Sang Pendekar Kebhinekaan dengan Kesederhanaan

Oleh: Muhammad Nabil Alfarizi (Ketua Umum PC IMM Jakarta Pusat)

Ilustrasi. Muda Bicara ID

Sore itu, saya diundang untuk hadir di acara Satu Meja The Forum oleh Sukidi—seorang intelektual publik yang konsisten mengangkat isu-isu kebangsaan, kebhinekaan, dan nilai-nilai moral dalam kehidupan berbangsa. Di forum itu, beliau tampil sebagai narasumber dengan tutur yang jernih, tenang, dan menyentuh akar persoalan secara elegan. Saya duduk memperhatikan dengan takzim, bukan hanya karena isi pikirannya, tapi juga karena cara ia menyampaikannya: bersahaja namun bernas, sederhana namun berisi.

Usai acara, kami sempat berbincang dan berfoto bersama. Saya pamit pulang. Tapi rupanya, pelajaran hari itu tidak selesai di forum. Baru berjalan sekitar seratus meter dari menara Kompas TV, saya melihat Sukidi berjalan kaki ke arah stasiun yang jaraknya cukup jauh.

Spontan saya menghampiri dan menawarkan untuk mengantarkannya. Namun beliau menolak halus. “Nggak usah Mas Nabil, saya jalan kaki saja,” katanya sambil tersenyum. Sontak saya tertegun. Dalam pikiran saya, ini praktik nyata yang kerap beliau sampaikan dalam berbagai forum: tentang pentingnya kesederhanaan, tentang keteladanan yang membumi.

Ternyata, itu bukan kejadian satu-satunya. Beberapa waktu kemudian, seorang kawan saya—alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta—menceritakan hal serupa. Ia pernah membersamai Sukidi dalam sebuah kegiatan di Bandung. Ketika makan bersama, Sukidi memilih makan dengan tangan. Dana ketika disuguhkan air minum, ia menolak untuk dilayani. Ia lebih memilih mengambil sendiri, tanpa ribet, tanpa sungkan. Bagi sebagian orang, itu mungkin sepele. Tapi dalam konteks keteladanan, itu adalah pesan yang kuat: bahwa kesederhanaan adalah kebiasaan, bukan pencitraan.

Ini yang membedakan antara orator dan pelaku, antara mereka yang lihai berbicara dan mereka yang setia menjalani. Dalam Al-Qur’an, kita diingatkan untuk tidak menjadi orang yang berkata sesuatu yang tidak kita lakukan—“kabura maqtan ‘indallāhi an taqūlū mā lā taf‘alūn” (Q.S. Ash-Shaff: 3). Sukidi, dalam segala kerendahan hatinya, justru menjadi contoh dari ayat ini. Ia bicara tentang kesederhanaan dan ia hidup dalam kesederhanaan itu sendiri.

Di tengah masyarakat yang makin menjadikan simbol kemewahan sebagai tolok ukur keberhasilan, kehadiran orang seperti Sukidi menjadi oase yang menyejukkan. Ia tidak sibuk dengan pencitraan, tidak mengejar jabatan, tidak menyandarkan otoritasnya pada gelar atau status sosial. Ia justru mengukuhkan pengaruhnya lewat konsistensi dan integritas. Ia menjadi contoh bahwa intelektualitas tidak harus teriak-teriak di atas podium, melainkan bisa hadir dalam pilihan hidup sehari-hari.

Keteladanan seperti ini semakin langka. Kita hidup di era di mana banyak tokoh publik gemar berbicara tentang nilai-nilai, namun gagal menunjukkan bukti dalam laku hidup. Di tengah krisis integritas, kita butuh lebih banyak figur seperti Sukidi—yang tak hanya memberi pelajaran lewat kata, tapi juga lewat cara berjalan, cara makan, dan cara memilih diam.

Saya menyebutnya pendekar kebhinekaan, bukan semata karena ia bicara soal pluralisme, tetapi karena ia memperjuangkannya dengan cara yang sunyi. Ia tidak berdiri di tengah keramaian sambil membawa bendera besar, melainkan menanam nilai-nilai itu dalam kehidupan paling pribadi. Dan disitulah kekuatan sejatinya.

Teladan bukan soal siapa yang paling sering tampil, tapi siapa yang paling konsisten dalam prinsip. Kesederhanaan bukan soal citra, tapi tentang siapa yang tidak membutuhkan panggung untuk tetap memberi makna. Dan itulah Sukidi—pendekar dalam diam, pejuang dalam kebangsaan, dan guru dalam kesederhanaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *