Muhammadiyah dan Masa Depan Islam di Indonesia

Oleh: Dwi Kurniadi (Kader IMM Pondok Shabran UMS)

Ilustrasi. Sumber: Lenteramu.id

Wajah besar Islam di Indonesia kian mewarnai corak pemikiran masyarakatnya. Muhammadiyah adalah salah satu persyarikatan terbesar di Indonesia yang banyak memberikan sumbangsih dalam mewarnai corak berpikir tersebut. Agama Islam diturunkan sebagai rahmatan lil alamin kepada sekelilingnya, begitu juga Muhammadiyah yang pada awal mula berdirinya memberikan kebermanfaatan dan kenyamanan pada golongan yang kurang terpikirkan oleh negara. Menyentuh golongan fakir, miskin, dan anak yatim adalah cikal bakal keberhasilan dakwah Muhammadiyah yang berawal dari akar rumput untuk menanamkan ideologi Muhammadiyah.

Muhammadiyah adalah sebuah persyarikatan yang berdiri pada 18 November 1912 di Kauman, Yogyakarta. Pendirinya, K.H. Ahmad Dahlan, yang juga mendapat gelar sebagai pahlawan bangsa, mendirikan Muhammadiyah dengan latar belakang pemikiran dan kajian mendalam terhadap surat QS. Ali Imran: 104. Dalam surat tersebut, terkandung makna yang sangat mendalam yang menggerakkan hati K.H. Ahmad Dahlan untuk membuat sebuah pergerakan yang berkhidmat melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat.

“Menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.” Begitulah bunyi dari tujuan persyarikatan besar ini, sebuah tujuan yang sangat mulia dengan mengedepankan sisi humanis dan spiritualis. Hal itu selaras dengan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan yang dipengaruhi oleh beberapa tokoh Timur Tengah, seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, dan Rasyid Ridho, yang memiliki semangat pembaharuan dan reformisme Islam. Mereka memandang Islam sebagai agama yang lebih luas daripada sekadar ibadah formal, yang memotivasi pendiri Muhammadiyah untuk mengimplementasikan hal ini dalam dakwah berkemajuan di Indonesia. Muhammadiyah yang sudah berusia 112 tahun tetap eksis dalam kiprah dakwahnya.

Islam Berkemajuan sebagai Visi Peradaban

Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang membawa misi dakwah dan tajdid demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Islam bagi Muhammadiyah bukan sekadar agama, tetapi dasar hidup yang menyatu dalam setiap gerakan. Islam yang sempurna mengajarkan kebaikan untuk keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Muhammadiyah memandang Islam sebagai agama yang mendorong kemajuan dan pencerahan. Kemajuan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual dan moral. Dakwah dan tajdid menjadi jalan untuk mewujudkan Islam sebagai kekuatan pembaharu yang relevan sepanjang zaman.

Islam yang berkemajuan membawa nilai-nilai pencerahan seperti kebebasan, keadilan, kemanusiaan, dan keseimbangan. Ia menolak kekerasan, penindasan, korupsi, kerusakan lingkungan, dan segala bentuk ketidakadilan. Sebaliknya, Islam ini menjunjung tinggi martabat manusia, tanpa membedakan suku, ras, atau jenis kelamin. Sejak didirikan pada 1912, Muhammadiyah telah konsisten mengusung Islam yang berkemajuan. Melalui KH. Ahmad Dahlan, lahir pemikiran modernisme Islam yang mencerahkan dan membebaskan umat dari kejumudan serta ketertinggalan. Islam dipahami tidak hanya untuk diyakini, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan nyata.

Muhammadiyah juga menegaskan pentingnya akal dan ilmu pengetahuan. Islam, menurut Muhammadiyah, harus mampu berdialog dengan zaman melalui ijtihad yang berpijak pada Al-Qur’an dan Sunnah. Akal sehat menjadi alat untuk memahami dan mengembangkan ajaran agama secara kontekstual. Islam yang dibawa Muhammadiyah adalah Islam yang membumi dalam amal. KH. Ahmad Dahlan menafsirkan Al-Ma’un sebagai gerakan nyata membela kaum lemah dan menegakkan keadilan sosial. Inilah bentuk Islam yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan.

Pendidikan Kunci Masa Depan Indonesia

Pendidikan adalah fondasi utama kemajuan bangsa. Ia menjadi jembatan antara ketertinggalan dan peradaban, antara potensi dan prestasi. Dalam konteks Indonesia, pendidikan bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga kunci untuk membuka masa depan yang adil, sejahtera, dan bermartabat. Namun, realitas pendidikan di negeri ini masih menghadapi tantangan besar, seperti akses yang belum merata, kualitas yang timpang, serta sistem yang lebih sibuk mengejar angka daripada membentuk akhlak dan karakter. Ketimpangan antara daerah kota dan pelosok, minimnya fasilitas, rendahnya kesejahteraan guru, hingga masih banyaknya anak putus sekolah, menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Di tengah kondisi tersebut, Muhammadiyah hadir sebagai pelopor dan penggerak pendidikan umat. Sejak awal berdirinya pada tahun 1912, KH. Ahmad Dahlan telah menanamkan visi besar untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan pencerahan dan pembebasan. Bagi Muhammadiyah, pendidikan bukan sekadar proses belajar-mengajar, melainkan sarana dakwah, pemberdayaan, dan perubahan sosial.

Dengan semangat Islam berkemajuan, Muhammadiyah membangun ribuan sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia. Lembaga-lembaga ini tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman, keadaban, dan kemanusiaan. Di sinilah pendidikan Muhammadiyah memainkan peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa secara inklusif dan berkelanjutan. Muhammadiyah percaya bahwa pendidikan sejati adalah yang membentuk manusia utuh: cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Pendidikan yang melahirkan generasi yang bukan hanya tahu, tetapi juga peduli dan bertindak.

Jika Indonesia ingin maju, maka tak ada jalan lain selain menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Dan dalam perjuangan ini, peran Muhammadiyah menjadi contoh nyata bahwa kekuatan masyarakat sipil dapat memberi kontribusi besar bagi pembangunan nasional. Pendidikan adalah kunci masa depan. Dan Muhammadiyah telah, sedang, dan akan terus menjadi tangan yang memegang kunci itu untuk membukakan pintu harapan, keadilan, dan kemajuan bagi seluruh anak bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *