Peneliti KISP Soal Perubahan Format Debat Cawapres: KPU Tidak Logis

Peneliti Komite Independen Sadar Pemilu (KISP), Muhammad Iqbal Khatami menilai perubahan format debat cawapres pada Pemilu 2024 mendatang tidak logis.
“Di saat atmosfer dan antusiasme publik terhadap Pemilu 2024 sedang tinggi, terlihat dari banyaknya forum-forum adu gagasan capres-cawapres sejak sebelum masa kampanye kemarin. Di saat bersamaan KPU secara tidak logis mengubah format debat cawapres,” tutur Iqbal pada siaran langsung iNews Room pada Jumat (1/12)
Menurutnya, hal tersebut tidak logis karena seyogyanya baik capres dan cawapres seharusnya keduanya dapat dikenal publik secara lebih dalam terutama dalam hal gagasan keduanya. Apalagi, di Pemilu 2019 debat cawapres diadakan secara khusus.
Apalagi menurutnya dalam banyak wacana kehadiran cawapres sering dianggap sebagai pelengkap. “Tentu kita tidak ingin wacana dan anggapan ini semakin kuat dibenak publik yang menganggap bahwa cawapres tidak punya peran,” terang Iqbal.
Iqbal menambahkan seharusnya debat cawapres menjadi momen bagi publik untuk mengevaluasi sejauh mana calon wakil presiden dapat berkontribusi dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan bersama calon presiden. Tanpa adanya debat ini, pemilih memiliki keterbatasan informasi dan tolak ukur penilaian terhadap sosok cawapres.
“Sehingga, pasangan capres-cawapres dapat lebih dekat dengan publik secara visi dan gagasan ke depan, bukan sebatas dikenal publik karena hal-hal yang sifatnya simbolik,” tutup Iqbal
KPU Ubah Format Debat, Hilangkan Sesi Khusus Cawapres
Dikutip dari Kompas.com, debat head to head antar-Cawapres seperti lima tahun lalu ini, tak akan lagi kita jumpai di Pemilu 2024. Meski masih lima kali debat, namun format debat untuk calon wakil presiden berubah. Para capres tetap akan mendampingi dan mendapatkan porsi bicara di debat pilpres nanti.
Ketua KPU Hasyim Asy’ari menyebutkan calon presiden dan calon wakil presiden harus bersama-sama hadir dalam debat untuk menunjukkan kesatuan dan kekompakan di antara mereka kepada publik. Menurutnya, langkah itu merupakan perubahan dari format Pilpres 2019, yang kala itu tidak semua paslon hadir secara langsung di lokasi debat.
“Sehingga publik makin yakin dengan penampilan mereka pada saat debat,” kata Hasyim dikutip dari Tempo.com
Dalam pelaksanaannya, menurut Hasyim, proporsi bicara masing-masing capres dan cawapres tergantung pada agenda debat hari itu. Misalnya, debat calon presiden, proporsi bicara capres akan lebih banyak dibandingkan dengan cawapres.
