Pintar Bersuara, Saring Sebelum Sharing

Konten ini merupakan hasil tulisan dari Peserta Peace Political Agent

Oleh: Firdha Eka Susanti Dianingsih, Gayan Asykar Sahida, dan Fransiska Indra Pramusadiwayant

Ilustrasi/Google

Partisipasi publik merupakan jantung utama dalam pemilihan umum pada negara demokrasi. Oleh karena itu, sebagai pemilih yang baik, kita harus mewaspadai berbagai narasi yang muncul di tengah masifnya gejolak informasi saat ini karena kita tidak pernah bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan dalam dunia politik. W.S. Rendra berkata, “Politik adalah cara merampok dunia. Politik adalah cara menggulingkan kekuasaan, untuk menikmati giliran berkuasa.”

Pada masa transisi sosial politik, terutama saat mendekati musim pemilihan umum, sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan untuk melakukan kampanye dalam berbagai bentuk, seperti pertemuan, baliho, dan berbagai media lainnya. Bercermin dari peristiwa-peristiwa yang sudah lalu, kita perlu memahami lebih lanjut tentang apa yang ditulis Tom Nichols dalam bukunya yang terbit pada tahun 2017, “Matinya Kepakaran: Kampanye Melawan Pengetahuan yang Telah Mapan dan Apa Pentingnya.”

Dalam “The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why It Matters” (2017), Tom Nichols mengawali bukunya dengan kalimat, “Ketegangan anti-intelektualisme telah menjadi benang merah yang terus mengalir dalam kehidupan politik dan budaya di Amerika Serikat, yang dipupuk oleh gagasan keliru bahwa demokrasi berarti ‘ketidaktahuan saya sama baiknya dengan pengetahuan Anda.’” Era digital memang memberikan perubahan yang masif pada kebudayaan manusia, yang merubah pula budaya yang saat ini diterapkan.

Ada beberapa hal yang relevan dengan kondisi yang terjadi belakangan ini:

  1. Terlalu Mudah Mendapat Keyakinan/Kepercayaan: Ini bisa terjadi saat perilaku masyarakat mulai semakin rapuh. Mereka cenderung menolak dan melawan ketika mendengar nasihat dari para pakar. Hal ini merupakan mekanisme untuk meraih kepercayaan diri dari perspektif yang mereka anggap menenangkan. Kebenaran tidak lagi dianggap sebagai bukti nyata, melainkan hanya sebatas bukti subjektif. Setiap opini akan dianggap baik dan setiap pandangan akan dianggap sama rata keakuratannya, tidak peduli siapa yang menyatakan.
  2. Timbulnya Pola Narsistik dan Egoisme dalam Setiap Hal: Pengetahuan yang rendah menghasilkan kondisi “kurang informasi,” yang kemudian merosot menjadi “salah informasi,” sampai ke tingkat “agresif dalam kesalahan mutlak.” Orang tidak hanya sekedar menolak pandangan kebenaran yang tidak mencapai akal mereka, tetapi juga aktif menolak pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran, sementara tetap mempertahankan pengetahuan sementara yang mereka miliki sebagai hal yang absolut.

Sadar atau tidak, kedua pola tersebut sering kita jumpai belakangan ini di sekitar masyarakat kita. Akibatnya, setiap kali terjadi kompetisi pemilihan umum, akan rawan terjadi perpecahan dan perselisihan hanya karena perbedaan pendapat.

Menyikapi hal tersebut, ada baiknya kita mengetahui dan menerapkan slogan “saring sebelum sharing.” Slogan ini bukanlah sekadar kata-kata puitis; matang secara intelektual adalah kunci utama sebelum ingin menyebarkan sesuatu. Tulisan ini bukan akan membahas mengenai bagaimana meningkatkan intelektual seseorang, tetapi bagaimana caranya agar kita sebagai penyebar dapat meneruskan hal yang sudah pasti baik. Sebagai anak muda, bersuara bukan hanya aksi pada panggung orasi, kegiatan debat, atau hal lain yang terasa “berat.” Mengutarakan pendapat secara personal pada akun media sosial juga merupakan bentuk penyuaraan terhadap sesuatu. Tentu kamu tidak mau kan sesuatu yang buruk berbalik terjadi saat kamu justru mengira hal itu benar untuk dikatakan atau disebarluaskan. Kesalahan yang tidak disadari ini pasti memiliki dampak bagimu, seperti kepercayaan yang menurun dari lingkunganmu atau bahkan runtuhnya citra baik yang sudah dibangun, hanya karena praktik bersuaramu tidak diiringi dengan langkah bijak, seperti:

  1. Amati: Perhatikan setiap berita dan informasi mengenai apapun di sekitarmu. Dalam proses ini, kamu bisa melakukan banyak hal seperti mencoba menilai secara personal referensi yang kamu miliki.
  2. Analisis: Setelah kamu mengamati, coba pahami apa yang terjadi dan apa yang mendasari hal tersebut. Menghakimi sesuatu atau melemparkan sesuatu yang buruk dengan menjadi sosok pertama yang berani mengungkapkannya tidak lantas menjadikan suaramu konkret atau dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya. Tentu saja, kamu perlu meriset hal yang ada dengan data dan sumber yang jelas.
  3. Kritisi: Jika kamu sudah mendapati jawaban dan tanggapan yang rasional atas kedua hal di atas, barulah berikan pendapatmu dengan cara yang bijak dan konstruktif.

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, kita dapat berkontribusi secara positif dalam diskusi publik dan memastikan bahwa informasi yang kita sebarkan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *