada siapa yang berbicara, bukan pada isi dari apa yang disampaikan. 

Menurut Gabriel Tarde kondisi psikologis manusia juga berperan penting dalam pemberian pandangan kepada orang lain. Dalam situasi sulit, penuh ketidakpastian, atau tekanan emosional, manusia cenderung mencari sesuatu yang dapat memberikan rasa aman dan kepastian secara cepat. Kepercayaan non-ilmiah sering kali menawarkan jawaban yang sederhana, dibandingkan dengan penjelasan ilmiah yang kompleks dan tidak selalu memberikan kepastian langsung. Hal inilah yang membuat banyak orang lebih mudah menerima kepercayaan tersebut, terutama ketika mereka sedang berada dalam kondisi rentan. 

Namun, kemudahan menerima kepercayaan non-ilmiah bukan berarti tanpa dampak. Ketika kepercayaan diterima tanpa pertimbangan logis, hal ini dapat membuka peluang penyalahgunaan oleh oknum tertentu. Tidak sedikit kasus di mana ajaran yang dibungkus dengan agama justru digunakan untuk kepentingan pribadi, bahkan merugikan orang lain. Akibatnya, muncul praktik-praktik yang menyimpang dan membuat masyarakat terikat pada keyakinan yang tidak lagi relevan atau bahkan menyesatkan. 

Di sinilah penting bagi manusia untuk mengembangkan cara berpikir yang lebih kritis dan reflektif. Berpikir ilmiah bukan berarti menolak agama atau tradisi secara mentah-mentah.

Pendekatan ilmiah membantu memahami hikmah di balik ajaran agama (Sirojuddin, M dkk:2023). Mustansyir dan Munir (2003) menekankan bahwa pengetahuan ilmiah menuntut sikap rasional, sistematis, dan terbuka terhadap pengujian. Dengan kata lain, berpikir ilmiah membantu manusia untuk memilah mana yang dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan mana yang perlu dipertanyakan kembali. 

Meskipun demikian, pengetahuan ilmiah dan non-ilmiah tidak selalu harus dipertentangkan. Keduanya memiliki peran yang berbeda dalam kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan berfungsi untuk menjelaskan realitas secara objektif, sedangkan agama dan kepercayaan memberikan makna, nilai, dan arah hidup. Dalam perspektif filsafat ilmu, pengetahuan tidak hanya dilihat dari sisi kebenaran faktual, tetapi juga dari fungsi dan nilai yang dimilikinya (Anas & Ilham, 2018). 

Oleh karena itu, yang menjadi persoalan bukanlah keberadaan kepercayaan non-ilmiah itu sendiri, melainkan bagaimana cara manusia memahaminya. Ketika kepercayaan diterima tanpa refleksi kritis, maka potensi kesalahan dan penyimpangan akan semakin besar. Sebaliknya, ketika manusia mampu menyeimbangkan antara iman dan akal, maka kepercayaan dapat tetap memberikan makna tanpa mengabaikan rasionalitas. 

Pada akhirnya, di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, manusia tidak hanya dituntut untuk percaya, tetapi juga untuk memahami. Karena mungkin, yang perlu kita ubah bukanlah apa yang kita yakini, melainkan bagaimana cara kita meyakininya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *