Bebas Aktif Mau Ke Mana? Ketika Luffy, Naruto, Aang, dan Iron Man Lebih Jelas Arahnya
Oleh: Dendy Raditya Atmosuwito

Pada 19 Februari 2026, Presiden Prabowo Subianto menandatangani sebuah kesepakatan dagang dengan Presiden Donald Trump di Washington. Dalam dokumen resmi Gedung Putih, hubungan kedua negara itu disebut sebagai alliance, lengkap dengan embel-embel visi new golden age yang terdengar seperti nama parfum mewah di duty free bandara.
Sebagaimana diulas dengan tajam oleh Virdika Rizky Utama di Arina.id, Indonesia berkomitmen menghapus hambatan tarif bagi lebih dari 99 persen produk Amerika Serikat, menerima standar regulasi federal Amerika di berbagai sektor, membebaskan perusahaan Amerika dari kewajiban komponen dalam negeri, hingga membuka akses mineral strategis. Amerika Serikat, di sisi lain, tetap mempertahankan tarif timbal balik 19 persen untuk produk Indonesia. Lalu dokumen Gedung Putih dengan bangga menyebut kesepakatan itu akan memperkuat supply chain Amerika untuk mineral kritis. Kalimat itu tidak menyebut satu patah kata pun tentang penguatan rantai pasok Indonesia.
Tentu saja ada yang akan berargumen: “Tapi kita butuh investasi! Kita butuh akses pasar!” Benar, kita butuh keduanya. Seperti orang lapar yang butuh makan. Tapi orang lapar yang waras tidak akan menukar seisi dapurnya demi sepiring nasi yang belum tentu datang tepat waktu.
Sebenarnya, kalua kita mau belajar soal membangun aliansi yang benar, yang klir tujuannya, yang jelas untung ruginya, dan yang setiap anggota paham mau melakukan apa, sebetulnya kita tidak perlu pergi jauh-jauh ke Jenewa atau Harvard Kennedy School. Cukup tengok dunia fiksi. Di sana, banyak contoh aliansi yang jelas arahnya.
Ambil contoh pertama: Aliansi Ninja-Bajak Laut-Mink-Samurai dalam One Piece. Aliansi epik ini terbentuk dari persatuan empat faksi besar yang sebelumnya tidak punya urusan satu sama lain. Kelompok Bajak Laut Topi Jerami pimpinan Monkey D. Luffy bersama Bajak Laut Hati pimpinan Trafalgar D. Water Law bergabung dengan Klan Mink dari Pulau Zou, para Samurai dari Wano Kuni di bawah pimpinan Kinemon, serta kelompok Ninja pimpinan Raizo dan Shinobu. Tujuannya satu dan jernih: menggulingkan Kaido dan Orochi, demi membebaskan Wano dari penindasan. Setiap faksi tahu perannya. Klan Mink bertempur dalam formasi Sulong saat bulan purnama. Para Samurai menyusup dan memimpin serangan darat. Bajak Laut Topi Jerami menghadapi para bos langsung. Tidak ada yang disuruh menyerahkan sumber dayanya dahulu baru boleh ikut rapat. Aliansi itu dibangun atas dasar kepentingan bersama yang nyata: kebebasan Wano Kuni.
Contoh kedua tak kalah mengagumkan. Pasukan Aliansi Shinobi dalam Naruto adalah koalisi besar yang menggabungkan lima desa besar ninja yang sebelumnya sering saling berperang. Konohagakure, Sunagakure, Kumogakure, Iwagakure, dan Kirigakure, termasuk negara Besi dengan pasukan Samurainya, bersatu membentuk pasukan raksasa demi menghadapi ancaman Akatsuki, Uchiha Madara, dan akhirnya Otsotsuki Kaguya dalam Perang Dunia Shinobi Keempat. Pembentukan aliansi ini didahului negosiasi panjang. Setiap desa mempertahankan otonominya. Setiap Kage tetap punya suara. Tidak ada satu desa pun yang diwajibkan mengubah prinsip jalan ninjanya demi menyenangkan desa tetangga. Mereka bergabung karena ancamannya nyata dan tujuannya konkret
Beralih ke dunia Avatar, ada yang namanya Invasions of the Fire Nation, sebuah operasi militer besar yang direncanakan oleh Aang, Sokka, Katara, Toph, dan sekutu mereka dari berbagai penjuru dunia. Pasukan yang terlibat mencakup pejuang Suku Air dari Kutub Selatan, Kerajaan Bumi, pemberontak Negara Api yang tidak setuju dengan rezim Raja Api Ozai, dan Suku Rawa Berkabut. Mereka menyerang ibukota Negara Api tepat saat gerhana matahari, ketika pengendali Api kehilangan kemampuan bending-nya. Rencananya matang, waktu pelaksanaannya diperhitungkan secara astronomis, dan setiap anggota aliansi hadir karena punya kepentingan langsung dalam mengakhiri perang seratus tahun. Tidak ada yang diminta melepas kedaulatan regulasi senjatanya terlebih dahulu sebelum boleh ikut menyerang.
Contoh terakhir, Pertempuran Bumi dalam Marvel Cinematic Universe, salah satu aliansi paling besar yang pernah ada di semesta fiksi. Avengers, termasuk Iron Man, Captain America, dan Thor, bergabung dengan Guardians of the Galaxy, prajurit Asgard pimpinan Valkyrie, pasukan Wakanda di bawah Raja T’Challa, para penyihir Masters of the Mystic Arts, dan seluruh faksi yang pernah dikalahkan Thanos dalam rangka membalikkan Blip. Setiap faksi datang dengan kemampuannya masing-masing. Kapasitas tempur mereka digabung secara strategis. Tidak ada satu anggota pun yang diminta menyerahkan batu infinitynya sebagai jaminan sebelum boleh ikut bertempur. Visinya sederhana tapi jelas: kembalikan setengah populasi alam semesta yang terhapus. Setelah pertempuran selesai, setiap faksi kembali ke urusan masing-masing tanpa kehilangan otonomi.
Pola dari keempat aliansi fiksi itu sangat jelas. Pertama, tujuannya konkret dan menguntungkan semua pihak. Kedua, otonomi setiap anggota dijaga, bukan dikikis. Ketiga, hubungan antar faksi dalam aliansi tersebut egaliter.
Kembali ke realitas kita. Sebagaimana diulas dalam tulisan Virdika Rizky Utama, kesepakatan Indonesia-Amerika Serikat bukan hanya soal tarif. Pengecualian perusahaan Amerika dari kewajiban komponen dalam negeri adalah pelepasan leverage industri. Penerimaan standar FDA, standar emisi kendaraan, dan moratorium permanen atas bea masuk transmisi elektronik adalah penyerahan arsitektur regulasi ke tangan asing secara sukarela. Dan ketika dokumen resmi Gedung Putih memakai kata “aliansi” tanpa klarifikasi strategis yang memadai, kita sedang berpindah dari “ambiguitas terkelola” menuju “keterikatan yang lebih jelas” dalam orbit Washington.
Politik bebas aktif sejatinya bukan berarti tidak mau berteman. Bukan berarti anti-Amerika atau anti-Tiongkok. Politik bebas aktif berarti kita yang menentukan dengan siapa duduk, kapan berdiri, dan ke mana melangkah, bukan sebaliknya. Seperti Luffy yang bergabung dalam Aliansi Ninja-Bajak Laut-Mink-Samurai tanpa melepas identitasnya sebagai kapten Topi Jerami. Seperti Naruto yang berdiri dalam Aliansi Shinobi tanpa Konoha harus mengubah jalan ninja mereka demi menyenangkan Raikage. Seperti Aang yang memimpin invasi tanpa harus terlebih dahulu menyerahkan upeti kepada Kerajaan Bumi dan Suku Air sebagai tanda itikad baik. Seperti Iron Man yang tidak harus tunduk pada Wakanda atau Asgard terlebih dahulu sebelum sama-sama menghadapi Thanos.
Kesadaran untuk tetap menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan besar adalah kunci agar kedaulatan kita tidak sekadar menjadi tulisan indah di buku teks sejarah. Aliansi yang bagus adalah aliansi yang membuat kamu lebih kuat setelah bergabung, bukan lebih bingung soal berapa persen kedaulatanmu yang masih tersisa. Sayangnya, dari aliansi terbaru yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto di Washington, pertanyaan terakhir itu masih belum terjawab dengan memuaskan. Dan selama pertanyaan itu belum terjawab, kita layak untuk terus mempertimbangkannya kembali.
