Mendorong Gen Z Menjadi Petani: Kunci Ketahanan Pangan dan Pembangunan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas

Oleh: Moch Edward Trias Pahlevi (Founder Muda Bicara ID)

Akhir-akhir ini, kita dikejutkan oleh data yang dirilis oleh BPS bahwa 9,9 juta Gen Z di Indonesia menganggur atau termasuk dalam istilah baru yakni NEET (Not in Education, Employment, or Training). Singkatan ini menggambarkan mereka yang tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan. Tentu saja, ini merupakan persoalan struktur sosial yang menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengurai. Jika tidak, maka kita akan menghadapi kekacauan dan minimnya produktivitas yang tinggi. Indonesia emas 2045? Dalam ancaman tentunya.

Mirisnya, fenomena NEET ini tertinggi terjadi di daerah pedesaan dengan proporsi 24,79%, sedangkan di perkotaan 20,40%. Fenomena NEET ini meningkat pasca pandemi yang sebelumnya hanya 21% di pedesaan, sekarang melonjak drastis. Mengapa desa menjadi wilayah yang banyak memproduksi pengangguran, padahal desa memiliki potensi yang cukup besar? Sebut saja desa menyimpan sumber daya alam yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, misalnya pertanian, perkebunan, perikanan, dan kelautan.

Apakah ada kesalahan konsep untuk mendorong Gen Z lebih produktif, misalnya dalam bidang pertanian? Pertanian memiliki potensi besar untuk mendorong ketahanan pangan sekaligus menjadi pencaharian bagi Gen Z. Namun, bidang pertanian kurang diminati oleh para anak muda. Menurut hasil riset JakPat, hanya 6 dari 100 generasi Z yang berminat bekerja di sektor ini. Survei tersebut mengungkapkan berbagai alasan mengapa generasi Z tidak berminat menggeluti pekerjaan di bidang pertanian. Mayoritas atau 36,3% responden menilai bidang ini tidak memberikan pengembangan karir.

Ngomongin isu pertanian, sesungguhnya ini adalah isu yang harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah karena pertanian telah menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia sejak dahulu. Namun, sektor ini mengalami tantangan besar dengan semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun ke dalamnya. Padahal, peran petani sangat vital dalam menjaga ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk mendorong generasi Z agar mau menjadi petani melalui berbagai pendekatan yang inovatif dan berkelanjutan. Penulis melihat ada lima pendekatan yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini, yakni:

  1. Transformasi Pertanian dengan Teknologi Untuk mendorong petani Zilenial, diperlukan inovasi oleh pemerintah. Salah satu cara efektif untuk menarik minat generasi muda ke sektor pertanian adalah dengan mengintegrasikan teknologi modern. Penggunaan teknologi seperti Internet of Things (IoT), drone, dan kecerdasan buatan (AI) dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian. Dengan teknologi ini, pertanian tidak lagi dilihat sebagai pekerjaan yang monoton dan melelahkan, tetapi sebagai sektor yang canggih dan penuh tantangan intelektual.
  2. Edukasi dan Pelatihan. Pendidikan dan pelatihan yang relevan sangat penting untuk membekali generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan di bidang pertanian. Program-program pelatihan yang fokus pada teknik pertanian modern, manajemen bisnis pertanian, dan pemasaran produk pertanian dapat memberikan wawasan baru bagi generasi muda. Perguruan tinggi dan lembaga pelatihan vokasional harus aktif mengembangkan kurikulum yang mengakomodasi perkembangan terbaru di sektor pertanian. Kurikulum berbasis proyek perlu dilakukan agar menarik minat Gen Z terkait lapangan pekerjaan dalam sektor pertanian, misalnya dengan mengadakan proyek kebun sekolah. Proyek ini membuat kebun sekolah di mana siswa dapat belajar menanam, merawat, dan memanen tanaman. Proyek penelitian pertanian melibatkan siswa dalam penelitian pertanian sederhana yang bisa mereka presentasikan kepada komunitas sekolah. Inovasi pendidikan ini perlu untuk menarik minat Gen Z yang dimulai dari sekolah.
  3. Meningkatkan Promosi dan Kampanye Sosial. Mengubah persepsi masyarakat tentang profesi petani sangat penting. Kampanye sosial yang menunjukkan keberhasilan dan kehidupan sejahtera para petani muda dapat menginspirasi lebih banyak anak muda untuk mengikuti jejak mereka. Media sosial, film dokumenter, dan kisah sukses petani muda dapat dijadikan alat untuk menyebarkan pesan positif tentang pertanian. Pendekatan berbasis komunitas juga diperlukan untuk menumbuhkan rasa keterlibatan Gen Z dalam pertanian, misalnya Community Farming: mengembangkan kebun komunitas di perkotaan yang melibatkan Gen Z dalam bercocok tanam dan pengelolaan lahan. Event sosial seperti pasar tani, festival panen, atau workshop urban farming yang melibatkan komunitas lokal juga dapat dilakukan.

Penulis mengidentifikasi tiga poin di atas yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk mendorong generasi muda untuk mau menjadi petani. Mendorong keterlibatan generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian adalah langkah strategis yang dapat memastikan ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Hal ini juga dapat membantu mengurangi pengangguran yang terjadi di Indonesia. Dengan pendekatan yang tepat, termasuk integrasi teknologi, pendidikan yang relevan, dukungan kebijakan, kampanye sosial, pengembangan pertanian berkelanjutan, dan kewirausahaan, kita dapat menarik minat generasi muda ke sektor pertanian. Generasi muda adalah harapan masa depan pertanian Indonesia, dan investasi dalam mereka adalah investasi untuk masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *