IHSG Menukik Tajam, Ekonomi RI Melemah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mengalami penurunan tajam pada perdagangan hari ini, Selasa (18/3/2025). Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat melakukan penghentian perdagangan sementara atau trading halt karena IHSG anjlok lebih dari 5% menjelang sesi I berakhir.
Apa itu IHSG?
IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan adalah indikator yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia untuk mengukur pergerakan harga semua saham yang tercatat. IHSG berfungsi sebagai indikator pasar saham, acuan investasi, dan juga gambaran kondisi ekonomi Indonesia. Perhitungannya dilakukan berdasarkan rata-rata tertimbang kapitalisasi pasar, yang berarti saham dengan nilai pasar lebih besar memiliki pengaruh lebih besar terhadap perhitungan IHSG.
IHSG Anjlok di Tengah Menguatnya Bursa Saham Asia
Sementara IHSG terpuruk, bursa saham di Asia justru menunjukkan tren positif. Indeks Hang Seng naik 1,7%, Shanghai Composite menguat 0,13%, Nikkei mencatatkan kenaikan 1,2%, dan Straits Times juga naik 1,13%. Di bursa global, DOW30 tercatat naik 0,85%, diikuti oleh SP500 yang naik 0,64%, dan FTSE yang tumbuh 0,56%.
Faktor Penyebab Anjloknya IHSG: Danantara dan Efisiensi Anggaran
Penurunan tajam IHSG pada hari ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik domestik maupun global. Berikut adalah beberapa penyebab utama:
Beberapa faktor domestik dan global menjadi penyebab utama penurunan tajam IHSG pada hari ini. Dari sisi domestik, pertama, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang membesar, mencapai Rp31,2 triliun pada Februari 2025, menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Selain itu, penurunan penerimaan pajak domestik sebesar 30,19% secara year on year (yoy) juga berkontribusi pada ketidakstabilan pasar. Ketidakpastian dan stabilitas politik turut memperburuk situasi.
Lebih lanjut, rencana efisiensi anggaran dan pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang dikhawatirkan dapat memperburuk defisit fiskal semakin memperburuk sentimen pasar. Dari sisi global, penurunan peringkat saham Indonesia oleh Goldman Sachs, yang menurunkan peringkat dari “overweight” menjadi “market weight”, memengaruhi sentimen investor secara signifikan.
Tensi geopolitik yang meningkat serta kekhawatiran akan resesi ekonomi, terutama di Amerika Serikat, juga memberikan dampak negatif pada IHSG. Tidak hanya itu, ketidakpastian terkait perang dagang dan peningkatan tarif antara negara-negara besar seperti AS dan Uni Eropa turut mempengaruhi pasar saham global, termasuk Indonesia.
Dampak Penurunan IHSG terhadap Ekonomi Indonesia
Penurunan IHSG yang tajam memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Berikut adalah beberapa dampaknya:
- Penurunan Kepercayaan Investor: Anjloknya IHSG membuat investor, khususnya investor asing, menarik dana mereka. Hal ini tercermin dari penarikan modal asing yang mencapai Rp 26,92 triliun.
- Defisit APBN dan Penurunan Penerimaan Pajak: Membesarnya defisit APBN dan penurunan penerimaan pajak semakin memperburuk sentimen pasar, yang berpotensi memengaruhi kinerja ekonomi domestik.
- Pelemahan Rupiah: Penarikan modal asing juga menyebabkan pelemahan rupiah, yang dapat meningkatkan biaya impor dan menyebabkan inflasi.
- Meningkatnya Risiko Fiskal: Risiko fiskal semakin meningkat, dan penurunan kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah dapat memengaruhi stabilitas sistem keuangan.
- Dampak pada Konsumsi dan Investasi: Sentimen negatif ini dapat mempengaruhi konsumsi dan investasi masyarakat, yang pada gilirannya berdampak pada daya beli dan aktivitas ekonomi.
Dengan segala tantangan yang ada, IHSG yang anjlok ini memberikan gambaran tentang ketidakpastian ekonomi Indonesia, yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait untuk menstabilkan kondisi pasar dan ekonomi.
_____
Kontributor: Iqbal Khatami
