Ngemis Online, Realitas Tragis di Era Digital

Oleh: Fatia Salma Fiddaroyni (Pengajar Privat dan Penulis Lepas di Beberapa Platform)

Potret Gunawan alias Sadbor bersama rekan-rekannya kala melakukan live TikTok (Foto: Kompascom)

Baru-baru ini, media sosial diramaikan dengan salah satu akun TikTok yang kompak satu kampung secara bergilir live sambil joget-joget. Mirisnya, orang-orang secara sukarela memberikan gift kepada mereka. Entah karena tertarik atau iba, yang jelas cara ini malah menyediakan panggung bagi content creator nir-kreatifitas.

Bahkan, ada yang sampai merenovasi rumahnya hasil dari live tersebut. Bukti semacam ini jadi melebarkan mata orang-orang di sekitarnya buat melu-melu, ikut serta mengambil jalan sedemikian gila tersebut. Mereka menjadi beranggapan bahwa dengan cara itu, duit bisa dikantongin dengan mudah tanpa perlu susah-susah menguras tenaga dan pikiran. Tinggal joget-joget, eh, dapat duit.

Miris, sih, fenomena ini menunjukkan sisi lain dari dampak media sosial pada masyarakat. Platform seperti TikTok, yang seharusnya menjadi ajang hiburan dan kreatifitas, sekarang malah dimanfaatkan untuk kegiatan yang cenderung memanfaatkan rasa iba orang. Ini ironis, terutama ketika praktik ini dilakukan oleh masyarakat yang mungkin kurang sejahtera dan kemudian menjadi ‘pangsa pasar’ bagi tren ngemis online. Sebenarnya, gara-gara apa, sih, fenomena ngemis online ini terjadi?

Krisis Ekonomi Lokal

Biasanya, fenomena seperti ini muncul di daerah yang kondisi ekonominya kurang beruntung. Kalau lapangan pekerjaan terbatas, orang bisa jadi tergoda untuk mencari ‘jalur cepat’ buat dapat duit, bahkan meskipun itu mengorbankan harga diri sekalipun. Enggak peduli harga dirinya jatuh, yang penting duitnya jatuh ke kantong. Seolah-olah, harga diri sudah tidak ada harganya lagi. Pokoknya duit, duit, duit. Hadehh.

Nah, masalahnya, praktik seperti ini seringkali bikin mereka terjebak dalam lingkaran setan. Alih-alih mencari cara yang lebih baik untuk meningkatkan ekonomi mereka, banyak yang malah terus-terusan bergantung pada ‘jalur cepat’ ini. Lama-lama, bukan cuma harga diri yang hilang, tapi juga harapan untuk masa depan yang lebih baik. Bayangkan aja, generasi muda kita tumbuh dengan cara berpikir bahwa ‘ngemis online’ itu adalah jalan keluar, padahal seharusnya mereka diajarkan untuk berjuang dan berinovasi.

Ini jelas bukan cara yang sehat untuk membangun kehidupan. Sebagai masyarakat, kita harusnya saling mendukung dan mencari solusi yang lebih berkelanjutan, bukan cuma ngandelin cara instan yang berpotensi merusak. Kita perlu menyadarkan diri mereka akan pentingnya pendidikan, mendorong mereka untuk membangun keterampilan, atau bahkan berinovasi mengembangkan usaha kecil yang bisa membawa perubahan lebih berarti. Dengan begitu, mereka bisa dapat penghasilan yang layak tanpa harus mengorbankan harga diri.

Normalisasi Pola Pikir: “Gampang Dapat Duit Lewat Konten Nyeleneh”

Banyaknya orang yang nonton dan memberikan gift, pola pikir yang muncul bisa jadi seperti, “Ngapain kerja keras kalau bisa dapat duit dari sini? Tinggal joget-joget, mandi lumpur” Ini bisa jadi berbahaya dalam jangka panjang, mengurangi minat generasi muda terjun ke dunia kerja yang lebih nyata.

Ngomong-ngomong soal kreativitas, bikin konten nyeleneh di live TikTok memang bisa dibilang inovasi baru. Tapi, ini lebih ke cara gila buat ngumpulin viewers dan gift. Mana ada yang bisa dibanggakan dari kehilangan harga diri demi dapet gift? Padahal, seharusnya kreativitas itu mendorong kita untuk melakukan hal yang lebih positif.

Fenomena ini bikin orang lebih tertarik sama konten nyeleneh dan aneh. Jatuhnya, bukan cuma pelakunya yang kehilangan harga diri, tapi penontonnya juga nggak bijak dalam memilih konten. Mereka jadi terjebak dalam pemikiran bahwa viewers cuma suka konten-konten gila yang menjatuhkan harga diri.

Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

TikTok atau platform sejenis nggak salah sepenuhnya, tapi kenyataannya, mereka menyediakan fasilitas yang bisa disalahgunakan. Mereka sebenarnya bisa menerapkan aturan yang melarang bentuk konten yang eksploitatif ini.

Jadi, TikTok dan platform sejenis itu nggak sepenuhnya salah, tapi mereka juga punya tanggung jawab besar. Fasilitas yang mereka berikan bisa dengan mudah disalahgunakan, dan sayangnya, hal ini sering terjadi. Mereka bisa banget untuk menerapkan aturan yang lebih ketat untuk melarang konten-konten yang eksploitasi seperti ini.

Misalnya, mereka bisa bikin kebijakan yang lebih jelas tentang konten yang merendahkan harga diri, atau yang menampilkan perilaku berisiko. Dengan begitu, pengguna bisa lebih teredukasi dan terhindar dari jebakan konten yang merugikan.

Kita semua tahu bahwa media sosial bisa jadi alat yang luar biasa untuk kreativitas dan berbagi. Tapi jika tidak diimbangi dengan tanggung jawab, yang ada malah jadi alat untuk menjatuhkan harga diri orang lain. Maka, penting bagi semua pihak, baik platform, konten kreator, maupun penonton, untuk saling mendukung dalam menciptakan konten yang lebih positif dan tidak beresiko.

Khawatirnya, Motivasi Kerja Masyarakat Merosot

Pola pikir “gampang dapat duit dari konten nyeleneh” ini bisa bikin motivasi orang jadi merosot. Bayangkan, kalau anak-anak atau remaja sebagai generasi muda mulai menganggap cara mudah adalah cara terbaik, saat menghadapi tantangan di kehidupan nyata, mereka bisa gampang banget menyerah. Kerja keras jadi terasa membosankan, sementara cari duit dengan cara instan jadi makin menggoda.

Selain itu, ada dampak emosional yang juga penting. Saat mereka merasa diabaikan atau tidak dihargai dalam dunia kerja yang nyata, mereka mungkin malah nyari pengakuan di tempat lain, seperti media sosial. Nah, kalau pengakuan itu cuma didapat dari konten yang merendahkan diri, harga diri mereka bisa semakin anjlok.

Kita juga harus ingat, interaksi di media sosial nggak selalu positif. Komentar dari netizen bisa sangat tajam. Konten yang awalnya dimaksudkan untuk hiburan bisa berujung pada bullying atau kritik yang bisa bikin si pembuat konten merasa terpuruk.

Jadi, penting banget untuk ngasih edukasi tentang literasi digital dan kesadaran psikologis. Generasi muda perlu paham bahwa nggak semua yang viral itu baik, dan ada nilai-nilai yang jauh lebih penting daripada cuma cari popularitas di media sosial. Mereka harus diajar untuk menghargai diri sendiri dan mencari pengakuan yang datang dari usaha yang sehat.

Kesimpulannya, fenomena ngemis online ini bukan cuma soal cari uang instan, tapi juga mencerminkan kondisi sosial dan ekonomi. Untuk menangkal fenomena ini, perlu kerja sama dari pemerintah, platform, dan masyarakat sendiri. Mungkin dengan menyediakan edukasi soal bagaimana cara mencari pendapatan yang lebih nyata bagi kebermanfaatan masyarakat dan negara khususnya.

Mari kita jadikan media sosial sebagai alat yang membawa manfaat dan perubahan positif, bukan malah sebagai sarana untuk merendahkan harga diri dan mengorbankan masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *